Malam itu, kampus terlihat sangat sepi. Lampu-lampu jalan yang biasanya terang benderang kini tylko menyala dengan lemah, memberikan kesan misterius pada suasana. Di tengah keheningan itu, seorang mahasiswa bernama Eryndor Thorne sedang berjalan menuju perpustakaan. Ia memakai kemeja putih yang terlihat agak kusam dan celana jeans yang sudah lama, tetapi matanya bersinar dengan semangat yang tak terhingga. Eryndor sedang menghadapi revisi skripsi yang berat, dan ia membutuhkan tempat yang tenang untuk memfokuskan pikirannya.
Saat ia memasuki perpustakaan, udara yang sejuk dan hening langsung menyambutnya. Eryndor mengambil napas dalam-dalam, merasakan ketenangan yang ia cari. Ia menuju ke meja yang biasa ia gunakan, meletakkan tas kanvasnya yang sudah mulai pudar warnanya di bagian bahu, dan duduk dengan postur yang tegak. Ia mengeluarkan laptop dan buku-buku yang ia bawa, dan mulai bekerja pada skripsinya.
Waktu berlalu dengan cepat, dan Eryndor tidak menyadari bahwa ia sudah bekerja selama berjam-jam. Ia hanya terfokus pada pekerjaannya, tidak memperhatikan apa yang terjadi di sekitarnya. Namun, ketika ia membutuhkan istirahat, ia melihat seorang gadis yang duduk di meja sebelahnya. Gadis itu memakai kacamata yang agak besar dan rambutnya yang panjang tergerai di atas meja. Eryndor merasa terkejut, karena ia tidak menyadari bahwa ada orang lain di perpustakaan.
Gadis itu mengangkat kepala dan melihat Eryndor, mereka bertatapan selama beberapa detik. Eryndor merasa canggung, tetapi gadis itu hanya tersenyum dan kembali memandang ke buku yang ia baca. Eryndor merasa lega dan kembali bekerja, tetapi ia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ia ingin berbicara dengan gadis itu. Ia tidak tahu apa yang membuatnya merasa demikian, tetapi ia merasa ada sesuatu yang spesial tentang gadis itu.
Saat malam semakin larut, Eryndor dan gadis itu akhirnya berbicara. Mereka membicarakan tentang skripsi, kuliah, dan kehidupan di kampus. Eryndor merasa sangat nyaman berbicara dengan gadis itu, dan ia tidak menyadari bahwa waktu sudah berlalu dengan cepat. Ia hanya tahu bahwa ia merasa sangat bahagia dan ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan gadis itu.
Namun, saat mereka berbicara, Eryndor menyadari bahwa ia tidak tahu nama gadis itu. Ia merasa canggung dan tidak tahu bagaimana cara mengajukan pertanyaan tentang nama. Ia hanya bisa memandang gadis itu dengan harapan bahwa ia akan mengatakan namanya secara spontan. Dan kemudian, gadis itu mengatakan namanya, 'Aria'. Eryndor merasa lega dan bahagia, karena ia akhirnya tahu nama gadis yang ia sukai.
Saat Aria menyebutkan namanya, Eryndor merasa seperti telah mendengar suara malaikat. Ia tidak bisa menyembunyikan senyum lebar di wajahnya, dan Aria pun tertawa melihatnya. Mereka berdua duduk di bangku taman kampus, di bawah cahaya bulan yang memancar lembut, membahas tentang hal-hal yang mereka sukai dan tidak sukai. Eryndor merasa seperti telah mengenal Aria seumur hidupnya, bukan hanya beberapa jam yang lalu. Mereka berbicara tentang impian, tentang harapan, dan tentang apa yang mereka inginkan dari kehidupan. Eryndor merasa nyaman, seperti telah menemukan seseorang yang benar-benar mengerti dirinya. Aria juga tampaknya merasakan hal yang sama, karena ia terus tertawa dan bersandar pada Eryndor, membuatnya merasa seperti telah menjadi bagian dari hidupnya. Malam itu terus berjalan, dan mereka tidak menyadari bahwa waktu telah berlalu begitu cepat. Suasana kampus yang sunyi dan damai membuat mereka merasa seperti berada di dunia lain, jauh dari kebisingan dan kekhawatiran dunia nyata. Ketika mereka berjalan melewati koridor yang gelap, Eryndor merasa seperti sedang berjalan di atas awan, dengan Aria di sampingnya. Ia tidak ingin malam ini berakhir, karena ia tahu bahwa besok akan membawa kenyataan yang keras dan mungkin akan memisahkan mereka. Namun, untuk sekarang, ia hanya ingin menikmati setiap detik yang mereka habiskan bersama. Saat mereka berhenti di depan perpustakaan tua, Aria menatap Eryndor dengan mata yang dalam, dan ia merasa seperti telah terserap ke dalamnya. 'Terima kasih sudah malam ini, Eryndor,' kata Aria, suaranya lembut dan penuh makna. 'Aku juga sangat menikmatinya, Aria,' jawab Eryndor, dengan suara yang hampir tidak terdengar. Mereka berdua berdiri di sana, saling menatap, seperti waktu telah berhenti. Kemudian, Aria mengangkat tangan dan menyentuh pipi Eryndor, membuatnya merasa seperti telah kehilangan kesadaran. 'Aku harus pergi sekarang,' kata Aria, dengan suara yang bergetar. Eryndor mengangguk, merasa seperti sedang mengucapkan selamat tinggal kepada bagian dari dirinya sendiri. Ketika Aria berbalik dan berjalan pergi, Eryndor merasa seperti telah ditinggalkan di tengah kehampaan. Ia menatap ke belakang, melihat Aria menghilang ke dalam kegelapan, dan merasa seperti telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Namun, ia juga tahu bahwa ia telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga - cinta. Dan dengan itu, Eryndor tersenyum, karena ia tahu bahwa ia akan menemukan Aria lagi, dan mereka akan melanjutkan malam yang belum selesai itu. Ia merasa lega, karena ia tahu bahwa cinta sejati tidak pernah berakhir, bahkan ketika waktu dan jarak mencoba memisahkan mereka. Eryndor kembali ke asrama, dengan hati yang penuh harapan dan cinta, siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang, karena ia tahu bahwa Aria akan selalu ada di sampingnya, dalam hati dan dalam mimpi.
Dan itu adalah pelajaran yang paling berharga dari malam itu: cinta sejati dapat membuat waktu dan jarak menjadi tidak berarti, dan bahwa ia akan selalu menjadi sumber kekuatan dan inspirasi bagi mereka yang berani untuk mem percayainya.
💡 Pesan Moral:
Cinta sejati dapat membuat waktu dan jarak menjadi tidak berarti, dan bahwa ia akan selalu menjadi sumber kekuatan dan inspirasi bagi mereka yang berani untuk mempercayainya.