Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki di belakangku. Aku menoleh dan melihat seorang gadis dengan rambut panjang dan Hitam, ia memakai kacamata dan membawa tas kuliah yang besar. Ia duduk di sebelahku dan memandangi ke arah yang sama dengan aku. Kami tidak berbicara, namun aku merasa sangat nyaman dengan kehadirannya.
Setelah beberapa lama, gadis itu berbicara. 'Aku suka duduk di tempat seperti ini,' katanya. 'Aku merasa bisa berpikir dengan jernih dan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.' Aku setuju dengan pendapatnya dan kami mulai berbicara tentang berbagai hal, dari kuliah hingga musik dan film.
Kami berbicara selama beberapa jam, hingga lampu sorot mulai dipadamkan dan mahasiswa-mahasiswa mulai meninggalkan lapangan basket. Aku merasa sangat menyesal karena malam itu harus berakhir, namun pada saat yang sama, aku merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan gadis itu.
Sebelum kami berpisah, gadis itu memberiku selembar kertas dengan nomor teleponnya. 'Aku ingin kita bertemu lagi,' katanya. Aku tersenyum dan mengambil kertas itu, merasa sangat gembira dan berharap bisa bertemu dengan gadis itu lagi suatu hari nanti.
Aku memasukkan kertas itu ke dalam saku celana ku, merasa seperti menyimpan harta karun. Gadis itu tersenyum dan berbalik, meninggalkan aku sendirian di lapangan basket yang kini sudah sepi. Aku mengambil napas dalam-dalam, mencoba menghayati momen itu. Malam itu, bintang-bintang di langit terlihat lebih berkilau daripada biasanya, seolah-olah mereka juga ikut bergembira atas pertemuan kami. Aku tersenyum, merasa seperti sedang berjalan di atas awan.
Hari-hari berikutnya, aku tidak bisa berhenti memikirkan gadis itu. Aku bertanya-tanya tentang namanya, hobi apa yang dia sukai, dan apa yang dia inginkan dari hidup. Aku merasa sangat penasaran, namun pada saat yang sama, aku juga merasa takut. Takut bahwa aku tidak cukup baik untuknya, takut bahwa aku tidak bisa membuatnya bahagia. Aku mencoba menghilangkan pikiran-pikiran itu, namun mereka terus-menerus menghantui aku.
Akhirnya, setelah beberapa hari, aku memutuskan untuk menghubungi gadis itu. Aku mengambil kertas itu dari saku celana ku dan memasukkan nomor teleponnya ke dalam ponsel ku. Aku menunggu beberapa detik, merasa seperti sedang menunggu keputusan hidup atau mati. Lalu, aku mendengar suara gadis itu di ujung telepon. 'Halo?' katanya. Aku tersenyum, merasa seperti sedang berada di atas awan lagi. 'Halo,' aku menjawab, mencoba terdengar santai. 'Aku senang kamu menghubungi aku,' katanya. Aku merasa seperti sedang mendengar musik, suara yang paling indah di dunia.
Kami berbicara selama beberapa jam, membicarakan tentang segala hal. Aku merasa seperti sedang membuka jiwaku, membiarkan gadis itu melihat siapa aku sebenarnya. Dan aku juga merasa seperti sedang melihat jiwanya, memahami apa yang dia inginkan dari hidup. Aku merasa sangat dekat dengannya, seolah-olah kami sudah kenal selama bertahun-tahun.
Malam itu, aku merasa seperti sedang berada di dalam mimpi. Aku tidak ingin bangun, tidak ingin kembali ke kenyataan. Tapi, aku tahu bahwa aku harus. Aku harus menghadapi kenyataan, menghadapi apa yang akan terjadi di masa depan. Aku merasa takut, namun pada saat yang sama, aku juga merasa siap. Siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi, siap untuk memperjuangkan cinta kami.
Cinta bisa datang secara tidak terduga, dan kita harus siap untuk menerimanya dan memperjuangkannya