Tutur Tinular 4 - Lembah Berkabut Season 4


TUTUR TINULAR 4 - Lembah Berkabut (4)

Sahabat pemikir cerdas ini ada kelanjutan dari Tutur Tinular 4 - Lembah Berkabut Season 3 sahabat. Maaf ya sahabat lama post Tutur Tinular 4 - Lembah Berkabut Season 4 dikarenakan sesuatu hal sahabat. Baiklah sahabat agar tidak penasaran dengan cerita lanjutannya lansung aja deh sahabat.Tutur Tinular 4 - Lembah Berkabut Season 4



Di ruang tengah yoso dalem rumah Mpu Hanggareksa, di mana Nari Ratih berada di kamar berdua dengan suaminya, ia tampak gelisah sekali. Sudah dua malam Arya Dwipangga kurang bersikap manis padanya. Setiap saat biasanya ia mendengarkan syair-syair baru yang meluncur deras dan indah dari bibir suaminya, kini ia didiamkan saja.

Bahkan berlaku dingin padanya. Ia pandang Arya Dwipangga yang berbantal tangan, bersandar di sandaran tepi tempat tidur.

"Sebaiknya kita pulang ke Manguntur, Kakang. Kita bisa hidup dengan tenang dan bahagia di sana.”

 “Kau tidak kerasan di rumah ini karena ada Kamandanu? Karena kau masih menyimpan perasaan cinta pada adikku itu?”

 “Kau keterlaluan, Kakang. Sekarang aku sudah sepenuhnya menjadi istrimu, tentu saja seorang istri hanya akan mencintai suaminya “

 “Lalu apa alasanmu untuk tidak merasa kerasan tinggal di Kurawan?”

 “Aku ingin melahirkan diManguntur, seperti dulu ibuku melahirkan aku. Aku juga ingin membuat ayahku yang sudah semakin tua itu bahagia.”

 “Aku juga berhak membuat ayahku bahagia.”

 “Di sini Ayah masih mempunyai Kakang Kamandanu dan Bibi Rongkot yang setia, tapi ayahku? Dia hanya tinggal sendirian di Manguntur. Tentu dia merasa sangat kesepian. Tentu dia akan sangat bangga dan bahagia kalau kita tinggal bersamanya. Kita bisa bertani di Manguntur, karena ayahku mempunyai lahan pertanian yang cukup luas.”

 “Baiklah. Aku mau tinggal di Manguntur tapi dengan syarat.”

 “Syarat apa, Kakang?”

 “Batu nirmala itu harus kau minta kembali dari Kamandanu.”

 “Oh, kau keterlaluan sekali, Kakang. Aku tidak mau menjadi orang yang tidak berperasaan. Batu nirmala itu sudah kuberikan, bagaimana aku harus memintanya kembali?”

 “Kau masih ingin dikenang oleh Kamandanu. Itulah yang membuat aku tidak senang Kebahagiaanku merasa terganggu.”

 “Kakang Dwipangga, kau terlalu cemburu Cemburu yang tidak pada tempatnya." Arya Dwipangga ngotot, persyaratan yang diajukan pada Nari Ratih tidak bisa ditawar. Ia siap berangkat ke Manguntur jika batu nirmala ada di tangannya.

Mendengar kekerasan suaminya, keangkuhan dan sikapnya yang makin kurang manis, Nari Ratih menangis.

Ia terisak-isak, air mata mulai meluncur di kedua pipinya.

"Baiklah, Kakang... kalau memang begitu keinginanmu, aku akan memintanya kembali batu nirmala itu." Nari Ratih bangkit dari sisi suaminya, melangkah keluar kamar, ia menuju kamar Arya Kamandanu yang terletak di rumah bagian belakang dekat penyimpanan senjata pilihan.

Sampai di depan kamar Arya Kamandanu Nari Ratih ragu-ragu ketika hendak mengetuk pintu bekas kekasihnya.

Namun, berkat ilmu yang telah dipelajari dari Mpu Ranubhaya, Arya Kamandanu bangkit, ia dengarkan desah lembut napas seseorang di depan pintu kamarnya. Arya Kamandanu membuka pintu kamarnya dan ia heran melihat kakak iparnya ada di depannya, "Nari Ratih!" Nari Ratih menarik lengan Arya Kamandanu dan mengajaknya masuk ke kamar lalu menyampaikan maksud kedatangannya di malam itu. Dengan berat, dengan perasaan yang sangat tidak enak perempuan cantik yang wajahnya tampak pucat tertimpa pendaran cahaya lampu minyak jarak itu bagaikan seekor domba yang siap dipancung lehernya.

"Betapa berat bebanmu, Nari Ratih. Aku tidak ingin melihatmu menderita. Aku akan menyerahkan kembali pemberianmu." Arya Kamandanu lalu mengambil batu nirmala yang baru saja ia simpan di bawah bantal. Ia tersenyum pahit karena benda itu habis diciuminya. Lalu mengulurkan batu nirmala itu pada Nari Ratih Ia serahkan benda itu penuh dengan ketulusan. Mata elang pemuda itu begitu tajam menghunjam ke mata Nari Ratih, lalu menjalar dan menyusup ke ulu hatinya. Mata elang itu tampak penuh dengan luka.

Nari Ratih menunduk dan berkata lirih pada bekas kekasihnya yang kini menjadi adik iparnya.

"Kau ... kau bisa memahami perasaanku, Kakang Kamandanu?" suara itu tercekat, serak dan gemetar.

Arya Kamandanu tetap tersenyum. "Mengapa tidak, Nari Ratih. Sudahlah, aku tak ingin melihat kebahagiaan kalian tercemar oleh batu nirmala ini. Bawalah kembali benda ini!" Setelah cukup lama Nari Ratih ragu-ragu menerima batu nirmala itu, akhirnya jemarinya terbuka menyambut uluran tangan Arya Kamandanu. Jari-jemari mereka bersentuhan hingga tanpa disadarinya butiran-butiran bening meluncur dari manik-manik mata Nari Ratih. Hidungnya memerah dan kembang kempis.

"Seharusnya aku tidak melakukannya. Aku sudah memberikannya padamu, Kakang, tapi...," ucapnya lembut di tengah isak.

"Ratih! Aku sudah berjanji dalam hati, aku tidak akan memberikan pada siapa pun batu nirmala ini, kecuali kau yang memintanya kembali.”

 “Ohh, maafkan aku, Kakang. Aku tidak bisa membuat Kakang Dwipangga mengerti persoalan ini Dia tetap menginginkan batu nirmala ini.Maafkan aku, Kakang.”

 “Kau tidak bersalah.Mengapa harus minta maaf?”

 “Ohh, sungguh mulia hatimu, Kakang. Aku, aku ... malu sekali. Aku benar-benar merasa malu.”

 “Ratih! Tak ada satu pun yang dilakukan oleh manusia ini sempurna adanya. Karena itu tak perlu kau menyesalinya. Sekarang kau sudah menjadi istri Kakang Dwipangga. Nah, kuharap kau menjadi istri yang baik, dan kalian berdua bisa terus hidup berdampingan selamanya.

Sungguh, aku akan merasa bahagia jika kalian berdua bahagia.

Nah, terimalah batu nirmala ini kembali, Ratih." Arya Kamandanu melepaskan pegangan jemari Nari Ratih.

"Ohh, terima kasih, Kakang. Terima kasih atas pengertianmu yang amat besar ini.”

 “Kukira lebih tepat kalau Kakang Dwipangga yang menyimpan batu nirmala itu. Baiklah, Ratih, tak baik kita lama-lama berbicara seperti ini. Nanti kalau Kakang Dwipangga melihat bisa menimbulkan salah paham lagi." Sejenak lamanya pandangan mata mereka beradu.

Mereka menelan ludah kegetiran, menggoreskan sejarah hidup yang penuh air mata. Arya Kamandanu mengangguk perlahan mempersilakan Nari Ratih segera meninggalkan kamarnya. Nari Ratih berusaha tersenyum sekalipun dengan derai air mata Buru-buru ia membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi. Tapi baru tiga langkah ia menghentikan langkahnya, membalikkan tubuhnya dan memandang Arya Kamandanu dengan tatapan pilu.

Arya Kamandanu memejamkan mata dan menunduk sambil menggigit bibir. Memandang sejenak Nari Ratih yang ragu-ragu melangkah kembali meninggalkannya.

Arya Dwipangga baru merasa puas setelah batu nirmala itu terlepas dari tangan adiknya, dan jatuh ke tangannya.

Maka sehari kemudian, setelah memperoleh izin dari Mpu Hanggareksa dan mendapat nasihat-nasihat seperlunya, Arya Dwipangga memboyong istrinya ke desa Manguntur.

Arya Kamandanu ditugaskan ayahnya mengawal perjalanan mereka. Kereta kuda yang mereka tumpangi semakin menjauh meninggalkan desa Kurawan. Arya Kamandanu memegang kendali kuda dengan kendor agar kudanya tidak terlalu cepat berlari. Dia terus mengikuti laju kereta kuda yang membawa Nari Ratih dan Arya Dwipangga. Kereta kuda yang mereka tumpangi berjalan menyusuri jalanan desa yang amat indah pemandangannya.

Gunung-gunung membiru di kejauhan seperti melambai ke arah mereka. Arya Kamandanu terus mengawal dengan mengendarai seekor kuda perkasa berwarna cokelat tua.

Tak lama kemudian, perjalanan mereka sampai di tepi padang ilalang. Berdesir hati Arya Kamandanu begitu melihat pemandangan di sekitarnya.

"Ahh? Tempat ini. Tepi padang ilalang ini. Aku tak akan pernah bisa melupakan tempat ini. Semua begitu cepat berlalu. Dan apa yang sudah berlalu tak mungkin bisa kuraih lagi. Betapa indahnya kenangan masa lalu. Tapi kenangan akan lenyap bersama deru sang waktu. Dan harihari besok masih belum menentu. Hari-hari sekarang inilah sesungguhnya milikku, maka aku tak boleh menyiamenyiakannya," gumam Arya Kamandanu perih. Hatinya teriris-iris mengenang kisah manis yang selalu dilalui bersama Nari Ratih di tepi padang ilalang yang kini dilaluinya.

Sementara, itu di dalam kereta kuda yang terus menggelinding di atas jalanan berbatu, Nari Ratih kelihatan gelisah walaupun ia berusaha menyembunyikan perasaan itu dari suaminya. "Ahh? Kakang Kamandanu. Tentu hatinya hancur sekali. Kasihan kau, Kakang. Tapi aku yakin kau kelak akan menemukan seorang gadis yang sesuai untukmu. Seorang gadis yang manis, yang setia, yang mencintaimu untuk selamanya. Aku akan selalu berdoa dan mudah-mudahan para dewa di atas langit mengabulkan doaku ini," bisik hati Nari Ratih dengan perasaan tidak menentu. Pandang matanya kosong dan selalu diam sepanjang perjalanan hari itu.

"Ratih!”

 “Ehh, ya, Kakang?" Nari Ratih terkejut ketika suaminya menegurnya.

"Bagaimana perasaanmu? Kau bahagia dalam perjalanan ke Manguntur ini?”

 “Bagaimana aku tidak bahagia, Kakang? Tidak lama lagi aku akan segera menjadi ibu dari anakmu.”

 “Ratih! Aku berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik dari anak-anak yang kau lahirkan nanti.”

 “Ahh, Kakang. Aku bahagia sekali." Beberapa kali kata bahagia itu ia ulangi, ia luncurkah di antara bibir mungil nan manis, namun di balik hatinya teriris kepedihan yang luar biasa perih.

Dengan manja Nari Ratih merebahkan kepalanya di bahu suaminya. Tangan Arya Dwipangga merengkuh pundaknya, kemudian mengusap dan membelai rambutnya yang hitam panjang bergelombang Arya Dwipangga pun dengan lembut menjatuhkan kepalanya di atas kepala istrinya. Jemari tangan mereka terjalin erat, berbicara tentang kasih di dasar hati mereka yang paling dalam.

Tubuh mereka berguncang-guncang karena jalan-jalan yang bert>atu-batu.

Namun, kemesraan itu tiba-tiba terhempas tatkala tukang sais menghentikan kereta yang mereka tumpangi. Arya Dwipangga dan Nari Ratih saling pandang sejenak.Mereka mengerutkan dahi ketika melihat beberapa orang berkuda menghadang jalan kereta. Arya Dwipangga melepaskan jalinan jemarinya, lalu menyibakkan tirai kereta dan melongokkan kepalanya ke belakang di mana adiknya selalu mengawal perjalanan mereka.

"Siapa mereka itu, Kamandanu? Mengapa mereka menghadang perjalanan kita?”

 “Kakang Dwipangga tidak usah turun dari kereta! Biar aku saja yang menghadapi mereka " Nari Ratih dengan saksama memperhatikan penghadang kereta, sampai ia terpekik, "Ohh, bukankah dia itu Dangdi? Siapa dua orang temannya itu?" Arya Kamandanu mengangkat tangan kirinya, "Kalian berdua diam saja dalam kereta, agaknya mereka bermaksud membuat gara-gara lagi denganku." Arya Kamandanu menyentakkan tali kekang kudanya hingga kuda tunggangannya meringkik panjang dan melompat ke arah tiga orang yang menghadang kereta yang ditumpangi kakaknya.

Pemuda Kurawan itu memicingkan kedua matanya dan memandang tiga penghadang di depannya berganti-ganti.

Melihat siapa yang menghampiri mereka, salah seorang di antara ketiga penghadang itu setengah terkejut dan mencibir sinis.

"Heee, Kamandanu! Bukankah yang berada dalam kereta itu pasangan pengantin baru?”

 “Ya, Dangdi. Mereka adalah pengantin baru. Kakakku Arya Dwipangga dan istrinya Nari Ratih.”

 “Hahahaha? Kasihan sekali kau, Kamandanu. Mengapa sekarang pangkatmu semakin merosot? Mestinya kau yang berada dalam kereta itu. Tapi rupanya kau harus cukup puas menjadi pengawal pribadi kakakmu itu. Hahahaaha!”

 “Dangdi! Kami sedang dalam perjalanan ke Manguntur, kuharap kau tidak mengganggu perjalanan kami ini.”

 “Siapa yang mengganggu kalian? Kalau kalian mau lewat yaaa...silakan saja lewat.”

 “Mana bisa kami lewat kalau kalian bertiga menghadang di jalan begitu?”

 “Hahaha! Kalau memang kalian tidak bisa ya mau bagaimana? Kembali saja ke Kurawan atau carilah jalan lain.”

 “Jadi, kalian bertiga tidak mau memberi kami jalan untuk lewat?”

 “Hee, Kamandanu! Jangan mencoba mengancam kami! Ayoo, turun kau dari kudamu!" Dangdi makin sinis dan tangan kirinya memberi isyarat penghinaan dengan menunggingkan ibu jari. Setelah itu ia melompat turun dari punggung kuda diikuti kedua kawannya.

Arya Kamandanu tetap tenang duduk di punggung kuda sekalipun hewan tunggangannya itu sesekali meringkikringkik.

Ketiga penghadang itu memasang kuda-kuda dan berkacak pinggang memandang enteng pada Arya Kamandanu. Dangdi mencibir dan melambaikan tangan seraya menarik ke arah dalam jari tengahnya menantang Arya Kamandanu.

"Turun, Kamandanu! Kalau kau bisa mengalahkan kami bertiga, barulah kami akan memberi kalian jalan untuk lewat.”

 “Baiklah, kalau memang itu kemauanmu. Aku akan turun!" Arya Kamandanu menggerakkan tali kekang kudanya hingga si cokelat tua meringkik panjang. Lalu ia melompat ke depan Dangdi.

"Baguuss! Tapi aku masih meragukan keberanianmu, Kamandanu. Jangan-jangan hanya untuk mencari muka di depan pengantin wanita. Hahahah...," tawa Dangdi diikuti dua temannya yang makin lebar memamerkan mulut mereka.

"Sebenarnya aku sudah muak melihat kelakuanmu ini, Dangdi. Selama ini aku masih mencoba bersabar. Tapi karena kali ini aku ditugaskan mengawal saudara tuaku ke Manguntur, maka tak ada pilihan lain kecuali melayani kesombonganmu.”

 “Jangan banyak mulut! Hiaaaa!" Dangdi langsung menerjang Arya Kamandanu ketika baru saja ia melangkah beberapa tindak mendekatinya. Namun, serangan licik itu dapat diatasi Kamandanu dengan sedikit mengelak ke samping. Gebrakan pertama itu membuat Dangdi naik pitam karena tendangan dan pukulannya menyapu sasaran kosong. Ia pun kembali melompat dan menerjang dengan pukulan-pukulan keras, tetapi tak terarah, Dengan mudah Arya Kamandanu menangkis dan menghindari seranganserangan lawannya.

Arya Kamandanu begitu lincah bergerak menghindar.

Hal itu membuat Dangdi benar-benar sangat marah dan kurang bisa mengendalikan dirinya. Dangdi berhenti menyerang dengan napas terengah lalu tangan kanannya melambai pada kedua kawannya. Suaranya terdengar parau sekali "Jaruju! Balawi? Ayo, kalian jangan diam saja! Kita bikin sekali lagi babak belur orang ini, baru aku merasa puas! Hiaaaa...!" Dangdi, Jaruju dan Balawi secara serentak menyerang Arya Kamandanu yang melayaninya dengan tenang. Semula dia hanya bertahan dengan menepis, menghindar ataupun melompat kiri kanan. Tapi karena serangan itu datang terus-menerus, akhirnya Arya Kamandanu terpaksa mengeluarkan pukulan dua belas jurus tahap pertama ilmu Naga Puspa pemberian Mpu Ranubhaya.

Pada gebrakan pertama Dangdi menjadi korban tendangan pada pelipis kirinya. Gebrakan kedua Balawi terpaksa meraung kesakitan sambil mendekap alat kelaminnya. Giliran Jaruju terkena gebrakan ketiga. Jaruju agaknya mempunyai kemampuan lebih tinggi dibanding Balawi, "Jaruju! Kalau kau masih nekad menyerang, kau akan bernasib sama dengan dua orang temanmu itu.”

 “Jangan sombong kau, Kamandanu! Hiaaaa...." langsung saja Jaruju menggebrak Arya Kamandanu tanpa perhitungan masak sehingga yang terjadi adalah senjata makan tuan. Jaruju kurang menyadari apa yang dilakukan lawannya. Dengan gebrakannya yang keras dan sembrono itu membuat Arya Kamandanu mendapatkan peluang memberikan pukulan telak tepat ke ulu hatinya, sehingga Jaruju tersepak meluncur keras jatuh di semak belukar menyusul dua rekannya. Arya Kamandanu tersenyum dingin sambil mengatur napasnya. Kedua kakinya masih siap dengan kuda-kuda. Pandangannya sangat tajam memandang ketiga lawannya satu per satu berganti-ganti.

"Ayo, bangunlah kalau kalian masih mempunyai nyali untuk bertempur.”

 “Ehh, tidak... tidak, Kamandanu... kami menyerah kalah... ahh...addduuuhhh....," Jaruju meringkuk di semak dengan napas terasa sesak.

"Dan kau, Balawi, kalau masih penasaran aku pun tidak keberatan melayanimu satu jurus lagi.”

 “Ehh, jangan! Cukup, cukup, Kamandanu. Ehhh..., shshsss!" Balawi terbata menjawab dengan kedua tangan memegang kelaminnya yang terasa melesak kena sodokan maut Arya Kamandanu.

"Kalau demikian, cepat pergi dari sini! Dan ingat! Terutama kau, Dangdi... jangan mencoba membuka persoalan lagi denganku. Jangan mengganggu Nari Ratih, karena sekarang dia sudah menjadi istri saudara tuaku.

Kalau kau sampai berani mengganggu ketenteraman mereka, kau pasti berhadapan dengan Arya Kamandanu!" Dengan meringis dan langkah tertatih ketiga penghadang itu berjalan menghampiri kuda mereka. Dangdi, Balawi dan Jaruju segera naik ke punggung kuda dan segera menyentak tali kuda masing-masing dengan hati dongkol, menggerutu dan sangat malu. Arya Kamandanu berkacak pinggang sambil tersenyum getir. Menggeleng-geleng kepala karena merasakan kebebalan tiga pemuda Manguntur yang selalu memusuhinya. Lalu ia membalikkan tubuh melangkah menghampiri kereta yang ditumpangi kakaknya. Arya Dwipangga melongokkan kepalanya memandang penuh rasa kagum dan terima kasih pada adiknya yang memiliki kemampuan olah kanuragan mumpuni.

"Bagaimana, Kamandanu?”

 “Kakang tidak usah khawatir. Mereka tidak akan berani mengganggu kalian lagi.”

 “Kakang Kamandanu, kau tidak apa-apa?”

 “Aku tidak apa-apa, Ratih. Marilah kita lanjutkan perjalanan.Manguntur sudah tidak terlalu jauh dari sini." Arya Kamandanu memberi isyarat pada kusir kereta agar segera melanjutkan perjalanan. Kereta kuda itu tampak terseok-seok melalui jalan berbatu. Baik Nari Ratih, Arya Dwipangga maupun tukang sais itu tidak berkomentar apaapa.

Mereka hanya membisu karena hati dan pikiran mereka dipenuhi oleh angan masing-masing.

Arya Kamandanu menunggang kuda lima tombak di belakang kereta. Kehadiran Dangdi dan komplotannya seolah-olah membuka luka lama yang selama ini dipendamnya dalam-dalam di lubuk hatinya. Hatinya perih seperti teriris karena ia selalu saja mengalami kegetiran dalam hidupnya Kadang-kadang ia membenarkan Dangdi, kadang-kadang ia hanya pasrah pada keadaannya, tapi tak jarang ia berusaha untuk memenangkan kerendahan hati dan kesabaran dalam mengarungi hidup dan kehidupan.

Akhirnya mereka tiba dengan selamat di Manguntur.

Rekyan Wuru menyambut dengan ramah dan gembira.

Arya Kamandanu menolak ketika orang tua itu menyuruhnya menginap barang semalam. Hari itu juga Arya Kamandanu kembali ke Kurawan.Mereka mengantar sampai ke pagar halaman. Kuda yang ditunggangi Arya Kamandanu berlari bagaikan terbang melintasi daerah persawahan, bukit-bukit, hutan-hutan kecil, dan sebentar kemudian sudah meninggalkan tugu-batas desa Manguntur.



@@@

BERSAMBUNG

Tutur Tinular 4 - Lembah Berkabut Season 4



Pemikir Cerdas

Contact Us

Name

Email *

Message *

Designed By Seo Blogger Templates