Malam itu, aku berjalan sendirian di kampus yang sunyi. Lampu-lampu jalan yang berderet seperti bintang-bintang kecil di langit, menerangi jalan yang kutempuh. Aku memakai jaket kulit hitam yang sudah mulai kusam di bagian siku, dan sepatu boots yang berdebu dari perjalanan kuliah yang panjang. Di tangan kananku, aku membawa tas ransel yang sudah mulai robek di bagian bawah, berisi laptop dan buku-buku yang aku bawa ke perpustakaan.
Aku memutuskan untuk duduk di bangku taman yang terletak di depan perpustakaan, menikmati udara malam yang sejuk dan tenang. Suara jangkrik dan burung hantu terdengar dari kejauhan, seperti musik alam yang memanjakan telinga. Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan kelegaan setelah seharian berjuang dengan revisi skripsi yang tak kunjung selesai.
Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Aku menoleh ke kanan, dan kulihat seorang gadis cantik dengan rambut panjang yang tergerai di punggungnya, dan mata yang bercahaya seperti bintang di malam hari. Ia memakai kemeja putih yang terbuka di bagian leher, dan celana jeans yang ketat di bagian pinggang. Ia membawa tas kanvas yang sudah mulai pudar warnanya di bagian bahu, dan memiliki senyum yang manis di wajahnya.
'Permisi,' katanya, saat ia duduk di sebelahku. 'Boleh aku duduk di sini?'
Aku mengangguk, dan ia duduk di sebelahku, menatap ke depan dengan mata yang terfokus pada suatu titik. Kami duduk diam selama beberapa menit, menikmati keheningan malam dan kesunyian kampus. Lalu, ia memutuskan untuk berbicara, dan aku mendengarkan dengan saksama, merasakan getaran hati yang tak terduga.
Ia memulai percakapannya dengan suara yang lembut, seperti angin malam yang membawa kesejukan. 'Aku suka duduk di tempat seperti ini,' katanya, 'di mana bintang-bintang kelihatan dengan jelas dan suara hening malam mengalun dengan santai.' Aku mendengarkan dengan saksama, merasakan bahwa ada sesuatu di balik kata-katanya yang ingin ia ungkapkan. Ketika ia berhenti berbicara, kami kembali duduk dalam keheningan, hanya suara jangkrik dan deburan angin yang memecahkan kesunyian. Lalu, ia kembali berbicara, 'Aku memiliki kesulitan untuk menyampaikan perasaanku kepada seseorang.' Ia menunduk, dan aku bisa melihat bayangan kecil di bawah matanya yang terlihat sedih. 'Aku merasa ada yang kurang dalam hidupku, tapi aku tidak tahu apa itu.' Aku merasakan simpati yang mendalam terhadapnya, dan tanpa berpikir panjang, aku mengulurkan tangan dan memegang tangannya. Ia menoleh kepadaku, terkejut sejenak, lalu kemudian tersenyum. 'Terima kasih,' katanya, suaranya bergetar. 'Aku merasa sedikit lebih baik sekarang.' Kami duduk seperti itu selama beberapa saat, menikmati keheningan malam dan kehangatan tangan kami yang bersentuhan. Lalu, ia memutuskan untuk berdiri, 'Aku harus pergi sekarang,' katanya. 'Tapi terima kasih telah mendengarkan aku.' Aku mengangguk, merasakan sedikit kehilangan ketika ia melepaskan tangannya dari genggamanku. 'Kamu tidak sendirian,' aku berkata, 'dan akan selalu ada orang yang mau mendengarkan.' Ia tersenyum, dan aku bisa melihat kesedihan di matanya mulai memudar. 'Aku akan ingat itu,' katanya, sebelum berbalik dan pergi, meninggalkan aku sendirian di tempat itu. Aku menatap ke langit, merasakan bintang-bintang di atasku seperti berkelip-kelip, seolah mengingatkanku bahwa hidup ini penuh dengan misteri dan keindahan yang tak terduga. Dan di detik itu, aku menyadari bahwa sometimes, all someone needs is someone to listen, dan bahwa kehadiran seseorang bisa menjadi cahaya di malam yang gelap.
Aku memutuskan untuk duduk di bangku taman yang terletak di depan perpustakaan, menikmati udara malam yang sejuk dan tenang. Suara jangkrik dan burung hantu terdengar dari kejauhan, seperti musik alam yang memanjakan telinga. Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan kelegaan setelah seharian berjuang dengan revisi skripsi yang tak kunjung selesai.
Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Aku menoleh ke kanan, dan kulihat seorang gadis cantik dengan rambut panjang yang tergerai di punggungnya, dan mata yang bercahaya seperti bintang di malam hari. Ia memakai kemeja putih yang terbuka di bagian leher, dan celana jeans yang ketat di bagian pinggang. Ia membawa tas kanvas yang sudah mulai pudar warnanya di bagian bahu, dan memiliki senyum yang manis di wajahnya.
'Permisi,' katanya, saat ia duduk di sebelahku. 'Boleh aku duduk di sini?'
Aku mengangguk, dan ia duduk di sebelahku, menatap ke depan dengan mata yang terfokus pada suatu titik. Kami duduk diam selama beberapa menit, menikmati keheningan malam dan kesunyian kampus. Lalu, ia memutuskan untuk berbicara, dan aku mendengarkan dengan saksama, merasakan getaran hati yang tak terduga.
Ia memulai percakapannya dengan suara yang lembut, seperti angin malam yang membawa kesejukan. 'Aku suka duduk di tempat seperti ini,' katanya, 'di mana bintang-bintang kelihatan dengan jelas dan suara hening malam mengalun dengan santai.' Aku mendengarkan dengan saksama, merasakan bahwa ada sesuatu di balik kata-katanya yang ingin ia ungkapkan. Ketika ia berhenti berbicara, kami kembali duduk dalam keheningan, hanya suara jangkrik dan deburan angin yang memecahkan kesunyian. Lalu, ia kembali berbicara, 'Aku memiliki kesulitan untuk menyampaikan perasaanku kepada seseorang.' Ia menunduk, dan aku bisa melihat bayangan kecil di bawah matanya yang terlihat sedih. 'Aku merasa ada yang kurang dalam hidupku, tapi aku tidak tahu apa itu.' Aku merasakan simpati yang mendalam terhadapnya, dan tanpa berpikir panjang, aku mengulurkan tangan dan memegang tangannya. Ia menoleh kepadaku, terkejut sejenak, lalu kemudian tersenyum. 'Terima kasih,' katanya, suaranya bergetar. 'Aku merasa sedikit lebih baik sekarang.' Kami duduk seperti itu selama beberapa saat, menikmati keheningan malam dan kehangatan tangan kami yang bersentuhan. Lalu, ia memutuskan untuk berdiri, 'Aku harus pergi sekarang,' katanya. 'Tapi terima kasih telah mendengarkan aku.' Aku mengangguk, merasakan sedikit kehilangan ketika ia melepaskan tangannya dari genggamanku. 'Kamu tidak sendirian,' aku berkata, 'dan akan selalu ada orang yang mau mendengarkan.' Ia tersenyum, dan aku bisa melihat kesedihan di matanya mulai memudar. 'Aku akan ingat itu,' katanya, sebelum berbalik dan pergi, meninggalkan aku sendirian di tempat itu. Aku menatap ke langit, merasakan bintang-bintang di atasku seperti berkelip-kelip, seolah mengingatkanku bahwa hidup ini penuh dengan misteri dan keindahan yang tak terduga. Dan di detik itu, aku menyadari bahwa sometimes, all someone needs is someone to listen, dan bahwa kehadiran seseorang bisa menjadi cahaya di malam yang gelap.
💡 Pesan Moral:
Kehadiran seseorang bisa menjadi cahaya di malam yang gelap, dan sometimes, all someone needs is someone to listen.
Kehadiran seseorang bisa menjadi cahaya di malam yang gelap, dan sometimes, all someone needs is someone to listen.
