Hari itu, langit kampus terlihat abu-abu, seperti cat yang sudah lama tidak disentuh. Aku, Kael, duduk sendirian di kafe kampus, menatap layar laptopku yang terbuka, tetapi pikiranku melayang jauh dari kode program yang harus kutyelesaikan. Aku memegang cangkir kopi hitam, menghirup aroma yang khas, dan merasakan hangatnya di tangan. Suara gesekan kursi kayu dan bisik-bisik mahasiswa lain di sekitar tidak cukup untuk mengalihkanku dari pikiran tentang skripsiku yang belum selesai.
Aku memandang ke luar jendela, melihat hamparan rumput hijau yang terawat rapi dan beberapa mahasiswa yang berlalu-lalang, sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Aku merasa seperti sedang terjebak dalam sebuah dunia yang berputar tanpa aku. Tiba-tiba, pintu kafe terbuka, dan seorang gadis dengan rambut panjang, berwarna cokelat muda, dan mata yang bijak, masuk. Ia mengenakan kardigan merah muda yang longgar di atas kemeja putih, dan tas kanvas cokelat yang sudah mulai pudar warnanya di bahu kirinya. Ia memandang sekeliling, seolah mencari seseorang, dan ketika matanya bertemu dengan aku, ada sesuatu yang aneh, seperti kilatan kenangan yang terlupakan.
Gadis itu mendekat, dan aku bisa melihat wajahnya lebih jelas. Ia memiliki hidung mancung dan bibir tipis yang terlihat sedih. Ia memperkenalkan diri sebagai Lysandra, dan kami mulai berbincang tentang skripsi kami. Aku memperhatikan cara ia menjelaskan tentang teori desain grafis dengan antusias, dan bagaimana ia menggambarkan kesulitannya dalam menyampaikan konsep kepada dosen pembimbing. Aku merasa seperti telah menemukan seseorang yang memahami kesulitanku.
Kami terus berbicara, dan kafe kampus yang tadinya terasa sepi dan melankolis, kini terasa seperti sebuah tempat yang hangat dan nyaman. Aku merasa seperti telah menemukan sebuah persahabatan, atau bahkan sesuatu yang lebih dalam. Tapi, ketika Lysandra menyebutkan tentang mantan kekasihnya, aku merasa seperti sedang terjatuh ke dalam lubang yang dalam. Aku menyadari bahwa aku tidak tahu banyak tentangnya, dan rằng ada banyak hal yang tidak kuketahui tentang dirinya.
Aku memandang ke luar jendela lagi, melihat langit yang masih abu-abu, dan merasa seperti sedang berdiri di atas tebing, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku tahu bahwa aku harus mengungkapkan perasaanku, tetapi aku juga tahu bahwa itu tidak akan mudah. Aku masih memiliki banyak pertanyaan, dan aku tidak tahu apakah aku akan menemukan jawabannya.
Aku memandang ke luar jendela lagi, melihat langit yang masih abu-abu, dan merasa seperti sedang berdiri di atas tebing, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku tahu bahwa aku harus mengungkapkan perasaanku, tetapi aku juga tahu bahwa itu tidak akan mudah. Aku masih memiliki banyak pertanyaan, dan aku tidak tahu apakah aku akan menemukan jawabannya.
Aku memutuskan untuk mengambil langkah pertama, yaitu dengan mengunjungi kafe kampus lagi. Mungkin aku bisa menemukan beberapa jawaban di sana, atau mungkin aku hanya ingin merasakan kembali atmosfer yang sama seperti saat pertama kali bertemu dengannya. Aku memesan secangkir kopi dan duduk di meja yang sama seperti sebelumnya, berharap bahwa beberapa kenangan akan kembali.
Saat aku duduk di sana, aku melihat beberapa mahasiswa lain yang sedang belajar atau ngobrol. Mereka semua terlihat bahagia dan tidak memiliki beban pikiran, berbeda dengan aku yang masih terjebak dalam keraguan. Aku memandang ke sekeliling kafe, mencari sesuatu yang bisa mengalihkan perhatianku dari pikiran-pikiran yang mengganggu.
Tiba-tiba, aku melihat seorang gadis yang sedang duduk sendirian di pojok kafe. Ia memiliki wajah yang familiar, dan aku menyadari bahwa itu adalah dia, orang yang aku cari. Aku merasa gembira dan takut pada saat yang sama, tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku memutuskan untuk mendatanginya, berharap bahwa aku bisa menemukan beberapa jawaban dan mengakhiri keraguan yang telah mengganggu aku selama ini.
Saat aku mendekatinya, ia melihat ke arahku dan tersenyum. Aku merasa lega dan gembira, mengetahui bahwa ia tidak marah atau keberatan dengan kehadiranku. Aku duduk di sebelahnya dan kami berdua mulai berbicara. Ia menceritakan tentang apa yang telah terjadi padanya, dan aku mendengarkan dengan saksama. Aku menyadari bahwa ia memiliki masalah yang lebih besar daripada aku, dan aku merasa bersyukur bahwa aku tidak sendirian dalam menghadapi keraguan.
Kami berdua berbicara selama beberapa jam, berbagi pengalaman dan pikiran. Aku merasa bahwa aku telah menemukan beberapa jawaban, dan bahwa aku tidak sendirian dalam menghadapi keraguan. Ia juga menyadari bahwa ia tidak sendirian, dan bahwa ada orang lain yang peduli padanya. Kami berdua saling mendukung dan mengerti, dan aku merasa bahwa aku telah menemukan teman yang sejati.
Saat matahari mulai terbenam, kami berdua memutuskan untuk keluar dari kafe dan berjalan-jalan di sekitar kampus. Aku merasa lega dan bahagia, mengetahui bahwa aku telah menemukan beberapa jawaban dan bahwa aku tidak sendirian. Ia juga merasa sama, dan kami berdua berjalan dengan tenang, menikmati suasana senja yang indah.
Saat kami berdua berjalan, aku menyadari bahwa hidup tidak selalu mudah, dan bahwa ada saat-saat ketika kita harus menghadapi keraguan dan ketidakpastian. Namun, aku juga menyadari bahwa kita tidak sendirian, dan bahwa ada orang lain yang peduli padanya. Aku merasa bersyukur atas pertemuan itu, dan aku tahu bahwa aku akan selalu mengingatnya sebagai salah satu momen paling berharga dalam hidupku.
Aku memandang ke luar jendela, melihat hamparan rumput hijau yang terawat rapi dan beberapa mahasiswa yang berlalu-lalang, sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Aku merasa seperti sedang terjebak dalam sebuah dunia yang berputar tanpa aku. Tiba-tiba, pintu kafe terbuka, dan seorang gadis dengan rambut panjang, berwarna cokelat muda, dan mata yang bijak, masuk. Ia mengenakan kardigan merah muda yang longgar di atas kemeja putih, dan tas kanvas cokelat yang sudah mulai pudar warnanya di bahu kirinya. Ia memandang sekeliling, seolah mencari seseorang, dan ketika matanya bertemu dengan aku, ada sesuatu yang aneh, seperti kilatan kenangan yang terlupakan.
Gadis itu mendekat, dan aku bisa melihat wajahnya lebih jelas. Ia memiliki hidung mancung dan bibir tipis yang terlihat sedih. Ia memperkenalkan diri sebagai Lysandra, dan kami mulai berbincang tentang skripsi kami. Aku memperhatikan cara ia menjelaskan tentang teori desain grafis dengan antusias, dan bagaimana ia menggambarkan kesulitannya dalam menyampaikan konsep kepada dosen pembimbing. Aku merasa seperti telah menemukan seseorang yang memahami kesulitanku.
Kami terus berbicara, dan kafe kampus yang tadinya terasa sepi dan melankolis, kini terasa seperti sebuah tempat yang hangat dan nyaman. Aku merasa seperti telah menemukan sebuah persahabatan, atau bahkan sesuatu yang lebih dalam. Tapi, ketika Lysandra menyebutkan tentang mantan kekasihnya, aku merasa seperti sedang terjatuh ke dalam lubang yang dalam. Aku menyadari bahwa aku tidak tahu banyak tentangnya, dan rằng ada banyak hal yang tidak kuketahui tentang dirinya.
Aku memandang ke luar jendela lagi, melihat langit yang masih abu-abu, dan merasa seperti sedang berdiri di atas tebing, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku tahu bahwa aku harus mengungkapkan perasaanku, tetapi aku juga tahu bahwa itu tidak akan mudah. Aku masih memiliki banyak pertanyaan, dan aku tidak tahu apakah aku akan menemukan jawabannya.
Aku memandang ke luar jendela lagi, melihat langit yang masih abu-abu, dan merasa seperti sedang berdiri di atas tebing, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku tahu bahwa aku harus mengungkapkan perasaanku, tetapi aku juga tahu bahwa itu tidak akan mudah. Aku masih memiliki banyak pertanyaan, dan aku tidak tahu apakah aku akan menemukan jawabannya.
Aku memutuskan untuk mengambil langkah pertama, yaitu dengan mengunjungi kafe kampus lagi. Mungkin aku bisa menemukan beberapa jawaban di sana, atau mungkin aku hanya ingin merasakan kembali atmosfer yang sama seperti saat pertama kali bertemu dengannya. Aku memesan secangkir kopi dan duduk di meja yang sama seperti sebelumnya, berharap bahwa beberapa kenangan akan kembali.
Saat aku duduk di sana, aku melihat beberapa mahasiswa lain yang sedang belajar atau ngobrol. Mereka semua terlihat bahagia dan tidak memiliki beban pikiran, berbeda dengan aku yang masih terjebak dalam keraguan. Aku memandang ke sekeliling kafe, mencari sesuatu yang bisa mengalihkan perhatianku dari pikiran-pikiran yang mengganggu.
Tiba-tiba, aku melihat seorang gadis yang sedang duduk sendirian di pojok kafe. Ia memiliki wajah yang familiar, dan aku menyadari bahwa itu adalah dia, orang yang aku cari. Aku merasa gembira dan takut pada saat yang sama, tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku memutuskan untuk mendatanginya, berharap bahwa aku bisa menemukan beberapa jawaban dan mengakhiri keraguan yang telah mengganggu aku selama ini.
Saat aku mendekatinya, ia melihat ke arahku dan tersenyum. Aku merasa lega dan gembira, mengetahui bahwa ia tidak marah atau keberatan dengan kehadiranku. Aku duduk di sebelahnya dan kami berdua mulai berbicara. Ia menceritakan tentang apa yang telah terjadi padanya, dan aku mendengarkan dengan saksama. Aku menyadari bahwa ia memiliki masalah yang lebih besar daripada aku, dan aku merasa bersyukur bahwa aku tidak sendirian dalam menghadapi keraguan.
Kami berdua berbicara selama beberapa jam, berbagi pengalaman dan pikiran. Aku merasa bahwa aku telah menemukan beberapa jawaban, dan bahwa aku tidak sendirian dalam menghadapi keraguan. Ia juga menyadari bahwa ia tidak sendirian, dan bahwa ada orang lain yang peduli padanya. Kami berdua saling mendukung dan mengerti, dan aku merasa bahwa aku telah menemukan teman yang sejati.
Saat matahari mulai terbenam, kami berdua memutuskan untuk keluar dari kafe dan berjalan-jalan di sekitar kampus. Aku merasa lega dan bahagia, mengetahui bahwa aku telah menemukan beberapa jawaban dan bahwa aku tidak sendirian. Ia juga merasa sama, dan kami berdua berjalan dengan tenang, menikmati suasana senja yang indah.
Saat kami berdua berjalan, aku menyadari bahwa hidup tidak selalu mudah, dan bahwa ada saat-saat ketika kita harus menghadapi keraguan dan ketidakpastian. Namun, aku juga menyadari bahwa kita tidak sendirian, dan bahwa ada orang lain yang peduli padanya. Aku merasa bersyukur atas pertemuan itu, dan aku tahu bahwa aku akan selalu mengingatnya sebagai salah satu momen paling berharga dalam hidupku.
💡 Pesan Moral:
Hidup tidak selalu mudah, namun kita tidak sendirian dalam menghadapi keraguan dan ketidakpastian. Dengan saling mendukung dan mengerti, kita dapat melewati saat-saat sulit dan menemukan jawaban yang kita cari.
Hidup tidak selalu mudah, namun kita tidak sendirian dalam menghadapi keraguan dan ketidakpastian. Dengan saling mendukung dan mengerti, kita dapat melewati saat-saat sulit dan menemukan jawaban yang kita cari.
