Riven berjalan kembali ke asramanya dengan pikiran yang dipenuhi dengan pertanyaan tentang bagaimana harus mengungkapkan perasaannya kepada Lylah. Ia merasa takut akan kemungkinan ditolak, tetapi seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya terus-menerus. Saat ia memasuki kamar asramanya, ia melihat beberapa teman sekamarnya yang sedang belajar atau menonton film, tetapi Riven tidak memiliki niat untuk bergabung dengan mereka. Ia lebih memilih untuk duduk di meja belajarnya, mencoba untuk memikirkan tentang apa yang harus dilakukan. Ia mengambil selembar kertas dan mulai menulis surat untuk Lylah, mencoba untuk mengungkapkan perasaannya dengan cara yang paling tulus. Setelah beberapa jam, Riven akhirnya selesai menulis surat itu, tetapi ia masih ragu-ragu untuk memberikannya kepada Lylah. Ia takut bahwa Lylah akan merasa tidak nyaman atau bahkan marah. Riven memutuskan untuk menunggu sampai pagi hari berikutnya, berharap bahwa ia akan memiliki keberanian yang cukup untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung. Keesokan paginya, Riven sarapan dengan perasaan yang campur aduk, antara takut dan berharap. Ia memutuskan untuk mencari Lylah di perpustakaan, tempat mereka sering bertemu untuk belajar bersama. Saat ia memasuki perpustakaan, ia melihat Lylah duduk di meja favorit mereka, sibuk membaca buku. Riven mengambil napas dalam-dalam dan berjalan menuju Lylah, memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung. 'Lylah, bisa kita bicara sebentar?' tanya Riven, berusaha untuk terdengar tenang. Lylah menatap Riven dengan sorot mata yang penasaran, 'Tentu, apa yang terjadi?' Riven mengambil surat yang telah ia tulis semalam, 'Aku ingin memberikan ini kepada kamu,' katanya, 'Ini tentang perasaanku, tentang kita.' Lylah menerima surat itu dengan ekspresi yang tidak terduga, 'Aku akan membacanya,' katanya, 'Tapi aku ingin kamu tahu, Riven, aku juga memiliki perasaan yang sama.' Riven merasa seperti telah menerima kejutan besar, 'Benarkah?' tanyanya, tidak percaya. Lylah mengangguk, 'Ya, aku menyukaimu, Riven.' Riven merasa bahwa seluruh dunianya telah berubah dalam sekejap, 'Aku juga menyukaimu, Lylah,' katanya, 'Aku sangat bahagia.' Mereka berdua berpelukan, merasakan kebahagiaan yang tak terhingga. Riven menyadari bahwa ia telah menemukan teman sejati, dan juga cinta sejatinya. Mereka berdua keluar dari perpustakaan, siap untuk menghadapi masa depan bersama, di bawah lampu sorot kampus yang menyinari mereka dengan hangat.
Cinta sejati dapat ditemukan di tempat yang tidak terduga, dan keberanian untuk mengungkapkan perasaan dapat membawa kebahagiaan yang tak terhingga.