Aku memasuki perpustakaan kampus, yang masih buka hingga malam, untuk mengerjakan tugas akhirku. Meja-meja kayu yang teratur rapi dan lemari buku yang menjulang tinggi menciptakan suasana yang nyaman dan tenang. Aku memilih meja di pojok, dekat jendela, sehingga aku dapat memandangi bulan purnama sambil bekerja. Suara halus dari halaman yang dibalik dan gesekan pensil pada kertas adalah satu-satunya suara yang mengganggu kesunyian.
Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki yang lembut dari belakang. Aku menoleh dan melihat seorang gadis dengan rambut panjang yang hitam dan mata yang indah, memakai kacamata dengan bingkai yang tipis. Ia memakai sebuah tas kanvas yang sudah mulai pudar warnanya di bagian bahu, dan sebuah buku tebal yang terbuka di tangannya. Ia tersenyum lembut ketika melihat aku, dan aku merasakan jantungku berdegup kencang.
'Boleh aku duduk di sini?' tanyanya, menunjuk ke kursi kosong di sebelahku. Aku mengangguk, dan ia duduk dengan lembut, memandangi buku yang ada di tangannya. Kami berdiam diri selama beberapa menit, hanya suara halaman yang dibalik dan gesekan pensil yang mengganggu kesunyian.
'Aku Kael,' kataku, memecahkan kesunyian. 'Aku sedang mengerjakan tugas akhirku.'
'Aku Lirien,' jawabnya, tersenyum lembut. 'Aku sedang membaca buku ini untuk kuliah sastra.' Kami berdua memulai percakapan, membahas tentang buku, tugas, dan kehidupan kampus. Suasana menjadi lebih hangat dan nyaman, dan aku merasakan seperti aku telah mengenal Lirien selama bertahun-tahun.
Waktu berlalu dengan cepat, dan sebelum aku menyadari, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Perpustakaan akan segera tutup, dan aku masih memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Lirien dan aku berpisah, dengan janji untuk bertemu lagi di kampus. Aku menontonnya pergi, memandangi bayangan pohon-pohon yang menjulang tinggi, dan bulan purnama yang masih menggantung di langit.
Aku kembali ke meja belajarku, mencoba untuk fokus pada pekerjaan yang masih menumpuk. Namun, pikiranku terus kembali ke Lirien, ke cara dia tersenyum, ke cara dia berbicara tentang buku-buku favoritnya. Aku tidak bisa membantu tetapi merasa seperti aku telah menemukan seseorang yang sangat spesial.
Waktu berlalu dengan perlahan, dan aku akhirnya selesai dengan pekerjaanku. Perpustakaan mulai tutup, dan aku mengumpulkan barang-barangku. Saat aku keluar dari perpustakaan, aku melihat Lirien menungguku di luar, duduk di tangga perpustakaan dengan buku di tangannya.
'Aku pikir kita bisa berjalan-jalan sejenak,' katanya, tersenyum. 'Malam ini sangat indah, dan aku tidak ingin pulang ke asrama sekarang.' Aku setuju, dan kita berjalan-jalan di sekitar kampus, menikmati keheningan malam dan cahaya bulan yang masih menggantung di langit.
Kita berbicara tentang banyak hal, dari buku-buku favorit kita hingga impian dan harapan kita. Aku merasa seperti aku telah mengenal Lirien selama bertahun-tahun, bukan hanya beberapa jam. Kita berbagi tawa dan kesenangan, dan aku merasa seperti aku telah menemukan teman sejati.
Saat kita berjalan, aku menyadari bahwa kampus ini tidak lagi terasa sunyi dan sepi. Dengan Lirien di sampingku, aku merasa seperti aku telah menemukan tempat yang lebih hangat dan nyaman. Aku tidak lagi merasa seperti aku sendirian di kampus ini.
Malam itu, kita berhenti di sebuah tempat di kampus yang menghadap ke danau. Kita duduk di atas rumput, menikmati keheningan malam dan cahaya bulan yang masih menggantung di langit. Aku merasa seperti aku telah menemukan tempat yang sangat spesial, tempat di mana aku bisa menjadi diri sendiri.
'Aku sangat senang bertemu denganmu,' kata Lirien, tersenyum. 'Aku merasa seperti aku telah menemukan sahabat sejati.' Aku tersenyum kembali, merasa seperti aku telah menemukan sesuatu yang sangat berharga. 'Aku juga senang bertemu denganmu,' kataku. 'Aku merasa seperti aku telah menemukan tempat yang lebih hangat dan nyaman di kampus ini.'
Kita duduk di sana untuk beberapa saat, menikmati keheningan malam dan cahaya bulan. Aku merasa seperti aku telah menemukan sesuatu yang sangat spesial, sesuatu yang akan membuatku tetap berada di kampus ini dengan bahagia.
Persahabatan dan cinta dapat membuat hidup kita lebih berwarna dan bahagia, dan kita tidak pernah tahu kapan kita akan menemukan sesuatu yang sangat spesial.