Malam di Perpustakaan Kampus

Malam di Perpustakaan Kampus
Malam itu, perpustakaan kampus terlihat sepi dan sunyi. Lampu-lampu yang tergantung di langit-langit memancarkan cahaya lembut yang membuat suasana terasa nyaman. Saya, Zayn, duduk di meja yang terletak di pojok perpustakaan, menghadap jendela yang memperlihatkan pemandangan kampus yang gelap. Saya memegang bolpen dan membuka buku catatan, siap untuk memulai revisi skripsi.

Di sebelah saya, ada seorang gadis yang duduk sendirian, membaca buku dengan tekun. Saya tidak bisa tidak memperhatikan dia, karena dia terlihat begitu fokus dan terlibat dalam bacaannya. Saya ingin tahu apa yang membuatnya begitu tertarik, tapi saya tidak berani mengganggunya.

Saya kembali ke pekerjaan saya, mencoba fokus pada revisi skripsi. Tapi, saya tidak bisa tidak memperhatikan gadis itu lagi. Saya melihatnya menulis catatan di margin buku, dan kemudian melipat halaman dengan hati-hati. Saya merasa penasaran, apa yang dia tulis di sana.

Tiba-tiba, gadis itu mengangkat kepala dan melihat saya. Saya merasa terkejut, karena saya tidak mengharapkan dia akan melihat saya. Kami berdua saling memandang, dan saya merasaada sesuatu yang aneh di dada saya. Saya tidak tahu apa itu, tapi saya merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda.

Gadis itu kemudian tersenyum, dan saya merasa seperti saya terjatuh ke dalam lubang yang dalam. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, tapi saya merasa bahwa saya harus melakukan sesuatu. Saya mengambil napas dalam-dalam, dan kemudian berbicara. 'Halo,' kata saya, mencoba terdengar santai.

Gadis itu mengangguk, dan kemudian menjawab, 'Halo.' Saya merasa lega, karena saya tidak mengharapkan dia akan marah atau tidak mau berbicara dengan saya. Kami berdua kemudian mulai berbicara, membahas tentang buku yang dia baca, dan tentang skripsi saya. Saya merasa nyaman, karena saya merasa bahwa ada sesuatu yang sama antara kami berdua.

Saya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi saya merasa bahwa saya ingin tahu lebih banyak tentang gadis itu. Saya ingin tahu apa yang membuatnya begitu spesial, dan apa yang membuat saya merasa seperti ini. Saya berharap bahwa saya dapat menemukan jawabannya, dan bahwa saya dapat membangun sesuatu yang lebih dengan dia.

Saya memandang gadis itu dengan lebih dekat, mencoba memahami apa yang membuatnya begitu menarik. Matanya yang berkilau saat dia berbicara tentang buku favoritnya, senyumnya yang manis saat dia mengungkapkan pendapatnya tentang skripsi saya. Saya merasa seperti telah menemukan seseorang yang benar-benar memahami saya, dan itu membuat saya merasa nyaman dan aman.

Kami terus berbicara, membahas tentang berbagai hal, dari hobby hingga impian masa depan. Saya merasa seperti telah mengenalnya selama bertahun-tahun, bukan hanya beberapa jam. Gadis itu ternyata bernama Sophia, dan dia adalah mahasiswi jurusan sastra. Saya tidak heran lagi mengapa dia begitu mencintai buku dan membaca.

Seiring berjalannya waktu, perpustakaan kampus mulai sepi. Lampu-lampu di atas meja belajar mulai dimatikan, dan suara bisikan perpustakaan mulai menghilang. Saya dan Sophia masih terus berbicara, tidak menyadari bahwa waktu telah berlalu begitu cepat. Hingga akhirnya, kami menyadari bahwa perpustakaan sudah tutup, dan kami harus meninggalkan tempat itu.

Saya merasa sedih karena harus berpisah dengan Sophia, tetapi dia mengajak saya untuk bertemu lagi keesokan harinya. Saya menerima ajakannya dengan senang hati, dan kami bertukar nomor telepon. Saya merasa seperti telah menemukan sesuatu yang spesial, dan saya tidak ingin melepaskannya begitu saja.

Keesokan harinya, saya dan Sophia bertemu lagi di kafe dekat kampus. Kami terus berbicara dan berbagi cerita, dan saya merasa seperti telah menemukan sahabat sejati. Saya menyadari bahwa Sophia bukan hanya orang yang mencintai buku, tetapi juga orang yang memiliki hati yang baik dan pemikiran yang dalam.

Beberapa minggu berlalu, dan saya serta Sophia semakin dekat. Kami menjadi pasangan yang tidak terpisahkan, dan saya merasa seperti telah menemukan kebahagiaan sejati. Saya menyadari bahwa cinta tidak harus dimulai dengan kekasih, tetapi bisa dimulai dengan persahabatan yang dalam.

Saya menatap Sophia dengan penuh cinta dan rasa syukur, dan saya berkata, 'Terima kasih telah menjadi bagian dari hidup saya.' Sophia tersenyum dan membalas, 'Terima kasih telah menjadi sahabat sejati saya.'

Dan di saat itu, saya menyadari bahwa cinta yang sebenarnya bukanlah tentang mencari seseorang yang sempurna, tetapi tentang menemukan seseorang yang membuat kita merasa sempurna. Saya dan Sophia telah menemukan itu, dan kami akan terus menjalani hidup bersama, dengan penuh cinta dan kebahagiaan.


💡 Pesan Moral:
Cinta yang sebenarnya bukanlah tentang mencari seseorang yang sempurna, tetapi tentang menemukan seseorang yang membuat kita merasa sempurna.

Blog Pemikir Cerdas sebagai media untuk berbagi informasi dan tutorial simple untuk dunia IT.

Comments

Masukan sahabat sangat berarti untuk perbaikan kedepannya.
EmoticonEmoticon