Kieran dan Aethon semakin dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Mereka berdua memiliki banyak kesamaan dan Kieran merasa bahwa ia telah menemukan teman yang sejati. Namun, Kieran juga merasa bahwa ia memiliki perasaan yang lebih dalam terhadap Aethon, dan ia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Ia berpikir bahwa ia harus menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya, tetapi ia juga takut bahwa ia akan kehilangan kesempatan jika ia tidak berani mengungkapkannya.
Suatu hari, ketika Kieran dan Aethon sedang berjalan di kampus, mereka bertemu dengan Lirien, mantan pacar Kieran. Kieran merasa tidak nyaman dan berusaha untuk menghindari Lirien, tetapi Aethon memperkenalkan dirinya dan mereka berdua akhirnya berbicara. Kieran merasa bahwa ia telah melangkah maju dan ia tidak lagi memikirkan Lirien. Ia merasa bahwa ia telah menemukan seseorang yang baru dan lebih baik, dan ia berharap bahwa ia dapat mengungkapkan perasaannya kepada Aethon.
Kieran dan Aethon semakin dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Mereka berdua memiliki banyak kesamaan dan Kieran merasa bahwa ia telah menemukan teman yang sejati. Namun, Kieran juga merasa bahwa ia memiliki perasaan yang lebih dalam terhadap Aethon, dan ia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Ia berpikir bahwa ia harus menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya, tetapi ia juga takut bahwa ia akan kehilangan kesempatan jika ia tidak berani mengungkapkannya.
Kieran masih belum tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi ia yakin bahwa ia akan menemukan jawabannya dengan berani mengungkapkan perasaannya. Ia berharap bahwa ia dapat mengungkapkan perasaannya kepada Aethon dan memulai hubungan yang baru. Kieran berpikir bahwa ia harus berani mengungkapkan perasaannya, karena ia tidak ingin menyesali dirinya sendiri jika ia tidak berani mengungkapkannya.
Kieran mengambil napas dalam-dalam dan memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Aethon. Ia berjalan menuju perpustakaan, tempat Aethon biasanya belajar di malam hari. Ketika ia tiba di perpustakaan, ia melihat Aethon duduk sendirian di meja belajar, membaca buku dengan mata yang tajam. Kieran merasa jantungnya berdegup kencang ketika ia mendekati meja Aethon. 'Hey, Aethon,' kata Kieran, mencoba untuk terdengar santai. Aethon mengangkat kepala dan tersenyum, 'Hey, Kieran. Apa yang kamu lakukan di sini?' Kieran duduk di seberang Aethon dan memandang matanya, mencoba untuk menemukan kata-kata yang tepat. 'Aku... aku ingin berbicara denganmu tentang sesuatu,' kata Kieran, suaranya sedikit bergetar. Aethon menutup bukunya dan memandang Kieran dengan rasa penasaran, 'Tentang apa?' Kieran mengambil napas dalam-dalam lagi dan memulai, 'Aku telah merasa sesuatu yang aneh belakangan ini. Aku merasa bahwa aku memiliki perasaan yang lebih dari persahabatan terhadapmu.' Aethon tidak mengatakan apa-apa, tapi Kieran dapat melihat kejutan di matanya. 'Aku tahu ini mungkin terdengar aneh, tapi aku tidak bisa menyangkal perasaan ini lagi,' lanjut Kieran, hatinya berdegup kencang. Aethon membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar. Kieran merasa cemas, tidak tahu apa yang Aethon akan katakan. Tapi kemudian, Aethon tersenyum tipis dan mengatakan, 'Aku juga memiliki perasaan yang sama, Kieran.' Kieran merasa jantungnya melompat keluar dari dadanya. Ia tidak percaya apa yang baru saja didengarnya. 'Benar?' tanya Kieran, suaranya hampir tidak terdengar. Aethon mengangguk, 'Benar. Aku telah menyukaimu untuk waktu yang lama, tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya.' Kieran merasa bahagia yang tidak terkatakan. Ia tidak percaya bahwa Aethon juga memiliki perasaan yang sama. Mereka berdua duduk di sana untuk beberapa saat, hanya memandang mata each other, tanpa kata-kata yang perlu diucapkan.
Kieran dan Aethon akhirnya memutuskan untuk mulai berjalan-jalan di sekitar kampus, menikmati malam yang tenang dan indah. Mereka berbicara tentang segala hal, dari hobinya hingga impian masa depan. Kieran merasa bahwa ia telah menemukan seseorang yang benar-benar memahaminya.
Saat mereka berjalan, Kieran menyadari bahwa ia tidak perlu takut untuk mengungkapkan perasaannya. Ia telah menemukan bahwa kejujuran dan keberanian dapat membawa kesempatan yang indah. Ia juga menyadari bahwa perasaan yang ia rasakan tidaklah salah, dan bahwa ia memiliki hak untuk merasakan dan mengekspresikan perasaannya.
Malam itu, Kieran dan Aethon berbagi ciuman pertama mereka di bawah bintang-bintang, dengan kampus yang sunyi sebagai saksi bisu. Kieran merasa bahwa ia telah menemukan cinta sejatinya, dan bahwa ia tidak akan pernah menyesali keputusannya untuk mengungkapkan perasaannya.
Keberanian untuk mengungkapkan perasaan dan kejujuran dapat membawa kesempatan yang indah dalam kehidupan.