Elian tidak mendongak. Fokusnya tertahan pada ujung cutter Pen-Blade yang mengiris lembaran balsa wood setebal dua milimeter. Di atas meja hijaunya yang penuh dengan bekas sayatan melintang, tumpukan serbuk kayu halus menyerupai debu purbakala yang menutupi permukaan keyboard laptop. Kipas laptopnya menderu keras, berusaha mendinginkan prosesor yang dipaksa merender model 3D sejak tiga jam lalu. Elian mengusap pelipisnya, meninggalkan jejak abu-abu dari sisa pensil 2B yang menempel di jemarinya yang mulai kaku karena suhu pendingin ruangan yang dipasang di angka enam belas derajat.
Ia mengeratkan hoodie biru dongker miliknya yang sudah mulai menipis di bagian siku. Di sudut meja, sebuah cup kopi plastik dari kantin bawah sudah mengembun sepenuhnya, menyisakan cairan cokelat pucat yang tak lagi menggugah selera. Suasana studio arsitektur jam dua pagi selalu punya aroma yang spesifik: perpaduan antara lem UHU yang menyengat, aroma kertas kalkir, dan kelelahan yang dipaksakan. Elian merasa seolah-olah waktu di luar gedung telah berhenti, sementara di dalam ruangan ini, ia sedang membangun sebuah semesta kecil yang rapuh. Setiap kali ia mencoba merekatkan pilar maketnya, tangannya sedikit bergetar. Bukan karena kafein, tapi karena tekanan revisi kesepuluh dari dosen pembimbingnya yang perfeksionis.
Bunyi derit pintu kayu studio yang berat memecah keheningan. Elian tidak menoleh, mengira itu hanya penjaga gedung yang melakukan patroli rutin. Namun, aroma yang menyusul kemudian bukanlah bau rokok kretek atau minyak kayu putih, melainkan aroma lembut kayu cendana dan sisa-sisa parfum dry-down yang sangat ia kenali. Langkah kaki itu pelan, nyaris ragu-ragu, mendekati barisan meja di baris belakang. Elian menahan napas saat sebuah bayangan jatuh menutupi maketnya. Ia mendongak perlahan, mendapati Kael berdiri di sana dengan tas kanvas putih yang talinya sudah mulai pudar warnanya di bagian bahu, tersampir lesu.
Kael tidak mengenakan kemeja rapi layaknya mahasiswa tingkat akhir yang siap presentasi. Ia memakai jaket kulit oversized berwarna cokelat tua yang ia beli di pasar barang bekas bulan lalu, dipadukan dengan celana corduroy hitam yang sedikit terlalu panjang hingga menyentuh lantai. Rambutnya diikat asal dengan jedai, menyisakan beberapa helai yang jatuh membingkai wajahnya yang tampak lelah namun tetap memiliki ketajaman yang tenang. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah paper bag kecil yang berminyak di bagian bawahnya.
"Masih di bagian fasad?" suara Kael rendah, hampir berbisik, seolah takut mengganggu hantu-hantu yang bersemayam di sudut studio. Ia meletakkan paper bag itu di satu-satunya ruang kosong di meja Elian, tepat di samping botol lem yang tutupnya hilang.
Elian meletakkan cutternya. Ia menatap Kael, lalu beralih ke paper bag itu. "Revisi fasadnya ditolak lagi. Pak Haris bilang proporsinya nggak masuk akal buat struktur kantilever setebal ini." Elian menghela napas, suaranya parau. "Kamu ngapain di sini, Kael? Bukannya anak DKV nggak ada deadline minggu ini?"
Kael menarik sebuah kursi kayu yang salah satu kakinya diganjal potongan kardus agar tidak goyang. Ia duduk di hadapan Elian, memisahkan mereka dengan maket bangunan yang setengah jadi. "Aku habis dari lab komputer, nungguin file ekspor premiere yang corrupt tiga kali. Pas lewat depan gedung ini, aku lihat lampu lantai empat masih nyala. Aku tebak itu kamu."
Ia membuka paper bag itu, mengeluarkan dua buah bakpao ayam yang masih mengeluarkan uap tipis. Kael membelah salah satunya, uapnya naik dan sesaat mengaburkan kacamata berbingkai tipis milik Elian. "Makan dulu. Kamu kelihatan kayak orang yang lupa gimana caranya bernapas tanpa mikirin skala satu banding seratus."
Elian menerima potongan bakpao itu. Permukaannya yang hangat terasa kontras dengan kulit tangannya yang sedingin es. Saat ia menggigitnya, rasa gurih dan hangat menjalar perlahan, mencairkan sedikit ketegangan yang membatu di pundaknya. Mereka terdiam selama beberapa menit. Di studio yang luas itu, hanya ada mereka berdua di antara puluhan meja kosong yang dipenuhi sisa-sisa perjuangan mahasiswa lainnya—penggaris besi yang tertinggal, tumpukan kertas denah yang tergulung, dan botol minum plastik yang kosong.
Kael memperhatikan jemari Elian yang penuh luka gores kecil akibat cutter. Tanpa suara, ia meraih tas kanvasnya, merogoh ke dalam dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi plester luka bergambar karakter kartun yang warnanya sudah agak kusam. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah Elian adalah maket balsa yang mudah patah, Kael menarik tangan kanan Elian. Ia menempelkan plester itu di jari telunjuk Elian yang terluka paling dalam.
Sentuhan itu singkat, tapi di tengah sunyinya studio, Elian bisa merasakan denyut nadinya sendiri yang mendadak tidak beraturan. Ia bisa mencium aroma kertas lama dari buku sketsa yang menyembul dari tas Kael. Keheningan di antara mereka bukan lagi keheningan yang canggung, melainkan keheningan yang penuh dengan hal-hal yang tidak sempat mereka bicarakan sejak semester lalu—tentang pesan teks yang tidak terbalas, tentang janji menonton pameran seni yang batal karena jadwal studio yang menggila, dan tentang jarak yang perlahan melebar tanpa alasan yang jelas.
"Kael," panggil Elian pelan saat gadis itu baru saja selesai merapikan plester di jarinya.
Kael tidak melepaskan tangan Elian segera. Ia menunduk, memperhatikan plester itu sejenak. "Garis-garis di maket kamu ini..." ia menunjuk ke arah struktur utama bangunan balsa itu dengan jari telunjuknya yang lain, "...terlalu kaku. Kamu terlalu takut bikin kesalahan sampai lupa kalau bangunan itu juga butuh ruang buat bernapas, El."
Elian terpaku. Ia tahu Kael tidak sedang membicarakan maketnya. Matahari mungkin masih empat jam lagi untuk terbit, tapi di bawah cahaya neon yang berkedip ini, Elian merasa seolah-olah seluruh pertahanannya yang ia bangun sekuat beton bertulang sedang dipaksa runtuh oleh selembar plester dan satu kalimat sederhana dari seorang gadis yang selalu tahu letak retakan di dindingnya.
Elian menunduk, menatap jemarinya yang dikotori noda lem kering yang mengelupas seperti kulit mati. Selama tiga tahun di Arsitektur, ia diajarkan bahwa presisi adalah segalanya. Garis yang meleset satu milimeter adalah kegagalan; struktur yang goyah adalah aib. Namun, di hadapan Kael dan maket museumnya yang tampak kaku seperti peti mati balsa, Elian merasa fondasi keyakinannya sendiri mulai retak.
Kael tidak beranjak. Ia menarik sebuah kursi daktil yang rodanya berdecit membelah sunyi Studio 402. Gadis itu duduk di samping Elian, aroma kopi saset dan cat semprot samar-samar menguar dari jaket denimnya. Dengan gerakan yang hampir setipis embun, Kael menyentuh salah satu dinding maket Elian yang seharusnya tertutup rapat, namun kini terganjal selembar plester pemberiannya tadi.
“Kamu tahu kenapa kuil-kuil kuno di Jepang sengaja dibiarkan punya satu bagian yang tidak sempurna?” tanya Kael lembut, matanya merefleksikan pendar neon yang stabil. “Supaya ada ruang bagi roh untuk masuk dan keluar. Supaya bangunan itu tidak mencekik dirinya sendiri karena kesempurnaan yang statis.”
Elian menarik napas panjang, menghirup udara studio yang dingin dan berdebu. “Aku hanya ingin sesuatu yang tahan lama, Kael. Sesuatu yang tidak akan hancur saat dunia mulai berguncang.”
“Tapi beton paling kuat sekalipun akan retak kalau tidak diberi celah dilatasi untuk memuai, El,” sanggah Kael. Ia mengambil pisau cutter, bukan untuk merusak, melainkan untuk melepaskan satu panel fasad yang dipasang Elian dengan paksa. “Kamu membangun hidupmu seperti benteng, bukan tempat tinggal. Kamu terlalu sibuk memastikan tidak ada orang yang bisa masuk, sampai kamu sendiri lupa cara untuk keluar.”
Kalimat itu menghujam tepat di ulu hati Elian. Sunyi di Studio 402 tiba-tiba tidak lagi terasa mencekam. Keheningan itu kini terasa seperti kanvas kosong. Elian memperhatikan bagaimana cahaya fajar yang biru mulai merayap masuk melalui jendela-jendela tinggi studio, menyentuh debu-debu yang menari di udara. Ia melihat maketnya lagi. Tanpa satu panel fasad yang dilepas Kael tadi, cahaya lampu meja justru masuk ke dalam struktur, menciptakan bayangan geometris yang dramatis dan hidup di lantai maket.
Ada estetika dalam kekosongan itu. Ada kejujuran dalam celah tersebut.
Elian meletakkan penggaris besinya. Tangannya yang gemetar perlahan menjadi tenang. Untuk pertama kalinya dalam satu semester ini, ia tidak merasakan dorongan untuk memperbaiki apa pun. Ia membiarkan plester itu tetap di sana, menjadi tanda bahwa di tempat itu, pernah ada sesuatu yang pecah dan coba disembuhkan.
“Terima kasih,” bisik Elian, suaranya serak namun beban di bahunya terasa meluruh.
Kael tersenyum, tipe senyum yang tidak menuntut jawaban, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Elian. Di luar, warna langit perlahan berubah dari ungu kelam menjadi jingga pucat. Studio 402 masih sunyi, namun bukan lagi sunyi yang mengisolasi. Itu adalah sunyi yang memberi ruang bagi detak jantung yang lebih tenang.
Elian menyadari bahwa arsitektur terbaik bukanlah tentang seberapa megah ia berdiri menantang langit, melainkan tentang bagaimana ia merangkul cahaya dan membiarkan angin lewat di sela-selanya. Dan di bawah fajar yang mulai menyapu meja gambar, Elian akhirnya berhenti membangun benteng, lalu mulai membuka jendela.
Ia mengeratkan hoodie biru dongker miliknya yang sudah mulai menipis di bagian siku. Di sudut meja, sebuah cup kopi plastik dari kantin bawah sudah mengembun sepenuhnya, menyisakan cairan cokelat pucat yang tak lagi menggugah selera. Suasana studio arsitektur jam dua pagi selalu punya aroma yang spesifik: perpaduan antara lem UHU yang menyengat, aroma kertas kalkir, dan kelelahan yang dipaksakan. Elian merasa seolah-olah waktu di luar gedung telah berhenti, sementara di dalam ruangan ini, ia sedang membangun sebuah semesta kecil yang rapuh. Setiap kali ia mencoba merekatkan pilar maketnya, tangannya sedikit bergetar. Bukan karena kafein, tapi karena tekanan revisi kesepuluh dari dosen pembimbingnya yang perfeksionis.
Bunyi derit pintu kayu studio yang berat memecah keheningan. Elian tidak menoleh, mengira itu hanya penjaga gedung yang melakukan patroli rutin. Namun, aroma yang menyusul kemudian bukanlah bau rokok kretek atau minyak kayu putih, melainkan aroma lembut kayu cendana dan sisa-sisa parfum dry-down yang sangat ia kenali. Langkah kaki itu pelan, nyaris ragu-ragu, mendekati barisan meja di baris belakang. Elian menahan napas saat sebuah bayangan jatuh menutupi maketnya. Ia mendongak perlahan, mendapati Kael berdiri di sana dengan tas kanvas putih yang talinya sudah mulai pudar warnanya di bagian bahu, tersampir lesu.
Kael tidak mengenakan kemeja rapi layaknya mahasiswa tingkat akhir yang siap presentasi. Ia memakai jaket kulit oversized berwarna cokelat tua yang ia beli di pasar barang bekas bulan lalu, dipadukan dengan celana corduroy hitam yang sedikit terlalu panjang hingga menyentuh lantai. Rambutnya diikat asal dengan jedai, menyisakan beberapa helai yang jatuh membingkai wajahnya yang tampak lelah namun tetap memiliki ketajaman yang tenang. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah paper bag kecil yang berminyak di bagian bawahnya.
"Masih di bagian fasad?" suara Kael rendah, hampir berbisik, seolah takut mengganggu hantu-hantu yang bersemayam di sudut studio. Ia meletakkan paper bag itu di satu-satunya ruang kosong di meja Elian, tepat di samping botol lem yang tutupnya hilang.
Elian meletakkan cutternya. Ia menatap Kael, lalu beralih ke paper bag itu. "Revisi fasadnya ditolak lagi. Pak Haris bilang proporsinya nggak masuk akal buat struktur kantilever setebal ini." Elian menghela napas, suaranya parau. "Kamu ngapain di sini, Kael? Bukannya anak DKV nggak ada deadline minggu ini?"
Kael menarik sebuah kursi kayu yang salah satu kakinya diganjal potongan kardus agar tidak goyang. Ia duduk di hadapan Elian, memisahkan mereka dengan maket bangunan yang setengah jadi. "Aku habis dari lab komputer, nungguin file ekspor premiere yang corrupt tiga kali. Pas lewat depan gedung ini, aku lihat lampu lantai empat masih nyala. Aku tebak itu kamu."
Ia membuka paper bag itu, mengeluarkan dua buah bakpao ayam yang masih mengeluarkan uap tipis. Kael membelah salah satunya, uapnya naik dan sesaat mengaburkan kacamata berbingkai tipis milik Elian. "Makan dulu. Kamu kelihatan kayak orang yang lupa gimana caranya bernapas tanpa mikirin skala satu banding seratus."
Elian menerima potongan bakpao itu. Permukaannya yang hangat terasa kontras dengan kulit tangannya yang sedingin es. Saat ia menggigitnya, rasa gurih dan hangat menjalar perlahan, mencairkan sedikit ketegangan yang membatu di pundaknya. Mereka terdiam selama beberapa menit. Di studio yang luas itu, hanya ada mereka berdua di antara puluhan meja kosong yang dipenuhi sisa-sisa perjuangan mahasiswa lainnya—penggaris besi yang tertinggal, tumpukan kertas denah yang tergulung, dan botol minum plastik yang kosong.
Kael memperhatikan jemari Elian yang penuh luka gores kecil akibat cutter. Tanpa suara, ia meraih tas kanvasnya, merogoh ke dalam dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi plester luka bergambar karakter kartun yang warnanya sudah agak kusam. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah Elian adalah maket balsa yang mudah patah, Kael menarik tangan kanan Elian. Ia menempelkan plester itu di jari telunjuk Elian yang terluka paling dalam.
Sentuhan itu singkat, tapi di tengah sunyinya studio, Elian bisa merasakan denyut nadinya sendiri yang mendadak tidak beraturan. Ia bisa mencium aroma kertas lama dari buku sketsa yang menyembul dari tas Kael. Keheningan di antara mereka bukan lagi keheningan yang canggung, melainkan keheningan yang penuh dengan hal-hal yang tidak sempat mereka bicarakan sejak semester lalu—tentang pesan teks yang tidak terbalas, tentang janji menonton pameran seni yang batal karena jadwal studio yang menggila, dan tentang jarak yang perlahan melebar tanpa alasan yang jelas.
"Kael," panggil Elian pelan saat gadis itu baru saja selesai merapikan plester di jarinya.
Kael tidak melepaskan tangan Elian segera. Ia menunduk, memperhatikan plester itu sejenak. "Garis-garis di maket kamu ini..." ia menunjuk ke arah struktur utama bangunan balsa itu dengan jari telunjuknya yang lain, "...terlalu kaku. Kamu terlalu takut bikin kesalahan sampai lupa kalau bangunan itu juga butuh ruang buat bernapas, El."
Elian terpaku. Ia tahu Kael tidak sedang membicarakan maketnya. Matahari mungkin masih empat jam lagi untuk terbit, tapi di bawah cahaya neon yang berkedip ini, Elian merasa seolah-olah seluruh pertahanannya yang ia bangun sekuat beton bertulang sedang dipaksa runtuh oleh selembar plester dan satu kalimat sederhana dari seorang gadis yang selalu tahu letak retakan di dindingnya.
Elian menunduk, menatap jemarinya yang dikotori noda lem kering yang mengelupas seperti kulit mati. Selama tiga tahun di Arsitektur, ia diajarkan bahwa presisi adalah segalanya. Garis yang meleset satu milimeter adalah kegagalan; struktur yang goyah adalah aib. Namun, di hadapan Kael dan maket museumnya yang tampak kaku seperti peti mati balsa, Elian merasa fondasi keyakinannya sendiri mulai retak.
Kael tidak beranjak. Ia menarik sebuah kursi daktil yang rodanya berdecit membelah sunyi Studio 402. Gadis itu duduk di samping Elian, aroma kopi saset dan cat semprot samar-samar menguar dari jaket denimnya. Dengan gerakan yang hampir setipis embun, Kael menyentuh salah satu dinding maket Elian yang seharusnya tertutup rapat, namun kini terganjal selembar plester pemberiannya tadi.
“Kamu tahu kenapa kuil-kuil kuno di Jepang sengaja dibiarkan punya satu bagian yang tidak sempurna?” tanya Kael lembut, matanya merefleksikan pendar neon yang stabil. “Supaya ada ruang bagi roh untuk masuk dan keluar. Supaya bangunan itu tidak mencekik dirinya sendiri karena kesempurnaan yang statis.”
Elian menarik napas panjang, menghirup udara studio yang dingin dan berdebu. “Aku hanya ingin sesuatu yang tahan lama, Kael. Sesuatu yang tidak akan hancur saat dunia mulai berguncang.”
“Tapi beton paling kuat sekalipun akan retak kalau tidak diberi celah dilatasi untuk memuai, El,” sanggah Kael. Ia mengambil pisau cutter, bukan untuk merusak, melainkan untuk melepaskan satu panel fasad yang dipasang Elian dengan paksa. “Kamu membangun hidupmu seperti benteng, bukan tempat tinggal. Kamu terlalu sibuk memastikan tidak ada orang yang bisa masuk, sampai kamu sendiri lupa cara untuk keluar.”
Kalimat itu menghujam tepat di ulu hati Elian. Sunyi di Studio 402 tiba-tiba tidak lagi terasa mencekam. Keheningan itu kini terasa seperti kanvas kosong. Elian memperhatikan bagaimana cahaya fajar yang biru mulai merayap masuk melalui jendela-jendela tinggi studio, menyentuh debu-debu yang menari di udara. Ia melihat maketnya lagi. Tanpa satu panel fasad yang dilepas Kael tadi, cahaya lampu meja justru masuk ke dalam struktur, menciptakan bayangan geometris yang dramatis dan hidup di lantai maket.
Ada estetika dalam kekosongan itu. Ada kejujuran dalam celah tersebut.
Elian meletakkan penggaris besinya. Tangannya yang gemetar perlahan menjadi tenang. Untuk pertama kalinya dalam satu semester ini, ia tidak merasakan dorongan untuk memperbaiki apa pun. Ia membiarkan plester itu tetap di sana, menjadi tanda bahwa di tempat itu, pernah ada sesuatu yang pecah dan coba disembuhkan.
“Terima kasih,” bisik Elian, suaranya serak namun beban di bahunya terasa meluruh.
Kael tersenyum, tipe senyum yang tidak menuntut jawaban, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Elian. Di luar, warna langit perlahan berubah dari ungu kelam menjadi jingga pucat. Studio 402 masih sunyi, namun bukan lagi sunyi yang mengisolasi. Itu adalah sunyi yang memberi ruang bagi detak jantung yang lebih tenang.
Elian menyadari bahwa arsitektur terbaik bukanlah tentang seberapa megah ia berdiri menantang langit, melainkan tentang bagaimana ia merangkul cahaya dan membiarkan angin lewat di sela-selanya. Dan di bawah fajar yang mulai menyapu meja gambar, Elian akhirnya berhenti membangun benteng, lalu mulai membuka jendela.
💡 Pesan Moral:
Kesempurnaan yang kaku seringkali justru mencekik jiwa; hidup membutuhkan celah dan ruang untuk bernapas agar kita bisa merasakan cahaya dan pertumbuhan.
Kesempurnaan yang kaku seringkali justru mencekik jiwa; hidup membutuhkan celah dan ruang untuk bernapas agar kita bisa merasakan cahaya dan pertumbuhan.
