Cerpen Ibu :Surat untuk Malaikat Penjagaku Kaulah Ibu

Sahabat pesona dalam cerpen ini ada banyak syair indah di dalamnya ,smua terkait dengan ibu sahabat.
Ibu ..., Ibuku ...

ingin rasanya saat ini aku uraikan semua perasaanku terhadapmu ...
hampir 5 tahun berlalu, namun seperti biasanya ...., aku tak pernah merasa kau pergi dariku ...
tapi ternyata ... yang sanggup membuat itu nyata dan memukulku adalah malam ...
malam yang selalu berbicara tentang kesadaran, dan penjernihan hatiku ....


Bisakah kau lihat aku di sini bu?
aku memiliki kepingan - kepingan mutiara yang telah lama aku rindu yg sempat ku ungkap padamu ....
dan jiwa itu ..., yang dulu pernah ku mohonkan restumu ..
namun bisa Kau lihat dan saksikan bahwa Allah telah menggantikan semua itu dengan yang lebih baik ..
Alhamdulillah ...

terlintas bayangmu dalam Kenangku ...
bibir tipis yang manis dan mata indah yg hampir tak pernah murahkan air mata kecuali jika aku sakit ..
kau selalu berpesan ...
apakah masih terlihat kelemahan itu bu?
keterbatasan yang dulu pernah melekat dengan diriku ...
yang selalu menjadi kekhawatiranmu ...
insya Allah tidak,

aku selalu belajar dengan kebaikkanmu ..
aku selalu mencoba memahami kesabaran dengan pengertian yang kau ajarkan padaku ...
dan aku bertahan dengan kesetiaan yang kadang menyakiti diriku dengan jujurmu ..

aku tahu, kau bukan makhluk Allah yang Sempurna di mata dunia ...
Tapi yg aku faham, kau adalah Ibu yang Mulia bagiku ...

mungkin beribu tetes tinta yang akan ku tuangkan dengan penaku ...
tak akan sanggup menguak segala "kebesaran" jiwamu ...
tak akan mampu mengekspresikan segala "kelapangan" hatimu ...

dan tak akan bisa menghentikkan bulir - bulir bening air mataku ...


Kehidupan ini memang keras bu,
namun sungguh jangan khawatirkan jiwa kecilmu ...
karena dengan sungguh pula ia percaya bahwa Allah telah mengutuhkan tekadnya ..
dan memperkuat niatnya ...

maafkan aku bu,
jika sampai detik ini, dengan segala upayaku aku tak dapat mendekap penjagaanku untuk putra mahkotamu ..
maafkan aku,
jika air matamu tak dapat ku ganti dengan senyuman kebanggaan yang ingin ku pandang saat ini ...
tapi dalam batas kesanggupanku ..., sungguh aku berusaha sekuat yang aku mampu dan aku bisa ...
bukankah aku bukan putri kecilmu yang manja?


Ibu ...
rasanya pilu itu sering menyergapku ..
ketika sekitar, terlihat penuh kehangatan dalam dekapan bingkai biru kisah kasih dgn sayap - sayap utuh mereka ...


air mataku mungkin kadang beku ...
namun tidak dengan hujan di hatiku ...
dan basah dalam jiwaku ...

lentera malam ..
mencoba memutar memoriam masa kelam ...
kisah sedih di hari minggu menjelang hari lahirku ...

.................................................. .....................

Ibu, ibundaku ...

sungguh aku rindu ....
aku rindu suara - suara yang selalu bergeming untuk hal - hal yang tak pernah ku sangkal karena perhatianmu ..
untaian harapan yang penuh kasih ..., yang mengutuhkan ketulusanmu ..
dan cinta yang penuh nasehat ..., yang menumbuhkan ketegaran tersendiri ...


diamku ...
bukan tak bersuara ...
dan suaraku ...
tak memecahkan perisai - perisai malam ...
karena aku hanya selalu mencoba menggetarkan Arsy-NYA dengan lirihnya doa - doaku ...
Agar teguh yakinku kan mampu menjulang semua kesungguhan ...



tangan lemah dulu yang kau belai lembut ...
kini telah menjadi penopang segala yang berat ...
tak bisa ku kira dan ku bayangkan apa yang kan terucap dari bibirmu ...
ketika aku tegak dengan hal yang dulu pernah kau risaukan tentang itu ..

.................................................. ................................................

malam ini untukmu ....,

aku tak pernah mampu menguraikan tentangmu tanpa tangisku ...
karena mungkin ini adalah sebuah lagu rindu ...
lagu rindu untuk sang Malaikat Penjagaku ...
kaulah IBU ...

sampai ....

sekali lagi, aku tersadar ...
bahwa jiwa putih itu telah lama meninggalkan ragaku ...
yang mampu menjadikan malam terhenyak,
dan menjadikan bait - bait merdu terdengar sepert melodi ungu nan sendu ...


Aku .... Rindu ....




................................................................................................................


. allahumagfirli wali-wali daya warhamuma kama robaya ni sogiro.







penuh kenang dari putri kecilmu,


Ratih Septiana


Pemikir Cerdas

Contact Us

Name

Email *

Message *

Designed By Seo Blogger Templates