Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki yang lembut, menghampiri meja kerjanya. Ia menoleh, dan melihat seorang gadis dengan rambut panjang yang berwarna coklat, dan mata yang berwarna hijau. Ia mengenakan jumper merah yang tebal, dan celana panjang yang berwarna abu-abu. Ia membawa sebuah tas kanvas yang besar, dan sebuah buku teks yang tebal. Ia memandang Zayn dengan senyum yang lembut, dan berkata, 'Halo, saya Akira. Saya melihat Anda duduk sendirian, jadi saya ingin bergabung dengan Anda.'
Zayn terkejut, tetapi ia menyambut Akira dengan senyum yang lembut. Mereka berdua mulai berbicara, tentang hidup, tentang mimpi, dan tentang harapan. Zayn merasa bahwa ia telah menemukan seseorang yang bisa mengerti dirinya, seseorang yang bisa berbagi perasaan dan pikiran dengan dia. Ia merasa bahwa ia telah menemukan teman, atau bahkan lebih dari itu.
Namun, ketika mereka berdua semakin dekat, Zayn mulai merasa bahwa ia harus mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. Ia harus mengatakan bahwa ia sudah lama menyukai Akira, tetapi ia takut bahwa Akira akan menolaknya. Ia takut bahwa persahabatan mereka akan hancur, dan bahwa ia akan kehilangan seseorang yang sangat berarti bagi dirinya.
Zayn masih belum bisa mengambil keputusan, tentang apa yang harus ia lakukan. Ia masih belum bisa mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya, dan ia masih belum bisa mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Tetapi ia tahu, bahwa ia harus berani, dan bahwa ia harus mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.
Zayn memutuskan untuk mengambil langkah pertama, yaitu dengan mengunjungi Akira di perpustakaan kampus. Ia ingin melihat Akira sekali lagi, dan berharap bahwa ia dapat menemukan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Ketika ia tiba di perpustakaan, ia melihat Akira duduk sendirian di meja belajar, sibuk membaca buku. Zayn memutuskan untuk mendekati Akira, dan ketika ia tiba di meja belajar, Akira menengadah dan tersenyum. Zayn merasa jantungnya berdegup kencang, dan ia berusaha untuk tetap tenang. 'Hai, apa yang kamu lakukan di sini?' tanya Zayn, berusaha untuk terdengar santai. Akira menjawab, 'Aku sedang mempersiapkan tugas besar, aku harus menyelesaikannya sebelum deadline.' Zayn mengangguk, dan kemudian ia duduk di sebelah Akira. Mereka berdua duduk dalam diam untuk beberapa saat, hanya suara halaman buku yang bergerak yang terdengar. Zayn merasa bahwa ia harus mengambil kesempatan ini untuk mengungkapkan perasaannya, tetapi ia masih ragu-ragu. Ia takut bahwa Akira akan menolaknya, dan ia takut bahwa persahabatan mereka akan hancur. Namun, ia juga tahu bahwa ia tidak bisa terus-menerus menyembunyikan perasaannya. Zayn memutuskan untuk mengambil napas dalam-dalam, dan kemudian ia memulai percakapan. 'Akira, aku ingin berbicara denganmu tentang sesuatu,' kata Zayn, berusaha untuk terdengar serius. Akira menengadah, dan ia memandang Zayn dengan penasaran. 'Apa itu?' tanya Akira. Zayn berhenti sejenak, dan kemudian ia melanjutkan. 'Aku hanya ingin mengatakan bahwa... aku sangat menyukaimu, Akira.' Zayn merasa jantungnya berdegup kencang, dan ia berharap bahwa Akira akan menerima perasaannya. Akira memandang Zayn dengan terkejut, dan kemudian ia tersenyum. 'Aku juga menyukaimu, Zayn,' kata Akira, dengan suara yang lembut. Zayn merasa bahwa ia telah mendengar sesuatu yang sangat indah, dan ia merasa bahwa ia telah menemukan kebahagiaan sejati. Mereka berdua kemudian berpelukan, dan Zayn merasa bahwa ia telah menemukan tempat yang tepat untuknya. Zayn dan Akira kemudian membicarakan tentang masa depan mereka, dan mereka berdua berharap bahwa mereka dapat melalui semua tantangan yang akan mereka hadapi. Zayn merasa bahwa ia telah menemukan seseorang yang sangat berarti bagi dirinya, dan ia berharap bahwa mereka dapat bersama selamanya.
Pada akhirnya, Zayn menyadari bahwa mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya adalah keputusan yang tepat, karena ia telah menemukan kebahagiaan sejati dan seseorang yang sangat berarti bagi dirinya.
Mengungkapkan perasaan yang sebenarnya dapat membawa kebahagiaan sejati, tetapi juga memerlukan keberanian dan ketulusan.