Menjadi komedian di depan calon mertua adalah perjudian paling berisiko. Aku baru saja kehilangan seluruh chip-ku di pinggir kolam yang berbau lumut busuk. Saat itu, aku mencoba peruntungan dengan melontarkan Jokes Bapak-bapak Spesialis Mancing Mania.
Di sana, aku terjebak di antara bau pelet dan keheningan yang menghakimi. Aku menyadari bahwa satu lelucon garing bisa menghancurkan reputasi. Bahkan prosesnya lebih cepat daripada senar pancing yang putus.
Ini bukan sekadar cerita tentang gagal memancing ikan. Aku justru secara sukarela menggali kuburan sosial sendiri. Modalnya hanya lelucon receh yang aku pelajari dari grup WhatsApp keluarga.
Bayangkan suasananya: Sabtu pagi yang lembap dan matahari baru saja memicingkan mata. Aku berdiri di samping calon mertua, seorang Sigma Male sejati dalam ekosistem ikan mas. Bermodal kenaifan delulu, aku meluncurkan 'senjata rahasia'.
'Pa, tahu nggak ikan apa yang paling setia?' tanyaku. Aku mencoba membangun rizz yang sebenarnya sudah red flag sejak dalam pikiran. Beliau diam, hanya suara kincir air yang berputar malas.
'Ikan... Ikan-t stop loving you!' Lelucon itu meluncur secepat sat-set. Namun, ia mendarat dengan bunyi 'plung' yang menyedihkan. Persis seperti umpan pelet murahan yang tenggelam tanpa disambar.
Tidak ada tawa sama sekali. Yang ada hanyalah tatapan kosong yang sangat dingin. Seolah-olah beliau sedang melakukan mewing massal demi menjaga kewarasan dari gempuran Jokes Bapak-bapak Spesialis Mancing Mania milikku.
Filosofi 'Boncos' dan Kehancuran Harga Diri
Kegagalanku bukan sekadar salah pilih kata. Ini adalah kegagalan memahami ekosistem sosial bapak-bapak. Dalam dunia mancing, humor bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah mata uang.
Sayangnya, aku baru saja dinyatakan bangkrut. Aku mencoba terlalu keras untuk terlihat keren. Padahal di empang, hukum rimba yang berlaku adalah hukum 'Boncos'.
Boncos adalah kondisi tidak mendapatkan ikan yang harus dirayakan dengan humor sarkas. Bukan dengan jokes receh yang aromanya mirip skrip komedi gagal tahun 2005. Bapak-bapak yang menatap pelampung selama 8 jam tidak butuh kata-kata paksaan.
Mereka butuh kesunyian yang sesekali dipecah oleh keluhan harga umpan. Atau mungkin cerita legendaris tentang ikan besar yang hampir tertangkap. Aku gagal karena mencoba menjadi main character di panggung milik sang ikan.
Rizz Bapak-Bapak Adalah Ilmu Hitam yang Tak Terjangkau
Menjadi lucu di depan spesialis mancing butuh sinkronisasi aura yang luar biasa. Aku melihat mereka saling melempar ejekan tentang joran yang melengkung. Padahal isinya cuma sampah plastik, tapi mereka tertawa sampai tersedak.
Itu adalah level koneksi yang tidak bisa dipelajari lewat tutorial YouTube. Aku mencoba meniru gaya mereka, tapi malah terlihat seperti Skibidi yang tersesat. Rasanya sangat cringe, fr.
Kesimpulan: Pulang dengan Ember Kosong dan Hati yang Patah
Pada akhirnya, aku pulang dengan ember kosong dan harga diri yang tercecer. Tidak ada ikan, apalagi restu mertua yang makin terasa seperti delulu belaka. Kegagalan ini adalah pelajaran mahal tentang autentisitas.
Jangan pernah meremehkan kekuatan diamnya seorang bapak-bapak yang sedang memegang joran. Di balik ketenangan itu, ada radar yang bisa mendeteksi ketidakjujuran jokes kita. Tetaplah menjadi diri sendiri, meski hanya amatir yang cocok mancing keributan di media sosial.
