Residu Grafit di Studio Dua

Residu Grafit di Studio Dua
. Suara detiknya tenggelam oleh dengung konstan unit pendingin ruangan yang dipaksa bekerja ekstra keras di tengah malam buta. Elian menggeser kacamata berbingkai tipisnya yang melorot akibat keringat tipis di batang hidung, lalu meniup sisa-sisa debu penghapus yang mengotori bidang gambarnya. Jari kelingkingnya sudah menghitam, terlumuri residu grafit pensil 2B yang sejak enam jam lalu tidak ia lepaskan. Di meja nomor sembilan, tiga baris di depannya, Maura masih bergeming. Gadis itu tampak seperti patung lilin yang dibungkus hoodie oversize warna sage green yang serat kainnya sudah mulai berudul di bagian siku.

Maura sedang bertarung dengan maket interiornya. Elian bisa melihat jemari gadis itu yang gemetar saat mencoba menempelkan potongan PVC foam board menggunakan lem UHU. Bau menyengat dari cairan perekat itu memenuhi radius dua meter di sekitar mereka, bercampur dengan aroma samar kopi saset dingin yang sudah mengendap di dasar gelas plastik di pojok meja Maura. Elian memperhatikan bagaimana Maura sesekali menyeka dahi dengan punggung tangan, meninggalkan noda putih lem yang mengering seperti sisik ikan di kulitnya. Maura tidak pernah menyukai sarung tangan plastik; katanya, ia perlu 'merasakan' tekstur material agar jiwanya masuk ke dalam rancangan. Sebuah idealisme yang menurut Elian sangat melelahkan, namun juga alasan mengapa ia tidak bisa memalingkan wajah dari gadis itu sejak semester tiga.

Suara kursi kayu yang berderit saat Elian berdiri memecah keheningan studio yang sepi. Hanya mereka berdua yang tersisa; mahasiswa lain sudah menyerah dan memilih tidur di atas tumpukan tas carrier di lorong atau pulang ke kosan. Elian berjalan mendekat, langkah sepatunya tertahan oleh rasa canggung. Ia meremas botol air mineral yang tinggal separuh di tangannya. Begitu sampai di samping meja Maura, ia bisa melihat detail yang lebih mikro: mata Maura yang kemerahan, kantung mata yang menghitam, dan beberapa helai rambut yang lolos dari ikatan jepit badainya yang retak di satu sisi. Maura tidak menoleh, ia hanya mengembuskan napas panjang yang terdengar seperti sebuah kekalahan kecil.

'Cutter-mu tumpul, Ra. Garis potongnya jadi berserat,' ucap Elian pelan, hampir berbisik agar suaranya tidak memantul terlalu keras di dinding studio yang tinggi. Ia meletakkan botol air mineral itu di satu-satunya ruang kosong di meja Maura yang tidak tertutup potongan kertas. Maura berhenti bergerak. Ia menatap potongan PVC di tangannya yang memang tampak kasar di bagian pinggir. Gadis itu menoleh ke arah Elian, memberikan tatapan yang kosong namun tajam. Cahaya lampu neon studio yang berkedip sedikit memberikan bayangan dramatis pada tulang pipinya yang menonjol.

'Aku lupa beli isi ulang di fotokopi depan sebelum mereka tutup jam sepuluh tadi,' jawab Maura. Suaranya serak, tipis seperti kertas tisu. Ia menggosok ujung jempolnya yang terkena lem kering, menciptakan suara gesekan yang ganjil di tengah kesunyian. Elian tanpa kata merogoh saku celana kargo hitamnya, mengeluarkan sebuah isi cutter merek Olfa yang masih terbungkus plastik kecil. Ia meletakkannya di samping botol air tadi. Maura melihat benda itu seolah-olah Elian baru saja memberinya sebongkah emas. Ada jeda panjang di mana mereka hanya saling tatap, diiringi suara 'klik-klik' pulpen Zebra Sarasa milik Maura yang tidak sengaja tersenggol dan jatuh ke lantai linoleum yang dingin.

Elian membungkuk untuk mengambil pulpen itu. Saat tangannya menyentuh lantai, ia merasakan betapa dinginnya suhu ruangan itu—mungkin sekitar 16 derajat. Maura pasti kedinginan, meski ia memakai hoodie tebal. Saat menyerahkan kembali pulpen itu, jemari mereka bersentuhan selama sepersekian detik. Kulit Maura terasa kasar karena debu maket, sementara tangan Elian dingin dan lembap. Kontak fisik singkat itu mengirimkan gelombang aneh yang membuat Elian ingin mengatakan sesuatu yang lebih dari sekadar urusan alat tulis, namun ia justru terdiam saat melihat setitik air mata mengumpul di sudut mata Maura.

'Aku nggak tahu apa maket ini bakal lolos asistensi besok, El,' bisik Maura tiba-tiba. Ia menunduk, menatap maketnya yang setengah jadi. 'Pak Danu bilang konsepku terlalu 'awang-awang'. Dia ingin sesuatu yang fungsional, bukan estetika yang nggak masuk akal.' Maura menarik napas pendek, mencoba menahan emosi yang hampir meledak. Elian memperhatikan bagaimana label merek botol air mineral yang ia berikan mulai mengelupas karena embun, persis seperti pertahanan diri Maura yang mulai luruh di hadapannya. Di luar jendela studio, lampu-lampu jalanan kampus berpijar kuning pucat, menerangi rintik gerimis tipis yang mulai turun, membasahi jok motor-motor yang terparkir rapi di bawah sana.

Elian menarik sebuah kursi kosong ke samping meja Maura, mengabaikan tumpukan tugas gambarnya sendiri yang masih terbengkalai. Ia mengambil cutter milik Maura, membuka slot isinya, dan menggantinya dengan bilah yang baru dengan gerakan yang sangat presisi. Suara 'srak' saat bilah cutter baru itu mengiris udara terasa sangat memuaskan. Elian tidak segera pergi. Ia mulai membantu memotong bagian-bagian kecil dari PVC board sesuai garis panduan yang dibuat Maura. Mereka bekerja dalam diam yang berbeda sekarang—bukan lagi diam yang asing, melainkan diam yang kooperatif. Sesekali, bahu mereka bersenggolan secara tidak sengaja, meninggalkan jejak panas di balik kain pakaian yang tebal. Di studio yang pengap oleh ambisi dan kecemasan itu, Elian menyadari bahwa terkadang, cinta bukan tentang pernyataan besar di bawah lampu taman, melainkan tentang tetap tinggal saat orang lain memilih untuk pulang dan tidur.

Jarum jam dinding di Studio Dua merambat menuju angka tiga pagi. Suara srek-srek dari silet cutter yang beradu dengan penggaris besi menjadi satu-satunya melodi yang memecah keheningan. Maura mengusap dahinya dengan punggung tangan, meninggalkan coretan tipis grafit yang kini melintang seperti luka perang di kulit pucatnya. Matanya yang merah karena kurang tidur tetap terpaku pada maket di depannya, sebuah konstruksi kompleks yang menolak untuk tunduk pada gravitasi.

"Lemnya jangan terlalu banyak, Maura. Nanti PVC-nya melenting," bisik Elian pelan. Ia tidak mengambil alih, ia hanya mengarahkan botol lem di tangan Maura dengan sentuhan lembut pada pergelangan tangannya.

Maura mengembuskan napas panjang, bahunya merosot. "Kalau ini gagal lagi, aku tidak tahu harus bagaimana, El. Semua perhitungan bebannya sudah benar, tapi sambungannya selalu retak."

Elian meletakkan ampelasnya. Ia bergeser lebih dekat, hingga aroma kopi dingin dan aroma menyengat dari lem UHU di antara mereka menjadi semakin pekat. Ia mengambil potongan kecil sisa PVC, lalu mulai mengikir sudutnya dengan presisi yang menenangkan. "Struktur itu seperti manusia," gumam Elian tanpa mengalihkan pandangan. "Kadang ia butuh penyangga sementara sebelum bisa berdiri tegak dengan kekuatannya sendiri. Jangan dipaksa kaku, biarkan ada ruang untuk bernapas."

Maura terdiam, memperhatikan jemari Elian yang lincah namun hati-hati. Ada ketenangan yang menular dari gerakan laki-laki itu. Kesadaran itu menghantamnya pelan; selama tiga tahun kuliah, ia selalu menganggap Elian sebagai saingan berat yang dingin. Namun malam ini, di bawah pendar lampu meja yang remang, ia melihat Elian yang berbeda—seseorang yang memahami bahwa keindahan seringkali lahir dari proses yang berantakan dan melelahkan.

Ketika fajar mulai mengintip dari balik jendela kaca studio yang berembun, maket itu akhirnya berdiri. Sebuah monumen kecil dari kerja keras, air mata tersembunyi, dan sisa-sisa grafit yang menempel di ujung jari mereka. Maura menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras, matanya menatap nanar pada karya mereka.

"Selesai?" tanya Maura dengan suara serak.

Elian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengulurkan tangan, telapak tangannya terbuka di atas meja. Maura ragu sejenak, lalu meletakkan tangannya di atas tangan Elian. Kulit mereka yang kasar karena debu maket bersentuhan, saling mentransfer kehangatan yang sisa. Tidak ada janji manis, tidak ada pengakuan dramatis. Hanya ada pengakuan bisu bahwa mereka telah melewati badai yang sama.

Elian bangkit, merapikan beberapa sisa potongan PVC yang berserakan, lalu menoleh ke arah Maura yang masih terpaku. "Ayo pulang. Sebentar lagi dosen-dosen akan datang, dan aku ingin kau setidaknya bermimpi sebentar sebelum presentasi dimulai."

Mereka berjalan keluar dari Studio Dua saat cahaya oranye mulai menyapu lorong kampus yang sunyi. Di tangan mereka, residu grafit hitam masih membekas—sebuah tanda permanen yang tidak ingin mereka hapus dengan segera. Elian berjalan di samping Maura, memastikan langkah gadis itu tetap stabil di tengah rasa kantuk yang mendera. Di titik itu, Maura mengerti bahwa cinta dalam dunia mereka tidak butuh metafora rumit; cinta adalah seseorang yang tetap memegang senter saat duniamu sedang kehilangan cahaya di tengah tenggat waktu yang mencekik.

Langkah kaki mereka bergema di koridor, meninggalkan studio yang kini hanya berisi debu dan keheningan yang damai. Mereka pulang bukan sebagai dua orang yang sekadar menyelesaikan tugas, melainkan sebagai dua jiwa yang telah menemukan titik tumpu di tengah ketidakpastian struktur hidup yang mereka bangun bersama.


💡 Pesan Moral:
Cinta sejati seringkali tidak ditemukan dalam kata-kata yang indah, melainkan dalam kesetiaan untuk saling mendukung dan bertahan di saat-saat tersulit dan paling melelahkan.

Blog Pemikir Cerdas sebagai media untuk berbagi informasi dan tutorial simple untuk dunia IT.

This Is The Newest Post
Comments

Masukan sahabat sangat berarti untuk perbaikan kedepannya.
EmoticonEmoticon