Saat ia berjalan, Ryker tidak bisa tidak memikirkan tentang skripsinya yang belum selesai. Ia sudah beberapa minggu tidak bisa menulis apa-apa, dan deadline sudah semakin dekat. Ryker merasa frustrasi dan putus asa, karena ia tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan skripsinya. Ia berhenti di depan perpustakaan dan memandang ke atas, membiarkan cahaya lampu jalan memancar ke wajahnya.
Ryker kemudian memasuki perpustakaan, yang terlihat sangat sunyi dan sepi. Ia menuju ke meja kerjanya yang biasa, dan duduk di atas kursi kayu yang terdengar berkretek saat ia duduk. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan laptopnya, lalu mulai menulis. Namun, kata-kata yang ia tulis terlihat kacau dan tidak berarti, dan Ryker merasa semakin frustrasi.
Tiba-tiba, Ryker mendengar suara di belakangnya. Ia menoleh dan melihat seorang gadis yang sedang berjalan menuju meja kerjanya. Gadis itu memiliki rambut merah yang panjang dan wajah yang cantik, dan Ryker tidak bisa tidak memandanginya. Ia merasa terpesona dan tidak bisa berpaling, sampai gadis itu duduk di meja kerjanya dan mulai menulis.
Ryker kemudian kembali ke laptopnya, dan mencoba menulis lagi. Namun, ia tidak bisa tidak memikirkan tentang gadis itu, dan bagaimana ia bisa berbicara dengannya. Ia merasa canggung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, namun ia tidak bisa tidak merasa tertarik pada gadis itu.
Ryker mencoba fokus pada layar laptopnya, tapi matanya terus saja tergoda untuk melirik ke arah gadis merah rambut itu. Ia merasa seperti terjebak dalam sebuah lingkaran setan, di mana ia ingin menulis, tapi tidak bisa karena terus memikirkan tentang gadis itu. Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan mendengarkan musik, tapi bahkan nada-nada musik favoritnya tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari gadis itu.
Setelah beberapa lama berusaha menulis, Ryker memutuskan untuk mengambil risiko dan mendekati gadis itu. Ia menutup laptopnya, mengambil napas dalam-dalam, dan berjalan menuju meja kerja gadis itu. Saat ia mendekati, gadis itu mengangkat kepala dan menatap Ryker dengan mata yang tajam. Ryker merasa seperti terkena petir, tapi ia tidak bisa tidak tersenyum ketika gadis itu balas tersenyum.
'Halo,' kata Ryker, berusaha terdengar santai. 'Aku Ryker. Aku tidak bisa tidak memperhatikan kamu dari tadi.' Gadis itu tertawa dan memperkenalkan dirinya sebagai Aria. Mereka berdua kemudian mulai berbicara tentang apa saja, dari hobi hingga impian masa depan. Ryker merasa seperti telah menemukan teman yang sudah lama dicarinya.
Saat malam semakin larut, Ryker dan Aria memutuskan untuk keluar dari perpustakaan dan berjalan-jalan di sekitar kampus. Udara malam yang sejuk dan bintang-bintang yang berkelap-kelip di atas langit membuat mereka merasa seperti berada di dalam sebuah dongeng. Mereka berbicara tentang segala hal, dari kekhawatiran hingga harapan, dan Ryker merasa seperti telah menemukan seseorang yang benar-benar mengerti dirinya.
Saat mereka berjalan, Ryker menyadari bahwa ia tidak pernah merasa begitu nyaman dengan seseorang sebelumnya. Ia merasa seperti telah menemukan sebuah bagian dari dirinya yang hilang, dan itu membuatnya merasa utuh. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi ia tahu bahwa ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Aria.
Ryker dan Aria akhirnya tiba di sebuah tempat yang terpencil di kampus, di mana mereka bisa melihat seluruh kota dari atas. Mereka duduk di sebuah bangku, dan Ryker merasa seperti telah menemukan tempat yang benar-benar miliknya. Ia memandang Aria, dan Aria memandangnya kembali, dengan mata yang penuh dengan emosi. Ryker tahu bahwa ia telah menemukan seseorang yang spesial, dan itu membuatnya merasa sangat bahagia.
'Aku senang aku bertemu denganmu,' kata Ryker, dengan suara yang bergetar. Aria tersenyum, dan Ryker bisa melihat air mata di mata gadis itu. 'Aku juga senang bertemu denganmu, Ryker,' kata Aria. 'Aku merasa seperti telah menemukan seorang teman yang benar-benar mengerti aku.' Ryker merasa seperti telah menemukan sebuah keajaiban, dan itu membuatnya merasa sangat bersyukur.
Ketika mereka duduk di bangku, menikmati keindahan kota di bawah, Ryker menyadari bahwa hidup tidak selalu tentang mencapai tujuan, tapi tentang perjalanan itu sendiri. Ia belajar bahwa kadang-kadang, yang kita cari sudah ada di depan mata kita, tapi kita terlalu sibuk untuk melihatnya. Ryker berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah melupakan momen ini, dan untuk selalu menghargai keindahan dalam kesederhanaan.
Hidup adalah tentang perjalanan, bukan hanya tentang tujuan. Jangan biarkan kesibukan membuat Anda melewatkan keindahan dan keajaiban yang sudah ada di depan mata Anda.