Ayah menjual petak sawah terakhirnya demi masa depanku. Kini, aku menjadi sosok anak petani yang membeli mimpi ke kota dan menyesap kopi mahal di lantai dua puluh enam. Dengan tidak tahu malunya, aku menyebut gaya hidup ini sebagai sebuah pencapaian besar.
Di balik dinding kaca apartemen studio yang steril, Jakarta 2026 tampak seperti sirkuit cahaya yang memuja validasi. Aku berdiri menggenggam cangkir keramik mahal dengan jemari yang gemetar. Ada rindu yang tertahan pada aroma tanah basah di kampung halaman. Aku berhasil membeli mimpi urban ini, namun setiap tegukannya terasa seperti racun yang membunuh jati diriku.
Metamorfosis yang Menyakitkan: Menghapus Jejak Lumpur
Kita berada di era di mana hidup bukan lagi untuk dijalani, melainkan dikurasi untuk layar lima inci. Bagiku, transisi ini bukan sekadar pindah alamat. Ini adalah sebuah pembersihan etnisitas sosial yang terasa sangat kejam. Aku melatih lidah untuk membuang logat daerah yang kental.
Aku mengganti aroma matahari di kulitku dengan parfum desainer yang dingin. Ketulusan komunal desa kini berganti dengan jaringan profesional yang kering dan transaksional. Kita menjadi generasi yang mahir berdiskusi tentang sustainability di kafe ber-AC. Ironisnya, tanah yang memberi kita makan justru telah kita semen demi pembangunan mal.
Ironi Quiet Luxury dan Komodifikasi Kemiskinan
Tren 2025 melahirkan jargon Quiet Luxury sebagai topeng bagi mereka yang takut terlihat miskin. Kita membeli pakaian minimalis berwarna bumi agar terlihat elegan dan terlahir kaya. Padahal, warna bumi itu identik dengan tanah yang dulu kita cangkul hingga punggung pegal. Ini adalah bentuk komodifikasi terhadap masa lalu kita sendiri.
Kita menjadikan kemiskinan masa kecil sebagai estetika masa kini demi pengakuan orang asing. Di balik foto tanaman Monstera yang estetik, ada tumpukan tagihan pinjol yang menjerat leher. Hal ini membuktikan bahwa kita sebenarnya sedang mencicil kebebasan jiwa kita sendiri. Kita terjebak dalam validasi semu yang tidak berujung.
Sandiwara di Balik Layar Video Call
Setiap kali Ibu menelepon dari kampung, aku mendadak menjadi sutradara terbaik. Aku mengarahkan kamera ponsel ke sudut ruangan yang paling rapi. Aku menyembunyikan bungkus mi instan yang menjadi menu makan malamku. Semua itu dilakukan demi membayar gengsi gaya hidup di kota besar ini.
Ibu bertanya apakah aku sudah makan nasi dengan lauk yang enak. Sementara itu, aku sibuk memamerkan proyek gedung tinggi di LinkedIn. Kita berbicara dalam bahasa yang berbeda tentang objek yang sama, yaitu kelangsungan hidup. Aku merasa terlalu modern untuk pulang, namun terlalu asing untuk menyatu dengan kaum elit.
Menemukan Jalan Pulang Sebelum Kehilangan Nyawa
Apartemen di pusat kota ini ternyata bukanlah sebuah tujuan akhir. Ia hanyalah kotak kaca yang memisahkan kita dari realitas kemaanusiaan yang sesungguhnya. Kita merindukan kehangatan, namun hanya menemukan dinginnya pendingin ruangan. Kita merindukan komunitas, namun hanya menemukan pengikut digital di media sosial.
Sudah saatnya kita berhenti membunuh aroma tanah di dalam diri kita sendiri. Menjadi modern tidak harus berarti menjadi sosok yang steril dan tanpa akar. Keberanian terbesar di tahun 2026 bukanlah membeli barang mewah. Keberanian itu adalah mengakui bahwa kita masih memiliki jiwa anak petani yang rindu menginjak tanah.
Pulanglah ke akarmu, setidaknya di dalam pikiran dan tindakanmu sehari-hari. Jangan sampai kamu benar-benar lupa jalan untuk kembali ke dirimu yang jujur. Sebelum semuanya terlambat, temukan kembali jati diri yang sempat tergadai oleh gemerlap kota.
