Ia memikirkan cara pria itu tersenyum, membuatnya merasa seperti tidak bisa bernapas. Ia memikirkan cara pria itu berbicara, membuatnya merasa seperti ingin mendengar lebih banyak. Ia memikirkan cara pria itu memandangnya, membuatnya merasa seperti ingin tersenyum selamanya.
Aurora berdiri dari tempat duduknya, mengambil tas kanvas yang sudah mulai pudar warnanya di bagian bahu. Ia memasukkan beberapa buku dan laptop ke dalam tas, kemudian memeriksa apakah ia telah membawa semua yang dibutuhkan. Ia memikirkan tentang skripsinya yang belum selesai, tentang revisi yang harus dilakukan, tentang deadline yang semakin dekat.
Ia berjalan keluar dari kosannya, menuju perpustakaan kampus yang masih buka. Udara malam membuatnya merasa sedikit canggung, tetapi ia tetap berjalan, memandang ke depan. Ia memikirkan tentang pria itu, tentang cara ia membuatnya merasa, tentang cara ia membuatnya tersenyum.
Saat ia tiba di perpustakaan, ia melihat pria itu duduk di meja yang sama, membaca buku yang sama. Ia merasa seperti tidak bisa bernapas, seperti tidak bisa berpikir. Ia hanya bisa memandang pria itu, memandang senyumnya, memandang matanya.
Pria itu memandangnya, kemudian tersenyum. Aurora merasa seperti tidak bisa berdiri, seperti tidak bisa berjalan. Ia hanya bisa memandang pria itu, memandang senyumnya, memandang matanya. Ia merasa seperti telah jatuh cinta, seperti telah menemukan sesuatu yang sangat berharga.
Aurora berjalan mendekati pria itu, memandangnya dengan mata yang terbuka lebar. Pria itu memandangnya, kemudian berbicara, 'Hai, aku Kaid. Aku tidak pernah membayangkan kita akan bertemu lagi.'
Aurora tersenyum, merasa seperti telah menemukan sesuatu yang sangat berharga. Ia memandang Kaid, memandang senyumnya, memandang matanya. Ia merasa seperti telah jatuh cinta, seperti telah menemukan sesuatu yang sangat berharga.
Aurora merasa seolah-olah waktu telah berhenti, dan satu-satunya yang ada di dunia ini hanya dia dan Kaid. Mereka berdiri di tengah malam yang sunyi, dengan cahaya bulan yang memancar lembut di atas mereka. Kaid mengambil langkah mundur, memandang Aurora dengan mata yang penuh tanda tanya. 'Apa yang terjadi?' tanyanya, suaranya lembut dan penuh kehati-hatian. Aurora menggelengkan kepala, mencoba menghilangkan kebingungan yang memenuhi pikirannya. 'Aku tidak tahu,' jawabnya, suaranya hampir tidak terdengar. Kaid mengambil langkah maju, memandang Aurora dengan mata yang semakin dekat. 'Kamu terlihat seperti telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga,' katanya, suaranya penuh dengan kepedulian. Aurora merasa seolah-olah Kaid dapat melihat jauh ke dalam hatinya, dapat merasakan kesedihan yang telah memenuhi dirinya selama ini. Ia merasa seolah-olah telah menemukan seseorang yang dapat memahami dirinya, seseorang yang dapat merasakan kesedihan dan kehilangan yang sama. Mereka berdiri di sana, memandang satu sama lain, dengan cahaya bulan yang memancar lembut di atas mereka. Dan dalam ketenangan malam itu, Aurora merasa seolah-olah telah menemukan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang dapat membuatnya melupakan kesedihan dan kehilangan yang telah memenuhi dirinya selama ini.
Hari-hari berlalu, dan Aurora serta Kaid semakin dekat. Mereka menghabiskan waktu bersama, berjalan-jalan di sekitar kampus, berbicara tentang impian dan harapan mereka. Aurora merasa seolah-olah telah menemukan teman sejati, seseorang yang dapat memahami dan merasakan kesedihan dan kehilangan yang sama. Dan Kaid, dengan senyumnya yang lembut dan mata yang penuh kepedulian, membuat Aurora merasa seolah-olah telah menemukan cinta sejati.
Tapi, seperti semua hal yang indah, kesenangan ini tidak dapat bertahan lama. Suatu malam, saat mereka berjalan-jalan di sekitar kampus, Kaid tiba-tiba berhenti dan memandang Aurora dengan mata yang serius. 'Aku memiliki sesuatu yang harus aku katakan kepadamu,' katanya, suaranya penuh dengan kehati-hatian. Aurora merasa seolah-olah hatinya telah berhenti, memandang Kaid dengan mata yang penuh tanda tanya. 'Apa itu?' tanyanya, suaranya hampir tidak terdengar. Kaid mengambil napas dalam-dalam, memandang Aurora dengan mata yang penuh dengan kesedihan. 'Aku harus pergi,' katanya, suaranya penuh dengan keputusasaan. Aurora merasa seolah-olah telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang dapat membuatnya melupakan kesedihan dan kehilangan yang telah memenuhi dirinya selama ini. Ia memandang Kaid, memandang senyumnya yang lembut dan mata yang penuh kepedulian, dan merasa seolah-olah telah kehilangan cinta sejati.
Tapi, meskipun dengan kesedihan dan kehilangan, Aurora sadar bahwa cinta sejati tidak pernah meninggalkan, tidak pernah berhenti. Cinta sejati adalah tentang memahami, tentang merasakan, tentang memiliki. Dan Aurora, dengan hati yang penuh dengan kesedihan dan kehilangan, tahu bahwa ia akan selalu memiliki Kaid, akan selalu memiliki cinta sejati yang mereka bagikan. Dan dalam kesadaran itu, Aurora merasa seolah-olah telah menemukan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang dapat membuatnya melupakan kesedihan dan kehilangan yang telah memenuhi dirinya selama ini.
Cinta sejati tidak pernah meninggalkan, tidak pernah berhenti. Cinta sejati adalah tentang memahami, tentang merasakan, tentang memiliki.