Tutur Tinular 4 - Lembah Berkabut Season 5


TUTUR TINULAR 4 - Lembah Berkabut (5)



Oke sahabat ini dia sambungan

TUTUR TINULAR 4 - Lembah Berkabut (4)

sahabat. maaf ya sahabat lama untuk post kelanjutan ceritanya sahabat. baiklah sahabat silakan melanjutkan.Selamat membaca sahabat.

Sementara itu, di rumah Mpu Hanggareksa, di ruangan pembuatan senjata, lelaki tua itu menimang-nimang sebuah senjata pusaka. Menyunggingkan senyuman di bibirnya yang mulai mengeriput. Kemudian penuh dengan perasaan ia memegang gagang pusaka itu serta mencabutnya perlahan-lahan. Suara berdencing mengiringi senjata itu ketika keluar dari wrangkanya.

"Hhhh! Bagaimanapun juga senjata pusaka buatanku masih di bawah tingkatan Kakang Ranubhaya.

Bagaimanapun juga dia lebih ahli. Dan inilah yang membuatku tidak senang. Suatu ketika Kakang Ranubhaya bisa menjadi batu sandungan di tengah jalan. Huuuuhh! Orang tua itu sangat kokoh pendiriannya. Sudah berapa kali kucoba untuk menariknya kerja sama, dia tetap tidak bersedia. Kurang ajar! Dia merasa lebih pintar. Merasa lebih hebat, tapi aku tidak akan kehabisan cara. Kalau dengan cara yang halus tidak berhasil, aku bisa menggunakan cara yang lebih kasar. Bahkan aku bisa menggunakan cara yang paling kasar!" Mpu Hanggareksa berbicara sendiri sambil mengusap-usap senjata pusaka di tangannya. Belum lagi memasukkan senjata itu ke dalam wrangkanya ia dikejutkan oleh suara pintu yang berderit panjang sekalipun perlahan-lahan.

Lelaki itu segera memasukkan senjata pusaka ke dalam wrangkanya dan melangkah ke arah pintu sambil mengerutkan dahinya. Ia melihat jemari menyengkeram daun pintu dari luar. Lagi-lagi ia tersenyum sendiri, "Kaukah itu, Kamandanu?”

 “Ya, Ayah.'.' "Bagaimana? Sudah kau antar kakakmu sampai Manguntur?”

 “Sudah, Ayah.”

 “Bagus. Sekarang kau istirahat, dan besok kau harus menjaga rumah bersama Nyi Rongkot. Aku mau pergi barang dua tiga hari.”

 “Ke mana, Ayah?”

 “Ke Singasari." Arya Kamandanu dapat meraba ada yang terjadi di balik wajah ayahnya. Tidak seperti hari-hari biasanya, tampak sekali ayahnya tengah mempunyai persoalan yang berat.

Tapi Arya Kamandanu tidak berani menanyakan pada ayahnya.

Arya Kamandanu melihat kabut persoalan mengambang di permukaan wajah ayahnya, orang tuanya berbicara tidak seperti biasanya. Memandangnya sangat tajam dengan sekali-kali menghela napas tertahan. Berat dan sesak.

?Selama aku pergi kau harus lebih berhati-hati. Terutama sekali kau harus menjaga dan mengawasi tempat menyimpan senjata pesanan.”

 “Baik, Ayah. Saya tidak akan kemana-mana.”

 “Kamandanu, sekarang kakakmu sudah hidup sendiri bersama istrinya. Tinggal kau yang kuharapkan bisa membantu usahaku ini," kembali Mpu Hanggareksa menghela napas dalam sekali. Ia pandangi putra bungsunya penuh kelembutan dan kasih sayang. Hatinya terenyuh, terharu karena alis mata dan bibir putra bungsunya itu persis seperti ibunya. Seperti isterinya yang telah lama meninggalkannya.

Kepedihan menyuruk-nyuruk dan mengiris hatinya.

"Kulihat kau sudah mengantuk dan lelah sekali.

Tidurlah! Biarkan aku sendiri di ruangan ini.”

 “Ya, Ayah." Belum lama Arya Kamandanu berada dalam kamarnya sendiri, ia dengar ringkikan panjang kuda ayahnya.

Kemudian terdengar juga derap kakinya yang dipacu semakin menjauh. Ia menghela napas dan menghempaskannya kuat-kuat.

Dahinya beranyam kerutan kemudian menggigit bibirnya sendiri sambil melangkah beberapa tindak sambil memeriksa jendelanya.

"Aku mendengar suara kuda Ayah. Ke mana dia pergi malam-malam begini? Ahhh, pasti ada hubungannya dengan rencana ke Singasari besok. Kasihan ayah, akhirakhir ini dia tampak semakin tua. Aku harus mendampinginya dan membesarkan hatinya." Arya Kamandanu menyorongkan kancing jendelanya agar lebih kencang lagi. Bersandar sejenak pada dinding papan kamarnya, memperhatikan tempatnya berbaring yang kusut. Pada ujung tikarnya sudah robek dan putusputus.

Bahkan pada tepi-tepinya tampak jamuran karena terlambat tak dijemur. Ia tersenyum, karena tikar itu buatan buah tangan Nari Ratih. Tikar tanda persahabatan pertama ia mengenal gadis yang merebut seluruh hatinya. Ia perhatikan pakaiannya yang kotor tergantung di ujung kamar. Ia hirup udara kamarnya yang apek dan kurang sedap karena lama tak dibereskan dan dibersihkan. Kembali lagi ia melangkah mondar-mandir seperti orang bingung, tak tahu apa sebetulnya yang mengganjal di hatinya.

Karena tak bisa tidur lagi, Arya Kamandanu beranjak meninggalkan kamarnya. Sebentar kemudian dia sudah berada di ambang pintu ruang kerja ayahnya Terdengar pintu ruang kerja itu dibukanya perlahan menimbulkan derit panjang memecah kesunyian malam. Beberapa saat lamanya ia berdiri di ambang pintu, kemudian menutup pintu itu kembali seperti sedia kala. Ia berdiri sejenak menyandarkan punggungnya di balik daun pintu yang sangat tabal itu. Rongga dadanya dipenuhi oleh bau logam karatan, bau apek dan warangan cairan pembasuh senjata yang menyengat. Ia nyengir dan memoncongkan bibirnya seraya melangkah seenaknya.

"Ahh! Selama berpuluh surya Ayah terbenam di ruangan ini. Usianya habis untuk membuat senjata-senjata pusaka pesanan pemerintah Singasari. Ayah memang pekerja yang ulet. Dia tekun dan selalu bersungguh-sungguh. Tapi tampaknya dia tidak begitu cocok dengan Paman Ranubhaya." Arya Kamandanu mengerutkan dahi memperhatikan ada selembar daun tal? Ia makin memperhatikan selembar rontal itu ketika melihat goresangoresan di atasnya ada tulisan ayahnya.

Arya Kamandanu membungkuk dan membaca tulisan yang tertera pada potongan-potongan rontal di tempat kerja ayahnya. Lalu ia membacanya dengan saksama, "Ampun Sri Baginda! Hamba mohon Sri Baginda sudi membaca laporan hamba, dan selanjutnya mengambil tindakan yang tegas demi tegaknya wibawa pemerintah Singasari. Selama ini hamba telah dipercaya sebagai pembuat senjata pusaka untuk perlengkapan tentara Singasari. Di samping hamba juga dipercaya mengelola senjata pusaka di ruang penyimpanan senjata Istana Singasari. Hamba telah berjanji akan bekerja sebaik-baiknya.

Namun, sekarang ini hamba mempunyai kesulitan yang bisa menghambat tugas-tugas yang dipercayakan pada hamba. Di desa hamba, Kurawan, ada seorang Mpu yang bernama Ranubhaya.

Dia sebenarnya ahli dalam pembuatan senjata pusaka. Hamba telah berulang kali mengajak kerjasama, namun dia menolak.

Malah akhir-akhir ini dia berani menghina pemerintah Singasari, bahkan menghina Sri Baginda Kertanegara sendiri. Untuk itu hamba mohon Sri Baginda menindak orang tersebut. Sebab kalau dibiarkan, hamba khawatir kelak kemudian hari bisa merongrong kewibawaan Sri Baginda." Arya Kamandanu meletakkan, kembali daun-daun tal itu seperti sedia kala. Darahnya tersirap, jantungnya berdebardebar mengetahui isi surat itu. Ia mengeraskan rahangnya hingga tampak menonjol kukuh, matanya yang tajam berkilat-kilat.

"Ohh, surat ini berbahaya sekali. Paman Ranubhaya bisa dihukum mati, kalau sampai terbukti menghina Prabu Kertanegara. Tapi, mengapa Ayah sampai hati melaporkannya? Apakah ada suatu sebab yang membuat mereka bermusuhan sampai begini? Ahh, aku jadi serba salah. Aku tidak tahu harus memihak pada siapa. Paman Ranubhaya sangat baik menurut penilaianku. Aku tak habis pikir mengapa ayah membencinya dan menganggapnya sebagai orang yang harus disingkirkan? Apakah ayah takut suatu ketika Paman Ranubhaya menjadi saingan berat dalam pembuatan senjata pusaka? Ohh, aku tidak mau ikut campur. Tapi kalau memang keadaan mendesak, aku harus berbuat sesuatu untuk menolong Paman Ranubhaya." Arya Kamandanu segera mengambil tindakan. Buruburu ia keluar dari ruang kerja ayahnya menuju bilik Bibi Rongkot pembantunya yang setia. Perlahan ia mendorong daun pintu perempuan tua itu yang selama ini tidak pernah dikancing dari dalam. Ia tersenyum ketika melihat perempuan tua itu sudah tidur. Kemudian pemuda itu kembali ke kamarnya sendiri dengan hati resah. Ia harus melakukan sesuatu untuk gurunya yang terancam bahaya.

Ia berusaha agar cepat tidur, namun pikiran-pikiran buruk menghantuinya hingga sampai pagi hari ia belum juga sempat memicingkan matanya. Untuk itulah ia segera bangkit dari pembaringan setelah mendengar kokok ayam ketiga. Suara-suara ternak juga meramaikan suasana di pagi itu. Didorong oleh rasa penasaran yang bersarang di hatinya ia segera menuju bilik Bibi Rongkot. Pemuda itu tersenyum melihat Bibi Rongkot sudah bangun. Ia berjingkat, melangkah hati-hati sekali agar tidak membuat perempuan tua itu terkejut dibuatnya. Perempuan tua itu menatap ke dinding dengan pandangan mata kosong seperti melamun. Ia sedang menikmati kinang sirih sambil melamun duduk di bibir dipan. Perempuan tua itu segera menghentikan kunyahannya ketika tahu siapa yang mendorong pintu kamarnya.

"Bi Rongkot?”

 “Ya, Ngger.”

 “Bibi tahu ke mana Ayah pergi semalam?”

 “Katanya beliau pergi ke rumah salah seorang sahabatnya, begitu. Entah sahabat yang mana Bibi tidak tahu, Ngger.”

 “Lama perginya, Bi?”

 “Barangkali tidak terlalu lama, Ngger. Sepertinya Bibi hanya terlelap sebentar. Bibi terbangun dan mendengar Ayahanda menuntun kuda ke kandangnya. Setelah itu, bibi mendengar suara pintu ruang kerja beliau terbuka dan tertutup. Mungkin beliau langsung tidur di ruang kerja, karena bibi tidak mendengar apa-apa lagi sampai menjelang pagi." Arya Kamandanu mau membalikkan tubuh tapi perempuan itu menegornya.

"Ehh, mau ke mana, Ngger?" Setelah mendengar keterangan Bibi Rongkot pemuda itu langsung membalikkan badannya, menjawab pertanyaan perempuan itu sambil lalu.

"Menemui ayahanda, Bi.”

 “Ayahanda sudah berangkat. Beliau hanya berpesan, agar Angger Kamandanu berhati-hati selama beliau tidak di rumah." Arya Kamandanu tidak melanjutkan langkahnya. Ia buru-buru memandang perempuan tua itu dengan mulut setengah menganga dan dahi berkerut hingga kedua alisnya yang tebal nyaris menyatu. Beberapa saat lamanya mereka saling pandang dalam diam. Udara pagi yang dingin tak mampu mendinginkan hati pemuda itu yang dilanda keresahan.Matanya merah karena lelah, marah dan kurang tidur. Ia melangkah lemas sambil memukul jidatnya dengan telapak tangan kanannya saking kesalnya.

Mpu Hanggareksa terus memacu kudanya menuju kota Singasari. Dalam hati dia sudah bertekad akan memfitnah sahabatnya sendiri. Dia merasa sakit hati dan merasa usahanya dijegal oleh Mpu Ranubhaya. Di samping sebenarnya dia merasa iri, bahwa tingkat kemampuannya membuat senjata pusaka masih di bawah sahabatnya itu.

Kuda cokelat tua itu membawa Mpu Hanggareksa menuju ke Singasari. Di belakangnya meninggalkan kepulankepulan debu yang menghalangi pandangan mata. Kuda itu berlari semakin lama semakin cepat hingga akhirnya lenyap di balik tikungan jalan yang menuju kotaraja Singasari.

Setelah berkuda hampir satu hari lamanya, dengan istirahat sejenak di beberapa desa yang dilewatinya, Mpu Hanggareksa dengan selamat bisa memasuki pintu gerbang Istana Singasari. Dia langsung menemui Pranaraja dan menginap di wisma pembesar Singasari itu, yang kemudian keesokan harinya membawanya menghadap Sang Prabu di Paseban Agung. Pagi itu segenap pejabat istana berkumpul di hadapan takhta Sang Prabu Kertanegara yang telah menerima laporan tertulis dari Mpu Hanggareksa.

Terdengar suara mendengung bisik-bisik dan geremeng obrolan mereka sebelum mendengarkan titah Sang Prabu Kertanegara. Terdengarlah gong dipukul dua kali pertanda tiba saatnya Sang Prabu Kertanegara bersabda. Seketika itu suasana menjadi hening dan sunyi. Khidmat penuh penghormatan.

Sang Prabu Kertanegara menghela napas dalam-dalam ketika hendak menyampaikan titahnya, "Aku sudah membaca dengan saksama laporan yang ditulis Paman Hanggareksa. Hmmmm! Apakah laporan ini bisa kupercaya?”

 “Ampun, Gusti Prabu. Laporan itu hamba tulis berdasarkan kenyataan yang ada. Tak ada perlunya hamba memfitnah seorang kawan. Sebagai seorang kawan baik, hamba justru ingin merangkul dan mengajak dia untuk kerja sama mengabdi pada pemerintah Singasari. Tapi begitulah. Mpu Ranubhaya orangnya keras. Hatinya sudah membeku seperti sebongkah es!" kembaliMpu Hanggareksa menghaturkan sembah sampai jidatnya menyentuh lantai paseban yang terbuat dari papan-papan jati yang sudah dihaluskan.

"Paman katakan Mpu Ranubhaya telah menghina pemerintah Singasari, bahkan telah berani menghina aku.

Apa yang sudah dikatakannya itu?”

 “Ampun, Gusti. Hamba tidak sanggup mengulangi perkataannya di depan para hadirin yang berkumpul di balai paseban agung ini. Karena hamba rasa perkataan itu sangat tidak pantas, kalau hamba tidak boleh menyebut sebagai sangat kotor.”

 “Hhhh? Kurang ajar benar si Ranubhaya itu. Apa yang diandalkannya hingga dia berani menghina Kertanegara? Hmmm, baiklah, Paman Hanggareksa. Aku memang tidak akan tinggal diam. Jelas aku akan mengambil tindakan yang tegas." Prabu Kertanegara menghela napas dan pandangannya tertuju pada seorang perwira gagah perkasa dengan kumis melintang tebal menghiasi bibirnya. Yang merasa dilihat menunduk sambil menghaturkan sembah dengan melipat tangan dan diangkat tepat di depan dadanya.

"Ranggalawe!”

 “Hamba, Gusti Prabu," suara itu besar, mantap dan dalam. Sekali lagi Ranggalawe menghaturkan sembah. Kali ini jidatnya sampai menyentuh ke lantai.

"Berangkatlah ke Kurawan! Bawalah serta dua puluh orang prajurit. Kau kuperintahkan untuk menasihati orang yang bernama Mpu Ranubhaya.”

 “Hamba, Gusti Prabu.”

 “Kalau dia tidak mau kaunasihati dan tidak mau mencabut kata-katanya yang telah menghina pemerintah Singasari dan bahkan menghina pribadi Kertanegara, tangkaplah orang itu. Kalau dia melawan, kuperintahkan agar kau membunuhnya.”

 “Baik, Gusti. Hamba siap menjalankan perintah Gusti.

Lalu kapan hamba harus berangkat?”

 “Sekarang juga. Kau bisa bersama-sama Paman Hanggareksa sebagai penunjuk jalan.”

 “Baik, Gusti. Perintah Gusti Prabu hamba junjung tinggi," lagi-lagi Ranggalawe menghaturkan sembah.

Dengan matanya yang tajam ia mencuri pandang ke arah junjungannya. Kemudian ia duduk seperti posisi sebelumnya dengan sekali-kali melirik ke arah Mpu Hanggareksa yang juga duduk menunduk penuh hormat.

Ranggalawe adalah seorang kepala pasukan yang membawahi dua ratus orang prajurit. Dia adalah putra Arya Wiraraja. Arya Wiraraja atau Banyak Wide telah dilorot kedudukannya sebagai Demung, dan sekarang menjadi seorang adipati di Sumenep.

Hari itu juga, begitu keluar dari paseban agung Istana Singasari, Ranggalawe langsung mengumpulkan orangorangnya Ikut dalam rombongan itu Pranaraja, Jarawaha dan Ganggadara. Rombongan yang terdiri dari dua puluh lima orang itu pun berangkat ke Kurawan. Debu-debu beterbangan di jalan ketika kuda-kuda mereka melewati pusat kota Singasari. Derap kaki kuda terdengar riuh rendah diselingi ringkikan-ringkikan perkasa. Dua puluh lima orang penunggang kuda itu begitu bersemangat mengendarai kuda hingga kuda yang ditunggangi mereka saling dahulu mendahului.



@@@

? Rombongan berkuda terus bergerak meninggalkan perbatasan kota Singasari, dengan mengendarai kuda hitam yang bernama Nila Ambara, Ranggalawe berada paling depan barisan. Sementara di belakangnya Mpu Hanggareksa yang berkuda berdampingan dengan Pranaraja. Di belakang mereka Jarawaha dan Ganggadara, yang dengan tangkas mengendarai kudanya masing-masing, sambil sekali-sekali menengok ke dua puluh orang prajurit di belakangnya Ketika matahari sudah mencapai ujung langit barat, barulah mereka sampai di suatu tempat yang memaksa mereka menginap di sana, sebab perjalanan menuju desa Kurawan tidak bisa dilalui dengan aman, jika malam hari.

Selain melewati tebing-tebing terjal gangguan begal, perampok dan para penjahat sering kali terjadi di sepanjang jalan menuju desa itu.

Rombongan itu berhenti di depan sebuah penginapan, yang lebih merupakan tempat tinggal penduduk biasa yang membuka warung di dalam rumah. Petang itu tampak beberapa orang duduk di serambi penginapan. Dua orang yang duduk di sana adalah pelayan penginapan itu, sedangkan dua orang lainnya adalah prajurit Singasari yang diutus Ranggalawe memesan kamar untuk beristirahat.

"Ehh, hehe. Apa yang bisa saya bantu, Tuan? Tuan berdua membutuhkan ruangan untuk istirahat malam ini?" tanya seorang pelayan yang sengaja dibuat-buat agar kelihatan sopan. Sikap pelayan itu membuat kurang senang kedua prajurit Singasari itu.

"Bukan berdua. Kami prajurit Singasari. Kami semua ada dua puluh lima orang," jawab Jarawaha kasar. "Ohh, ehh... jadi Tuan satu rombongan dengan prajurit-prajurit Singasari itu? Wah, wah... mana mungkin kami bisa menampung semuanya? Rumah penginapan ini kecil, Tuan.

Hanya ada lima belas ruangan. Itu pun ada dua kamar yang tidak bisa ditempati, karena membutuhkan perbaikan.”

 “Kami hanya membutuhkan lima kamar saja, pelayan," jelas Jarawaha ketus dan angkuh.

"Kau tidak usah pusing memikirkan di mana prajuritprajurit itu akan tidur malam ini. Mereka bisa memasang tenda di halaman rumah penginapan ini," tukas Ganggadara.

"Oooo, kalau begitu bisa, Tuan. Tentu saja bisa. Jadi, hanya lima ruangan yang harus kami siapkan? Baik. Baik, Tuan." Percakapan antara pelayan dengan Jarawaha dan Ganggadara itu didengarkan dengan baik oleh orang yang duduk di sudut serambi penginapan itu. Kedua orang itu sudah tahu, siapa kedua prajurit Singasari itu, maka seorang di antara mereka ingin membuat gara-gara. Salah seorang yang berbadan tegap dengan otot-otot menonjol itu kasar sekali menggebrak meja. Terdengar suara berderak karena ada cangkir yang menggelinding.

"Pelayan! Bukan hanya mereka itu yang menjadi tamu di rumah penginapan ini. Kami pun berhak untuk dilayani dengan baik." Lelaki berotot itu bangkit dan melotot pada pelayan.

"Oh, eh,...ya, Tuan. Tuan berdua membutuhkan apa?" tanya pelayan dengan wajah pucat pasi karena pelayan itu sudah tahu persis siapa kedua pemuda berotot itu.

"Tambah lagi mangkuk tuakku itu!" pinta yang seorang dengan kasar sekali.

"Jangan takut kami tidak akan membayar, pelayan," kata yang seorang yang lebih pendek.

"Ehh, ya. Ya, baik, Tuan. Sabar, akan saya ambilkan tuak buatan desa Apajeg yang paling enak. Silakan menunggu sebentar, Tuan.”

 “Jangan terlalu lama!" bentak pemuda yang tadi menggebrak meja. Keduanya saling bisik, bahwa sebelumnya mereka pernah bertemu dengan kedua prajurit Singasari yang memesan kamar.

"Hmmm, ya. Aku ingat. Kita bertemu di desa Jasun Wungkal beberapa waktu yang lalu.”

 “Aku juga masih belum lupa siapa kalian berdua ini.

Bukankah yang ini Jaran Bangkai?" sahut Jarawaha sambil menunjukkan telunjuk tangan kirinya. Mereka memang Jaran Bangkai dan Jaran Lejong. Ganggadara mengingat keduanya dengan baik dan ia melihat mereka dengan pandangan dingin. Beberapa saat mereka saling pandang dan tersenyum-senyum dengan angkuh, "Ingatan Tuan berdua masih cukup baik," kata Jaran Bangkai nyinyir.

"Apakah tuan-tuan kali ini juga mau ke Kurawan?" tanya Jaran Lejong berlagak bodoh. "Kalian tidak perlu tahu tujuan perjalanan kami," jawab Jarawaha ketus.

"Ahh, yaaaa... tuan-tuan adalah prajurit. Kami lupa, bahwa tuan-tuan sebagai prajurit tidak boleh berbicara sembarangan," tukas Jaran Bangkai sinis sekali.

Sejenak mereka diam karena pelayan tadi telah kembali dengan membawa tuak di nampan. Di atas nampan itu terletak sekendi tuak murni. Lalu pelayan itu menaruh sekendi tuak itu ke atas meja tepat di depan Jaran Bangkai dan Jaran Lejong.

"Heheheh. Ini tuaknya, Tuan! Hehehehe... silakan minum. Tapi...ehh, tapi....”

 “Tapi apa?" bentak Jaran Lejong tak sabar.

Pelayan itu menunduk sambil mencuri-curi pandang pada kedua berandal itu.

"Tapi maaf, Tuan jangan sampai mabok!" katanya terdengar ketakutan dan mundur beberapa tindak melirik ke arah prajurit Singasari dan kembali beralih pada Jaran Bangkai dan Jaran Lejong yang sudah meraih kendi tuak itu serta menuangkan isinya ke mangkuknya masing-masing.

"Apa urusanmu? Mau mabok atau mau jungkir balik, yang penting aku akan bayar tuakmu!" jawab Jaran Lejong tanpa menghiraukan pelayan itu lagi.

"Bukan begitu, Tuan. Soalnya sekarang ini sedang ada banyak tamu. Kebetulan mereka adalah prajurit-prajurit Singasari.”

 “Aku tidak peduli. Kami juga tamu di sini. Kami punya hak yang sama dengan mereka. Dan tidak ada peraturan minum tuak sampai mabok di rumah penginapan mana pun juga," tukas Jaran Lejong kasar sekali dan meneguk tuak langsung dari kendi.

"Bukan begitu, Tuan.Maksud saya, ehh....”

 “Jangan cerewet, pelayan! Nanti kusumbat mulutmu dengan kepalan tanganku ini!" bentak Jaran Bangkai dengan mulut masih penuh tuak sehingga cairan itu muncrat dari bibirnya. Jaran Bangkai menyorongkan mangkuknya yang sudah kosong dan minta dituangkan lagi.

Jaran Lejong segera menuangkan kendi tuak yang masih digenggamnya pada mangkuk Jaran Bangkai Ia letakkan kendi tuak itu pada meja agak kasar. Lalu mengangkat mangkuknya sendiri dan menenggak isinya sekali tenggak hingga asat.

"Ayo, Kakang Jaran Bangkai! Kita minum sepuas hati kita. Jangan hiraukan mereka itu." Demikianlah kedua berandal itu tidak menghiraukan kata-kata pelayan. Mereka minum tuak sampai matanya merah dan mulutnya berbusa karena terlalu banyak minum.

Keduanya memandang sinis sekali pada kedua prajurit Singasari yang berdiri dan melangkah pergi karena tidak ingin terjadi keributan di penginapan itu.

@@@


BERSAMBUNG

TUTUR TINULAR 4 - Lembah Berkabut (5)



Pemikir Cerdas

Contact Us

Name

Email *

Message *

Designed By Seo Blogger Templates