Cerpen Pendidikan - LELAKI BERHATI CAHAYA


LELAKI BERHATI CAHAYA

Dimulai dari judul cerpen ini, bagi yang suka baca cerpen tentu membuat penasaran. "Lelaki berhati cahaya" Nah apa lagi wanita tu , penasaran kali tentunya. Seperti apa sih lelaki yang berhati cahaya ini. Cerpen ini PC share disini karena banyak memiliki hal positif yang dapat kita ambil. Ya semoga para sahabat yang membaca cerpen ini mendapatkan hidayah dan dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Lelaki Berhati Cahaya

By : Helvy Tiana Rosa

Satu persatu anak-anak usia SMP di hadapanku beringsut, bangkit dan berlalu tanpa pamit.

Aku terus berbicara perihal hidup Rasulullah Muhammad SAW. Kutahan sedikit deburan di hatiku.

Kini, dari dua puluh, hanya tersisa sekitar tujuh anak. Lelaki semua. Anak-anak wanita yang duduk di belakang kini sudah tak tersisa. Mereka pulang. Sementara tujuh anak di hadapanku tampak sibuk sendiri. Berbisik, ngobrol, dan baca majalah. Masih ada waktu hampir satu jam lagi, tetapi kusudahi ceramahku.

"Minggu depan Mas Tomi datang 'kan?" tanya seorang anak.

"Bukan Mas lagi kan yang mengisi?" tanya yang lain.

"Ya, Insya Allah. Saya cuma menggantikan." suaraku terdengar lebih parau.

"Hari ini Mas Tomi ada acara."

"Alhamdulillah," seru anak-anak itu.

"Kami duluan, Mas.

Assalamu'alaikuuuuuuuuuum."

Aku menjawab salam dan tersenyum. Tapi mungkin senyumanku lebih mirip seringai, sehingga tanpa sedikit pun menatap, anak-anak itu berlarian keluar.

Astaghfirullah. Kubilang apa, Tom..., aku gagal lagi!

Kutarik napas panjang. Ada segores perih di hati. Segores.

***

Pulang dari Mushola An-Nur di dekat rumah Tomy tadi, aku naik bis menuju kostku di bilangan Ciliwung. Tumben bis tak seramai biasa. Aku duduk. Di sebelahku, seorang bapak tertidur, terkantuk-kantuk.

"Weiss, gila! Ini baru "the beast" yang asli!"

Aku menoleh dari tempat duduk. Tak jauh di belakangku, beberapa gadis SMA cekikikan seraya menutup separuh wajah mereka.

Tepat di belakangku, kutemui seorang bapak tua menatapku penuh kasihan. Ia hampir tak berkedip!

Aku bersikap biasa. Pura-pura tidak tahu.

Di Cawang naik seorang wanita hamil. Bangku sudah terisi semua. Wanita itu celingukan mencari tempat duduk.

"Silakan, Mbak...," Aku berdiri dengan menunduk. Menyilakannya duduk di bangkuku.

"Hiii, amit-amit jabang bayi! Jabang bayi!" pekik wanita itu tiba-tiba sambil membuang mukanya.

Aku terkejut. Para penumpang lain memandang ke arah aku dan wanita hamil itu. Dan...ketika mereka benar-benar melihatku, bias pandang curiga yang tampak. Suasana jadi agak gaduh. Wanita hamil itu tetap tak mau duduk di kursiku. Berdiri sambil membuang muka.

"Ciliwung! Ciliwung!"

Aku melangkah menuju pintu belakang. Lebih baik aku turun saja. Kulihat wanita hamil muda tadi melap bangku yang tadi kududuki dengan tissue kuat-kuat. Sekilas ia komat- kamit sambil mengusap perutnya, baru duduk.

Aku menunduk dengan dagu yang nyaris rapat de-ngan dada.

Astaghfirullah..., Robbi, jangan sampai hambaMu yang lemah ini berprasangka yang tidak-tidak pada para penghuni bis. Pada para..., astaghfirullah.

Dzikir kian membuat hatiku lapang. Ah, lebih baik aku turun saja.

"Kiri ya, Pak...," ujarku pelan, pada kenek di sampingku.

Kenek bis buru-buru minggir.

"Cawang atas, kiriiii!" katanya dengan wajah yang tiba-tiba pucat.

Ah, mungkin dia belum sarapan. Aku senyum sendiri. Coba menghalau perih.

***

"Copet! Copeet! Copeet!"

Aku menoleh ke belakang! Kulihat seorang lelaki menarik paksa tas seorang Ibu tua... dan berlari kencang meninggalkan Ibu tua yang berteriak itu. Tanpa berpikir panjang kukejar lelaki tadi. Jalanan memang agak sepi sehingga teriak si korban hampir tak ada yang men-dengar.

Ibu tua itu terus berteriak histeris. Aku masih berlari mengejar pencopet tadi. Nafasku mulai tersengal-sengal. Wah, larinya cepat sekali!

"Copet! Copeeet! Copeeettt!"
"Hah?"

Aku menoleh ke belakang. Innalilahi, ya Allah...! Aku terkejut! Terkejut sekali! Di belakangku, kini belasan...mungkin...puluhan orang mengejar...copet...! Aku menoleh lagi. Mereka menuding-nuding ke arahku. Menimpukiku dengan batu!

Ya Allah..., dadaku berdebar keras. Kenapa jadi aku? Apa salahku? Ah, aku harus menjelaskan hal ini pada mereka. Tapi... ah, tak mungkin. Aku bisa bonyok! Bisa dihakimi massa.

Aku terus berlari! Nah! Nah itu dia!
Kulihat pencopet yang asli kelabakan. Larinya hampir tersusul olehku!

"Berhenti!" teriakku. "Menyerahlah!"

Pencopet itu terus berlari. Kini dibuangnya tas Ibu tadi ke sisi jalan. Sekuat tenaga...aku melompat...hap! Kutubruk dia! Kupegang kakinya! Pencopet itu meronta-ronta.
Aku berhasil menangkapnya. Kubawa ia ke balik semak yang ada di sisi jalan. Tas Ibu tadi bersamaku. Tas itu akan jadi bukti. Tapi aku tak mau lelaki ini dihakimi massa. Kasihan. Aku yakin ia dalam keadaan kepepet. Kalau tidak...masak ia mau jadi pencopet.

"Kita...bagi dua...ya?!" suara pencopet itu.

"Tidak. Kita ke kantor polisi," kataku tegas.

"Sembunyi, orang-orang itu membawa ber-bagai senjata. Aku takut mereka mengeroyokmu!"

Massa yang mengejar, melewati persembunyian kami. Aku menahan napas.
Tiba-tiba tak kunyana, si pencopet berontak dan lepas dariku! Ia segera keluar dari semak-semak...dan...dia berseru keras;

"Pencopetnya di sini! Copet! Ia di sini!"

Aku tersentak! Pencopet itu berteriak memanggil massa seolah aku yang mencopet.

Aku keluar dari persembunyian dan berlari! Berlari...terus berlari...wajahku berdarah sempat terkena bogem mentah dan timpukan batu!

Ya Robbi! Aku terus berlari! Dadaku turun naik. Maafkan aku ya Robbi, hari ini aku menangis..., hal yang paling tak pernah kulaku-kan. Menangisi keadaanku. Astaghfirullah....

Aku menyeberang jalan, mengambil arah berlawanan dan kembali menuju rumah Tomi, teman Rohis-ku di SMA yang kini kuliah di UI....

"Assalamu'alaikum...."
Suara Tomi yang sangat kukenal menjawab salam dari dalam. Dan ketika ia membuka pintu....

"Astaghfirullah, Innalillahi..., apa yang terjadi, Mir ? Ya Robbi, wajahmu memar dan berdarah."

Aku tak sanggup bercerita apa pun. Bahkan berkata sepatah pun tidak. Aku terjatuh dan tak ingat apa-apa lagi.

***

Sudah Ibu katakan, jangan bawa teman kamu yang menyeramkan itu kemari lagi! Kamu kok bandel sih, Tom! Ibu tidak mau rumah kita jadi kotor!"

"Ibu, Amir itu teman Tomi yang paling baik yang pernah Tomi punya. Dia anak baik, Bu. Pemuda yang bagus keislamannya. Tomi banyak belajar darinya. Bukankah Ibu yang mau Tomi berteman dengan pemuda yang alim...dan kini...."

"Kamu suka melawan Ibu, sejak kenal sama dia! Sudah sana, suruh dia pergi! Pasti orangtuanya nggak benar makanya punya anak seperti itu! Orangtuanya saja menelantarkan dia di panti. Tak mau menerima dia. Sekarang kamu terima dia di sini! Ibu tidak sudi!"

"Ibu..., astaghfirullah, apakah Ibu tidak ingat betapa Rasul sangat mencintai mereka yang saleh walau bagaimana pun rupanya? Sesungguhnya Allah hanya melihat hati, bu... bukan melihat rupa kita...."

"Diam kowe!"

"Bu!"

Aku bangkit dari tempat tidur Tomi pelan-pelan. Aku tak ingin hubungan Tommy dan Ibunya rusak gara-gara aku. Kukenakan sandal dan berjalan pulang lewat pintu samping kamar Tomi. Kulemparkan kunci pintu ke dalam kamar lewat jendela.

"Assalamu'alaikum, Tom..., maafkan aku."

***

Di mushola kayu yang rapuh, di tepi kali Ciliwung, kulaksanakan salat Maghrib. Sejuk rasanya diri bersentuh dengan air wudu dan menyadari bahwa Ilahi Rabbi selalu siap menerima hamba yang memasuki rumahNya. Bagaimana pun keadaan hambaNya. Bagaimana buruk pun rupanya.

Subhanallah, betapa Sang Maha Akbar, Sang Penguasa begitu 'santun' dan penyayangnya. Subhanallah....

Kullu man 'alaihaa faan wa yabqaa wajhu Rabbikadzul jalaali wal ikraam fabiayyi alaa-i Rabbikumaa tukadziibaan yas-aluhuu man fissamaawaati wal ardh kulla yaumin huwa fil sya'n fabiayyi alaa-i Rabbkumaa tu- kadzdzibaan....


Aku menangis mendengar lantunan surat Ar-Rahman yang dibaca Imam salat. Tubuhku bergetar hebat. Air mataku kian deras.

"Wahai Amir, fa biayyi alaa-i Rabbikumaa tukadzibaan ? Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan ?"

Selesai sholat, para jamaah bersalam-salaman. Tapi tak ada yang menyalamiku. Seperti hari-hari kemarin, aku yang menghampiri. Ada yang agak berbesar hati, meringis dan menyalamiku sekenanya. Banyak juga yang melengos begitu saja. Aku tersenyum getir.

Sejak sebulan yang lalu aku mengontrak sepetak ruangan di dekat tempat ini. Aku berusaha mengenal, bersikap ramah pada penduduk sekitar. Tapi...ya, hampir tak ada respon. Hanya anak-anak kecil yang selalu mengintil kala aku berjalan pulang. Mereka bersorak sorai, seolah mengarakku. Aku pernah berusaha untuk bisa lebih dekat. Sepulang bekerja menjadi buruh bangunan, aku mengajak anak-anak sana mengaji. Tapi tak ada yang pernah datang. Bahkan pernah aku diusir ketika menjenguk tetangga yang sakit. Kata kerabatnya, si sakit terganggu oleh kehadiranku. Aku cuma bisa senyum kecut. Pamit.

"Tolooooong! Toloooong! Tolooooongggggg!" terdengar jeritan histeris. Orang-orang di musala saling berpandangan was-was.

"Tolooong, tolongin aye...anak aye si Mimin kecebur ke kali! Toloong!!" suara Bu Enim.

"Di kali ini, Bu?" tanya Pak RT.

"Iye, cepet tulungin. Aye takut die mati!" Bu Enim menangis keras.

Semua saling berpandangan.

Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera melompat ke dalam kali Ciliwung yang mulai menderas. Ah, hari sudah gelap lagi! Orang-orang berteriak-teriak. Ya Allah, tolong para hamba-Mu ini. Ya Robbi, mudah-mudahan kemampuan berenangku yang cukup baik ini, bisa membantu.

Aku menyelam ke kali yang amat kotor ini. Segala sampah jadi satu di sini. "Mimiiiin!"

Kulihat beberapa jarak di depanku tangan mungil Mimin menggapai-gapai. Aku terus berenang, cepat memeluk dan mengangkat. Anak itu sudah lemas. Mudah-mudahan masih bisa ditolong.

Para warga mengulurkan tali tambang. Aku memanjat dengan menggendong anak usia tujuh tahun itu. Begitu sampai di darat, dengan tubuh yang masih kotor, kubopong Mimin ke rumah sakit. Susah sekali mencoba menumpang pada mobil yang lewat. Maklum, penduduk tepi Ciliwung mana yang punya mobil sendiri. Akhirnya aku nekad, berdiri di tengah jalan, menghentikan sebuah mobil yang melintas.

"Tolong, Pak! Anak ini hampir meninggal!"
"Ya, masuk!" kata bapak itu dengan wajah masam.

Aku, Pak RT, dan Bu Enim mengantar Mimin ke rumah sakit.
Bayangkan, bagaimana sambutan rumah sakit, terutama terhadapku. Buruk rupa, kotor, bau lagi....

Setelah cebar-cebur sedikit di kamar mandi rumah sakit, aku naik bis pulang dengan baju basah. Sendiri.

Kenapa aku jadi begini, ya?

Ya Allah, semoga Mimin selamat. Amin.

***

Masih bau kali. Ah, mudah-mudahan itu hanya perasaanku saja.
Aku bergegas ke luar rumah. Mau ke Pasar Minggu, jalan sebentar. Siapa tahu bisa ketemu Tomi. Biasanya dia ngajar ngaji di mesjid daerah situ setiap malam Minggu.

"Mau kemana, Nak Amir?" suara seseorang menyapaku.

Aku terkejut. "Eh, Pak Idris...mau jalan sebentar," jawabku masih dengan kagetan. Aku ditegur Pak Idris! Subhanallah!

"Baek-baek jalan malem gini, nak. Suka banyak anak berandal...."

"Eh, Mpok Encum...mari, mari Mpok, assalamu'alaikum," jawabku lagi-lagi kaget! Nggak salah nih..., Mpok Encum ramah? Pada ku?

Aku terus melangkah. Entah mengapa langkahku jadi makin mantap. Ada sedikit kegembiraan di sana. Aku ditegur? Aku?

***

"Hati-hati, Kek..., mau ke mana?" tanyaku baik-baik.
Sepasang Kakek Nenek yang benar-benar telah lanjut usia, sedikit melihat ke arahku, Kutangkap kebingungan mereka sejak tadi, di antara deru debu lalulintas malam.

"Bade...ka...kota, jang...," jawab si Nenek.
"Kota mana?"
"Pokoknya mah kota...."
"Kakek nenek dari mana?"
"Dari Ciujung. Saya mah mau ka kota...."

Susah payah kucoba menangkap kata-katanya. Alhamdulillah, maksud dia ternyata kota, daerah Jakarta Barat.

"Punya ongkos, Kek?"
"Ongkos?"
"Iya...uang buat jalan...."
"Da' masih banyak. Yeuh coba lihat...! kata si kakek.
Ya Allah, mereka benar-benar pikun. Kasihan. Uangnya tinggal satu, dua...tujuh lembar! Tujuh ribu!

Saya antar mau, Kek?"
"Emang si Ujang mau ka kota juga?"

Akhirnya aku mengangguk. Ya, Allah, anak macam apa yang tega menelantarkan orangtuanya seperti ini? Aku yang beristighfar. Rumah anaknya ternyata dekat Beos. Orang tak punya sekali. Dia marah-marah ortunya datang. Malah aku diusir lagi. Sebelum pergi aku masih menyelipkan uang dua puluh ribu rupiah pada si kakek.

"Kek, hati-hati."
Mereka mengangguk. Tertawa memamerkan deretan gigi yang tak ada. Ah, mereka terlalu pikun untuk bisa melihat wajahku. Alhamdulillah.

Aku menuju Pasar Baru, dari sana aku akan naik bis ke Pasar Minggu. Semoga Tomi belum pulang. Malam Minggu begini biasanya ia sering beri'tikaf bersamaku di masjid Al-Huda, Pasar Minggu.

Ah, anak UI itu memang temanku yang paling setia....

Jam 21.30 aku sampai di Pasar Minggu. Baru saja mau melangkah, seorang pengemis cacat mengesot lewat dihadapanku.

"Ya, Amir, sisihkan rejekimu. Ada hak orang itu dalam uangmu! Kuberikan uang seribu rupiah dan berlalu. Alhamdulillah, uangku masih ada sekitar tujuh ribu lagi."

Aku masuk ke sebuah warteg yang sepi sambil menunduk. Kupesan makanan. Sejak siang tadi, perutku belum diisi. Lapar sekali.

"Pakai apa, Mas?"
"Telur sama sayur," jawabku.

Aku baru akan memasukkan suapan pertama ketika...ya Allah! Di luar warung itu kulihat seorang anak kecil sekitar usia tujuh tahun, duduk termenung di jalan, mengusap-usap matanya. Ia mencoba lebih menepi. Mengintip-intip ke arah warung. Matanya berputar-putar menatap lauk pauk.

Aku jadi ingat diriku dulu. Usia segitu aku sudah menjadi pencuci piring di sebuah warteg. Pemilik warteg baik hati dan mau menyekolahkanku dengan syarat, aku tak boleh keluar kamar kalau ada tamu yang makan.
Aku bangkit, menatap anak itu. Wajahnya aneh. Sekujur kulitnya seperti bersisik. Aku seperti melihat bayanganku.
"Mau makan?" tanyaku dari jauh. Kusodorkan nasi berlauk telur dan sayur milikku padanya. Tanpa berkata ia mengambil piringku dan makan di pinggir jalan dengan acuh tak acuh.

"Sudah baca bismillah?" tanyaku. Anak itu menatapku tak berkedip. "Bis...mil...lah...," kataku mengeja.

"U...u...i...a...a...," katanya.
Aku tersentak! Ia bisu! Ya Allah, betapa malang anak ini. Fabiayyi alla-i Rabbikumaa tukadziban ya Amir? Aku jadi....

"Mbak, nasinya setengah dibungkus," kataku lagi pada pemilik warung.

"Pakai apa?"

"Sayur saja," kataku memesan. Ini untukku, pikirku. "Ini semua saya bayar. Oya, siapa anak itu?"
"Oooo, itu si Tole! Disuruh ngemis sama bapaknya yang tukang judi!"

Aku menarik nafas panjang. Ingin hatiku mengajaknya tinggal bersamaku tapi ... rumah-ku sepetak, uang kadang ada kadang tiada. Ah, hasbunallah wa ni'mal wakiiil.
Aku menyeberang jalan. Nah itu dia Al-Huda! Sepi, mungkin pengajian sudah usai. Tiba-tiba ..., seorang buta menabrakku keras!

"Mmm maaf Tuan, ti...tidak se...ngaja," katanya takut- takut.

"Tidak apa-apa, Pak," balasku. Ya Allah, kasihan sekali sudah tua. Kurogoh kantungku. Uangku tinggal dua ribu rupiah lagi! Alhamdulillah, ada kesempatan beramal.

"Pak hati-hati jalannya," kataku sambil menyisipkan seribu rupiah padanya. Cukuplah bagiku seribu untuk pulang.

"Lho, dikasih uang...bapak? Makasih...,makasih, Tuan...."

Aku melangkah menuju masjid. Lamat-lamat kudengar sebuah suara. Suara yang amat kukenal.

"Saya kagum sekali padanya, Pak. Anaknya baik sekali. Selalu ingin menolong. Ruhaniyahnya...subhanallah. Bapak akan senang berjumpa dengannya. Cuma...wajahnya, pak. Wajahnya seperti...ah, astaghfirullah! Saya tak berhak menilai wajahnya! Saya juga tak tahu hatinya seperti apa...tapi pancaran hati alias perbuatannya...luar biasa. Penuh cahaya." itu suara Tomi.

"Saya ingin kenal! Saya benar-benar ingin kenal, Nak Tom!"

"Ia teman baik yang langka disaat ini, Pak. Tapi kalau Bapak kenal dia, bapak akan mencintainya sebagai saudara seiman, seperti juga saya. Subhanallah...masya Allah!"

"Assalamu'alaikum," sapaku. Aku beristighfar. Aku tak mau lama di luar mendengarkan pembicaraan mereka.

"Nah...ini, Pak Haji,...teman saya Muhammad Amir tercinta," kata Tommy tersenyum, memperkenalkanku.

Lelaki berbaju koko berkopiah memandangku sambil meringis, menyalamiku dan...,

"Maaf...saya...harus pulang!” katanya buru-buru.
"Pak, katanya mau I'tikaf...!" ujar Tomi.
Aku menunduk.

"Maafkan aku, Mir," suara Tomi menyesal.
Aku tersenyum. "Tak apa...."

****

Kalau suatu ketika, anda para pembaca bertemu seorang lelaki dengan mata seolah mem-belalak menakutkan, dengan alisnya yang terlalu tebal dan hampir menutupi kelopak mata. Hidung runcing membengkok ke bawah, mulut yang terlalu lebar ditambah gigi-gigi jarang berwarna kecoklatan, dan kuping yang seperti Mr Spock. Kemudian bibir hitam yang pecah-pecah dan wajah kasar yang seolah bersisik, serta rambutnya yang jarang..., maka mungkin anda bertemu denganku, seorang hamba Allah yang lemah. Buruh bangunan berusia 21 tahun yang tinggal di pinggir Ciliwung.

Aku berharap anda yakin. Aku bukan penjahat. Aku bukan orang yang kena kutuk. Aku hanya orang biasa, yang selalu berusaha untuk bersamaNya. Mensyukuri semua nikmatNya. Kalau anda melihatku, yakinlah, itulah yang terbaik yang Allah anugerahkan kepadaku.

Tolong jangan musuhi aku.
Kalau suatu saat kita berjumpa, yakinlah..., kita bersaudara karena Allah. Seperti persaudaraanku dengan Tomi.


Lelaki Berhati Cahaya

sumber: kumpulan cerita penuh hikmah


Pemikir Cerdas

Contact Us

Name

Email *

Message *

Designed By Seo Blogger Templates