Malam di Kampus yang Bersembunyi

Malam di Kampus yang Bersembunyi
Di malam yang sunyi, kampus terasa seperti sebuah kota mati. Lampu-lampu jalan yang menyala lemah, memberikan cahaya yang kurang pada jalan-jalan yang kosong. Aku berjalan sendirian, dengan tas ranselku yang berat di bahu, menuju perpustakaan yang masih buka hingga malam. Suara langkah kakiku yang berdenting di lantai keramik terdengar jelas, seolah-olah aku sedang berjalan di sebuah koridor yang tidak ada ujungnya. Aku mempercepat langkahku, karena aku tahu bahwa perpustakaan akan segera tutup. Ketika aku tiba di perpustakaan, aku melihat seorang gadis yang duduk sendirian di meja belajar. Rambutnya yang panjang dan hitam tergerai di atas meja, dan matanya yang cantik terfokus pada buku yang dibacanya. Aku merasa tertarik pada gadis itu, namun aku tidak berani mendekatinya. Aku hanya berdiri di sana, memandanginya dari jauh, dan merasa seperti aku sedang berada di dalam sebuah mimpi.

Aku akhirnya memutuskan untuk duduk di meja belajar yang berdekatan dengan gadis itu. Aku mencoba untuk tidak menggangguinya, namun aku tidak bisa tidak memandanginya. Aku melihat bahwa gadis itu sedang membaca buku tentang psikologi, dan aku merasa penasaran tentang apa yang membuatnya tertarik pada subjek itu. Aku memutuskan untuk memperkenalkan diri, dan aku berharap bahwa aku tidak akan membuatnya merasa tidak nyaman.

'Halo,' aku berkata, mencoba untuk berbicara dengan suara yang lembut. 'Aku tidak bermaksud mengganggu, tapi aku tidak bisa tidak memandangimu. Kamu terlihat sangat fokus pada buku itu.'

Gadis itu menoleh ke arahku, dan aku melihat bahwa matanya yang cantik terlihat sedikit terkejut. Namun, ia kemudian tersenyum, dan aku merasa seperti aku sedang berada di dalam sebuah dunia yang berbeda.

'Halo,' ia berkata, dengan suara yang lembut. 'Aku sedang membaca buku tentang psikologi. Aku sangat tertarik pada subjek ini.'

Aku merasa seperti aku sedang berbicara dengan seseorang yang sangat spesial, dan aku tidak ingin percakapan ini berakhir. Aku ingin terus berbicara dengan gadis itu, dan aku ingin tahu lebih banyak tentang dirinya.

'Aku juga tertarik pada psikologi,' aku berkata, mencoba untuk menemukan kesamaan antara kita. 'Aku pikir itu sangat menarik, bagaimana otak kita bekerja, dan bagaimana kita dapat memahami diri kita sendiri.'

Gadis itu tersenyum lagi, dan aku merasa seperti aku sedang berada di dalam sebuah mimpi yang indah. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, namun aku tahu bahwa aku ingin terus berbicara dengan gadis itu, dan aku ingin tahu lebih banyak tentang dirinya.

Gadis itu tersenyum lagi, dan aku merasa seperti aku sedang berada di dalam sebuah mimpi yang indah. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, namun aku tahu bahwa aku ingin terus berbicara dengan gadis itu, dan aku ingin tahu lebih banyak tentang dirinya. Kami berjalan berdampingan, menelusuri koridor kampus yang sunyi, dengan suara langkah kaki yang berirama. Aku mencoba untuk mengingat nama gadis itu, tapi aku tidak yakin apakah aku pernah mendengarnya. 'Maaf, aku lupa, nama kamu siapa?' aku bertanya, merasa sedikit malu. Gadis itu tertawa, dan aku melihat kilatan cahaya di matanya. 'Aku Nisa,' kata gadis itu, dengan suara yang lembut. 'Dan kamu?' Aku memberitahu Nisa tentang namaku, dan kami terus berbicara tentang berbagai hal, dari psikologi hingga musik, dan dari film hingga buku. Aku merasa seperti aku telah mengenal Nisa selama bertahun-tahun, bukan hanya beberapa menit. Kami berhenti di depan sebuah bangku, dan Nisa duduk, dengan aku berdiri di sampingnya. Aku melihat ke sekeliling, dan aku lihat bahwa kampus itu sangat sunyi, dengan beberapa lampu yang menyala di kejauhan. Aku merasa seperti aku dan Nisa adalah dua orang yang terakhir di dunia. Nisa memandang aku, dengan mata yang dalam, dan aku merasa seperti aku sedang tenggelam di dalamnya. 'Aku senang bertemu kamu,' kata Nisa, dengan suara yang lembut. 'Aku juga,' aku jawab, dengan suara yang hampir tidak terdengar. Kami berdua terdiam, dengan hanya suara jangkrik yang terdengar di kejauhan. Aku merasa seperti aku sedang berada di dalam sebuah momen yang sangat istimewa, sebuah momen yang tidak akan pernah aku lupakan. Dan kemudian, Nisa berbicara lagi, 'Aku harus pergi sekarang.' Aku merasa kecewa, tapi aku juga mengerti. 'Baik,' aku katakan, dengan suara yang sedih. Nisa berdiri, dan aku melihatnya pergi, dengan perasaan yang campur aduk. Aku merasa seperti aku telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga, tapi aku juga merasa seperti aku telah menemukan sesuatu yang sangat istimewa. Aku berdiri di sana, dengan mata yang memandang ke arah Nisa yang telah pergi, dan aku merasa seperti aku sedang berada di dalam sebuah mimpi yang indah, sebuah mimpi yang tidak akan pernah aku lupakan. Dan ketika aku sadar, aku telah menyadari bahwa aku telah jatuh cinta dengan Nisa, dengan semua kelemahan dan kekuatannya. Aku telah menyadari bahwa cinta itu tidak harus memiliki alasan yang rasional, tapi itu bisa membuat hidup kita menjadi lebih indah dan lebih berarti. Akhirnya, aku tersenyum, karena aku tahu bahwa aku akan selalu mengingat Nisa, dan aku akan selalu mencari cara untuk membuatnya bahagia.


💡 Pesan Moral:
Cinta itu tidak harus memiliki alasan yang rasional, tapi itu bisa membuat hidup kita menjadi lebih indah dan lebih berarti, dan bahwa keberanian untuk mengungkapkan perasaan kita bisa membuat kita menemukan kebahagiaan yang sebenarnya.

Blog Pemikir Cerdas sebagai media untuk berbagi informasi dan tutorial simple untuk dunia IT.

This Is The Newest Post
Comments

Masukan sahabat sangat berarti untuk perbaikan kedepannya.
EmoticonEmoticon