Alvaro menghela napas, memikirkan tentang pertemuan dengan dosen pembimbingnya yang akan berlangsung keesokan hari. Ia takut bahwa skripsinya tidak cukup baik, dan bahwa ia tidak cukup siap untuk mempresentasikannya. Ia memandang keluar jendela lagi, melihat mahasiswa lain yang sedang berjalan-jalan di sekitar kampus, menikmati keheningan dan keindahan alam. Ia merasa iri, karena mereka tampaknya tidak memiliki masalah seperti yang ia hadapi.
Tiba-tiba, Alvaro mendengar suara pintu kamar kosannya terbuka. Ia menoleh, dan melihat temannya, Lyra, berdiri di ambang pintu dengan senyum yang lembut. Lyra memasuki kamar, dan duduk di samping Alvaro, memandang keluar jendela bersama-sama. Mereka tidak berbicara banyak, hanya menikmati kesunyian dan keindahan alam bersama-sama. Alvaro merasa sedikit lega, karena Lyra hadir di sampingnya, dan karena ia tahu bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi masalahnya.
Setelah beberapa saat, Lyra berbicara, dengan suara yang lembut dan penuh perhatian. 'Alvaro, apa yang terjadi? Kamu tampaknya sangat terpuruk.' Alvaro menghela napas, dan memandang Lyra dengan tatapan yang dalam. Ia mulai berbicara, mengeluarkan semua pikiran dan perasaannya, tentang skripsi, tentang dosen pembimbingnya, tentang ketakutannya. Lyra mendengarkan dengan sabar, memandang Alvaro dengan mata yang penuh perhatian. Alvaro merasa sedikit lega, karena ia bisa mengeluarkan semua yang ia rasakan, dan karena ia tahu bahwa Lyra ada di sampingnya untuk mendukungnya.
Ketika Alvaro selesai berbicara, Lyra memandangnya dengan senyum yang lembut. 'Alvaro, kamu tidak sendirian. Saya ada di sini untuk membantu kamu. Dan kamu tidak perlu takut, karena kamu memiliki kemampuan untuk menyelesaikan skripsi itu.' Alvaro merasa sedikit lebih baik, karena ia tahu bahwa Lyra percaya padanya, dan karena ia tahu bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi masalahnya. Ia memandang keluar jendela lagi, melihat mahasiswa lain yang sedang berjalan-jalan di sekitar kampus, dan ia merasa sedikit lebih siap untuk menghadapi tantangan yang akan datang.
Namun, ketika Alvaro memandang Lyra, ia melihat sesuatu yang membuatnya terkejut. Ia melihat Lyra memandangnya dengan tatapan yang dalam, dengan mata yang penuh perhatian. Alvaro merasa sedikit tidak nyaman, karena ia tidak tahu apa yang Lyra rasakan. Ia memandang keluar jendela lagi, mencoba untuk menghindari tatapan Lyra. Tapi, ia tahu bahwa ia tidak bisa menghindarinya selamanya. Ia harus menghadapi perasaan Lyra, dan ia harus menghadapi perasaan sendiri.
Alvaro mencoba untuk mengalihkan perhatian dengan memandang ke luar jendela lagi, tetapi matanya tidak bisa fokus pada pemandangan di luar. Ia merasa seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya, membuatnya sulit untuk menelan. Ia tahu bahwa ia harus menghadapi perasaan Lyra, tapi ia tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Lyra, di sisi lain, masih memandang Alvaro dengan tatapan yang dalam, seperti mencoba untuk memahami apa yang sedang terjadi di dalam kepala Alvaro. Alvaro merasa seperti sedang diawasi, dan itu membuatnya merasa tidak nyaman. Ia mencoba untuk berbicara, tapi kata-katanya terjebak di tenggorokannya. Lyra, memperhatikan kesulitan Alvaro, memutuskan untuk memecahkan keheningan. 'Alvaro, apa yang sedang terjadi?' tanyanya, suaranya lembut dan penuh perhatian. Alvaro merasa like sedang dihadapkan pada pertanyaan yang sangat sulit, tapi ia tahu bahwa ia harus menjawabnya. 'Aku... aku tidak tahu,' ujarnya, suaranya terbata-bata. Lyra memandang Alvaro dengan tatapan yang penuh pengertian, seperti mencoba untuk memahami apa yang sedang terjadi di dalam kepala Alvaro. 'Kamu bisa cerita padaku, Alvaro,' ujarnya, suaranya penuh dengan kepercayaan. Alvaro merasa seperti sedang dihadapkan pada pilihan yang sulit, tapi ia tahu bahwa ia harus membuat keputusan. Ia memandang Lyra, dan ia melihat sesuatu di dalam matanya yang membuatnya merasa seperti bisa mempercayai Lyra. 'Aku... aku merasa seperti aku sedang kehilangan diriku sendiri,' ujarnya, suaranya hampir tidak terdengar. Lyra memandang Alvaro dengan tatapan yang penuh pengertian, seperti mencoba untuk memahami apa yang sedang terjadi di dalam kepala Alvaro. 'Kamu tidak sendirian, Alvaro,' ujarnya, suaranya penuh dengan kepercayaan. 'Aku akan selalu ada di sini untukmu.' Alvaro merasa seperti sedang menerima sesuatu yang sangat berharga, seperti sedang menerima kepercayaan dari seseorang yang ia percayai. Ia memandang Lyra, dan ia melihat sesuatu di dalam matanya yang membuatnya merasa seperti bisa mempercayai Lyra. Ia tahu bahwa ia masih memiliki jalan panjang untuk dilalui, tapi ia juga tahu bahwa ia tidak sendirian. Ia memiliki Lyra, dan itu membuatnya merasa seperti bisa menghadapi apa pun yang akan datang.
Pada akhirnya, Alvaro menyadari bahwa ia tidak perlu menghadapi tantangan sendirian. Ia memiliki Lyra, dan itu membuatnya merasa seperti bisa menghadapi apa pun yang akan datang. Ia tahu bahwa ia masih memiliki jalan panjang untuk dilalui, tapi ia juga tahu bahwa ia tidak sendirian. Ia memiliki seseorang yang percaya padanya, dan itu membuatnya merasa seperti bisa menghadapi apa pun yang akan datang.
Kita tidak perlu menghadapi tantangan sendirian, kita bisa memiliki seseorang yang percaya pad kita dan membantu kita menghadapi apa pun yang akan datang.