Cerpen Sedih - Puisi Untuk Diandra

Sahabat pemikir cerdas dua hari yang lalu salah satu sahabat kita Childiesh mengirimkan cerpennya lagi sahabat. Sahabat kita Childiesh mengirimkan beberapa cerpen yang seru !!! Yang sudah tidak sabar mau baca cerpen kiriman dari sahabat kita Childiesh... Yukkk tancap baca ditemani sepotong kue dan segelas susu hangat :D.
Puisi untuk Diandra

Cerpen Sedih - Puisi Untuk Diandra

Air sungai yang jernih dan bening ini masih kupandangi. Airnya tenang, banyak sekali batu-batuan kecil. Udaranya dingin menyelimuti tubuhku yang kurus ini. Aku masih mengenakan gaun hijau yang biasa kukenakan seperti hari-hari sebelumnya. Pelan-pelan kudayung perahu yang sedang kunaiki. Terdengar sayup-sayup suara jangkrik. Tampaknya hari mulai petang. Tapi aku tidak menghentikan niatku untuk mendayung terus. Perahu terus kudayung sampai aku menemukan sumber ketenangan dalam hatiku sendiri. Kulihat disisi kiri kananku tumbuh semak-semak yang semakin hari semakin tinggi dan rimbun.
Udara makin lama makin dingin. Aku menghentikan niatku mendayung. Namaku DIANDRA, orang bilang wajahku manis mirip Ve AFI. Ada juga yang bilang wajahku lugu dan polos tapi tomboy. Aku tidak peduli dengan omongan orang lain. Ibuku seorang ibu rumah tangga biasa. Ayahku seorang kuli bangunan. Terkadang aku merasakan hidupku semakin hari semakin membosankan. Aku tidak tahu mengapa setiap malam aku selalu mendayung perahu di sungai ini. Aku ingin pulang kerumahku sendiri, ingin berjumpa senyum ibuku. Tapi mengapa sekarang aku tidak bisa?
Rambutku terurai panjang. Angin malam memainkan rambutku. Aku berdiri diatas perahu sambil menoleh keatas. Malam semakin gelap, mendung mulai menutupi bulan yang tampak malu-malu menampakkan wajahnya. Kemudian aku duduk kembali. Aku suka dengan air sungai ini, airnya bening dan jernih. Terkadang, setiap pagi aku melihat anak-anak kecil bermain-main di pinggir sungai.
Sambil tersenyum aku mengelus pipiku, yang kasar berjerawat. Tapi bibirku selalu mempesona. Aku melihat dan meraba jari-jari tanganku, tanganku kasar. Kenapa setiap hari bahkan setiap detik tidak ada yang pernah melihat aku menaiki perahu di sungai ini? Aku sangat kesepian dengan suasana ini.
Sejenak aku melihat gaun yang kukenakan. Gaun hijau yang bernuansa alam. Aku ingat dulu gaun ini kubeli bersama riski, kekasihku. Kejadian itu membuatku ingat kemasa lalu kembali. Saat itu umurku masih 15 tahun. Riski tersenyum kepadaku ketika aku mencoba memakai gaun ini. Saat itu aku memakainya di bulan juni.
Kau tampak cantik memakai gaun itu, cintaku. Kamu harus berjanji kepadaku untuk memakainya pada saat acara REUNI sekolah kita. Aku masih ingat kata-kata itu. Riski adalah lelaki yang baik. Badannya tegak dan rambutnya yang jabrik itulah yang membuatku tergila-gila. Dia suka sekali menuliskan puisi untukku. Puisi yang pertama kali dia berikan kepadaku berisikan puisi CINTA. Puisi itu menceritakan tentang kekuatan cinta yang ditulisnya di selembar kertas putih.
“Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangun kembali kepercayaan”.
Aku mengusap air mataku. Aku masih ingat puisi itu diberikan padaku pada saat dia menyatakan perasaannya padaku. Kapan aku bisa merasakan keteduhan tatapan mata riski lagi? Sekarang aku masih merasakan diriku tidak bersemangat lagi. Aku mendongok keatas, tampaknya mendung telah lewat. Sinar bulan menerpa wajahku, entah seperti apa wajahku sekarang. Aku mencondongkan badanku untuk mengaca wajahku di air sungai ini. Wajahku pucat, tidak ada kesejukan di mataku. Yang ada hanya kebimbangan. Terdengar suara lolongan anjing, memilukan sekali. Tampaknya anjing itu kesepian seperti diriku.
Aku mengambil dayung perahu yang sudah tua itu lalu kudayung kembali perahuku. Sambil mendayung aku mengingat masa laluku. Aku bertanya dalam hati, mengapa hidupku tidak bisa berubah? Kenapa aku selalu medayung perahu ini?. Tampaknya yang bisa menjawab adalah diriku sendiri, hatiku sedih. Angin malam kurasakan semakin lama semakin dingin. Aku kedinginan setiap malam. Aku selalu menangis dan menangis lagi. Perahu terus kudayung sampai aku berhenti menangis.
Aku mulai ingat dengan masa laluku. Pada saat itu tanggal 23 juni, sehari sebelum aku memutuskan hubunganku dengan riski. Rumahku terletak tidak jauh dari sungai yang sering kulalui ini. Aku mulai merasakan kerinduan pada masa-masa kecilku. Aku menghampiri sungai masa kecilku. Kudorong perahu ayahku ketengah sungai. Tapi gaun yang kukenakan terlalu panjang. Gaun itu menjerat langkahku, aku terpeleset dan kepalaku terbentur batu besar yang ada di pinggir sungai. Mulai saat itu aku merasakan kegelapan. Bahkan, sampai saat ini yang selalu membelenggu jiwaku. Itulah penyebab sehingga aku tidak bisa pulang untuk memeluk tubuh riski yang dapat menghangatkan jiwaku yang sedang kedinginan sekarang ini.
Tubuhku semakin dingin, air mataku terus menetes. Pipiku basah, aku merindukan senyuman riski, sentuhan lembut riski, puisi-puisi dan kecupannya di dahiku. Kapan aku bisa merasakan itu lagi? Mengapa hidupku terombang-ambing seperti perahu ini? Seharusnya aku tidak memutuskannya pada malam itu. Aku hanya bisa menangisi diriku sendiri. Aku mulai terdiam dan mulai memandang sekelilingku. Di kanan kiriku kini terhampar tanah yang lapang. Aku telah melewati semak-semak yang tinggi-tinggi tadi.
Kegelapan mulai sirna, hatiku tampak lega kini. Aku melihat sesosok manusia berdiri di pinggir sungai. Dia tegap, siapakah itu? Mengapa malam-malam begini dia berdiri disitu? Aku mulai mendekatkan perahuku kearahnya. Wajahnya kini mulai jelas terlihat, dia tampan tapi sedikit kucel. Perlahan-lahan lelaki itu tersenyum, ada lesung pipi di kedua pipinya. Ya ampun !! Itu riski yang selama ini kurindukan. Meski tak seromantis dulu, hatiku senang sekali dia ada didekatku. Terimah kasih tuhan ! Tapi siapa wanita di sebelahnya itu? Dia menggandeng tangannya riski. Siapa dia? Apakah dia pacar barunya? Mengapa riski mengkhianatiku.
Riski melihatku, dia bisa melihat aku. Aku melambaikan tanganku padanya. Kudekatkan perahku padanya. Aku tersenyum dan memanggil-manggil namanya. Mengapa dia diam dan tidak membalas senyumanku? Aku mulai mencoba melambaikan tanganku padanya. Mengapa dia tetap diam? Apakah dia tidak menyadari keberadaanku.
“Diandra, cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan”. Riski terdiam dan ada air mata di pipinya. Aku tidak tahan melihat itu semua. Wanita yang berdiri di sebelahnya menenangkan hati riski. Siapakah wanita itu? Wajahnya tidak jelas terlihat.
“Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangun kembali kepercayaan”. Riski mengucapkannya sambil menangis . Aku sadar kali ini, yang diucapkan riski adalah puisi yang dia berikan padaku untuk menyatakan cintanya. Oh tuhan, mengapa puisi itu diucapkannya lagi?
Siapa wanita itu? Dia menggandeng tangannya riski. Aku melihat kilauan di jari manisnya, itu cincin. Dan cincin yang dikenakan riski sama dengan cincin wanita itu. Ya tuhan ! itu tunangannya. Aku mulai menangis, pipiku basah oleh air mata. Riski tidak bisa aku peluk lagi dan tak kusangka akan begini jadinya.
Aku terdiam dan memandangi wajah riski. Perlahan-lahan riski dan wanita itu pergi. Air mataku menetes. Aku mulai mendayung perahuku, perahuku mulai meninggalkan riski untuk selama-lamanya. Aku menoleh sekali lagi kemasa laluku yang manis itu, yang hanya tinggal bayangan saja.
“Riski, jangan pernah berkata selamat tinggal jika kamu masih ingin mencoba. Jangan menyerah selama kamu masih bisa maju. Jangan pernah berkata bahwa kamu tidak mencintai orang itu lagi, bila kamu tidak bisa membiarkannya pergi”. Aku tetap sayang kamu riski. Perlahan-lahan kudayung perahuku. Biarlah riski menjadi cinta masa laluku.

Damayanti Childiesh

Gimana sahabat ? seru kan.. Masih penasaran dengan cerpen kiriman Childiesh yang lainnya? Kunjungi terus Pemikir Cerdas dan nantikan cerpen seru lainnya.

Cerpen Sedih - Puisi Untuk Diandra



Pemikir Cerdas

Contact Us

Name

Email *

Message *

Designed By Seo Blogger Templates