Aku masih ingat ketika aku pertama kali bertemu dengannya, di perpustakaan kampus, diantara rak-rak buku yang tinggi. Ia sedang mencari buku tentang sastra, dan aku sedang mencari buku tentang filsafat. Kami bertemu di lorong yang sama, dan aku tidak sengaja menabraknya, membuat buku-buku jatuh ke lantai. Ia tertawa, dan aku juga tertawa, merasakan ada kecocokan yang aneh. Kami membantu satu sama lain mengumpulkan buku-buku, dan kemudian kami duduk bersama, membahas tentang buku-buku yang kami sukai.
Hari-hari berlalu, dan kami semakin dekat. Kami sering bertemu di taman kampus, membahas tentang impian dan ketakutan kami. Ia menjadi pendengar yang baik, dan aku menjadi pendengar yang baik baginya. Kami saling mendukung, dan kami saling memahami. Aku merasa aku telah menemukan teman yang sejati, dan aku yakin ia juga merasakan hal yang sama.
Tapi, ada saatnya ketika kami harus berpisah. Ia harus pergi ke luar kota untuk mengikuti program pertukaran pelajar, dan aku harus menyelesaikan skripsi. Kami berjanji untuk tetap berhubungan, tapi aku tahu bahwa jarak dan waktu akan membuat kami semakin jauh. Aku merasa sedih, tapi aku juga merasa bangga, karena aku tahu bahwa ia telah menjadi bagian dari hidupku, dan aku telah menjadi bagian dari hidupnya.
Aku masih ingat hari itu, ketika ia berangkat ke luar kota. Aku mengantar ia ke stasiun, dan kami berdiri di peron, menatap matahari terbenam yang memancar di balik jendela kaca stasiun. Kami tidak banyak berbicara, hanya menikmati kesunyian dan keberadaan satu sama lain. Ia memegang tanganku, dan aku merasa getaran di jantungku. Aku tahu bahwa ini adalah momen yang tidak akan pernah terlupakan. Kami berjanji untuk tetap berhubungan, dan aku memberikan ia sebuah kotak kecil yang berisi foto kami bersama. Ia tersenyum, dan aku melihat air mata di matanya. Aku juga merasa sedih, tapi aku berusaha untuk tidak menunjukkannya. Aku ingin ia tahu bahwa aku kuat, dan bahwa aku akan menunggunya.
Setelah ia pergi, aku merasa sepi. Aku kembali ke kampus, dan aku melanjutkan skripsiku. Tapi, aku tidak bisa fokus. Aku terus memikirkan ia, dan aku merasa kosong tanpa keberadaannya. Aku mencoba untuk menghubunginya, tapi ia tidak menjawab. Aku merasa cemas, dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya bisa menunggu, dan berharap bahwa ia akan segera menghubungiku.
Hari-hari berlalu, dan aku masih belum mendengar kabar dari ia. Aku mulai merasa putus asa, dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku mencoba untuk fokus pada skripsiku, tapi aku tidak bisa. Aku terus memikirkan ia, dan aku merasa bahwa aku kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi aku tahu bahwa aku harus terus maju. Aku harus percaya bahwa ia akan kembali, dan bahwa kami akan tetap bersama.
Aku duduk di bangku taman kampus, menatap senja yang memancar di langit. Aku merasa sedih, tapi aku juga merasa damai. Aku tahu bahwa aku telah menemukan teman yang sejati, dan bahwa ia telah menjadi bagian dari hidupku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi aku tahu bahwa aku akan selalu mengingat ia, dan bahwa aku akan selalu mencintainya.
Persahabatan dan cinta yang tulus dapat mengatasi jarak dan waktu, dan bahwa kepercayaan dan kesabaran dapat membawa kita kepada kebahagiaan yang sebenarnya.