Di sore yang sunyi, ketika matahari mulai menyembunyikan diri di balik gedung-gedung kampus, Farrel duduk sendirian di balcony lantai tiga gedung perkuliahan. Ia memandang ke luar, menatap langit yang berwarna jingga keemasan, sambil menggenggam gelas kopi yang sudah mulai dingin. Di tangannya, tergenggam sebuah bolpen yang sering ia gunakan untuk mencoret-coret ide di kertas. Farrel adalah seorang mahasiswa jurusan desain, yang sedang sibuk mengerjakan skripsi tentang pengembangan desain interior untuk ruang-ruang publik di kampus.
Ia memikirkan tentang bagaimana caranya membuat ruang-ruang tersebut lebih nyaman dan fungsional, sehingga dapat meningkatkan kualitas belajar dan interaksi antar mahasiswa. Sementara itu, ia juga memikirkan tentang seseorang, yaitu Nadira, teman sekelasnya yang juga sedang mengerjakan skripsi tentang topik yang sama. Farrel dan Nadira sering bertemu untuk berdiskusi dan berbagi ide, namun Farrel belum pernah berani mengungkapkan perasaannya kepada Nadira.
Ketika Farrel sedang terpaku dalam pikirannya, ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Ia menoleh, dan melihat Nadira berdiri di pintu balcony dengan senyum manis di wajahnya. 'Hai, Farrel', kata Nadira, 'aku sedang mencarimu. Aku butuh bantuanmu untuk mengerjakan skripsi ini.' Farrel tersenyum, dan mengajak Nadira duduk di sebelahnya. Mereka berdua kemudian terlibat dalam diskusi yang seru dan mendalam tentang desain interior, dan Farrel merasa sangat nyaman dan bahagia berada di dekat Nadira.
Namun, Farrel masih belum berani mengungkapkan perasaannya kepada Nadira. Ia takut bahwa perasaannya tidak akan dibalas, dan hubungan mereka sebagai teman sekelas akan menjadi tidak nyaman. Sementara itu, Nadira juga tampaknya memiliki perasaan yang sama terhadap Farrel, namun ia juga belum berani mengungkapkannya.
Ketika senja mulai berganti menjadi malam, Farrel dan Nadira memutuskan untuk berpisah dan melanjutkan diskusi mereka keesokan hari. Farrel merasa sedih karena harus berpisah dengan Nadira, namun ia juga merasa berharap bahwa suatu hari nanti, ia akan dapat mengungkapkan perasaannya kepada Nadira, dan mungkin saja, perasaan itu akan dibalas.
Saat Farrel kembali ke kamarnya, ia tidak dapat tidur. Ia terus memikirkan tentang Nadira, dan bagaimana caranya ia dapat mengungkapkan perasaannya kepadanya. Ia tahu bahwa ia harus berani, dan tidak boleh takut akan kemungkinan penolakan. Farrel kemudian memutuskan untuk menulis surat kepada Nadira, dan mengungkapkan perasaannya di dalam surat tersebut.
Ia menulis dengan hati yang berdebar-debar, dan mengungkapkan semua perasaannya kepada Nadira. Ia berharap bahwa Nadira akan membaca surat tersebut, dan memahami perasaannya. Farrel kemudian menyimpan surat tersebut di dalam laci meja, dan memutuskan untuk menunggu kesempatan yang tepat untuk memberikannya kepada Nadira.
Status cerita ini masih belum selesai, karena Farrel belum memberikan surat tersebut kepada Nadira, dan belum tahu bagaimana reaksi Nadira terhadap perasaannya.
Hari-hari berlalu, dan Farrel semakin gelisah menunggu kesempatan yang tepat untuk memberikan surat tersebut kepada Nadira. Ia sering melihat Nadira di kampus, tetapi tidak pernah menemukan waktu yang tepat untuk menyampaikan perasaannya. Suatu hari, saat sedang berjalan di koridor kampus, Farrel melihat Nadira duduk sendirian di balcony kampus, menatap ke arah matahari terbenam. Ia merasa ini adalah kesempatan yang tepat, dan dengan hati yang berdebar-debar, ia mendatangi Nadira.
Nadira terkejut saat melihat Farrel berdiri di sampingnya, tetapi kemudian ia tersenyum dan mempersilakan Farrel duduk di sampingnya. Mereka berdua duduk terdiam untuk beberapa saat, menikmati pemandangan senja yang indah. Farrel merasa ini adalah waktu yang tepat, dan ia mengambil surat tersebut dari kantongnya. Dengan tangan yang gemetar, ia menyerahkan surat tersebut kepada Nadira.
Nadira menerima surat tersebut dengan hati-hati, dan memandang Farrel dengan tatapan yang penasaran. Ia membuka surat tersebut, dan mulai membacanya. Farrel menunggu dengan hati yang berdebar-debar, tidak tahu bagaimana reaksi Nadira terhadap perasaannya. Setelah beberapa saat, Nadira selesai membaca surat tersebut, dan ia menatap Farrel dengan mata yang berlinang. 'Farrel, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan,' katanya, suaranya tergagap.
Farrel merasa hatinya hancur, tetapi ia mencoba untuk tetap tenang. 'Aku hanya ingin kamu tahu, Nadira, bahwa aku menyukaimu,' katanya, suaranya tidak stabil. Nadira menatap Farrel dengan mata yang penuh emosi, dan kemudian ia mengangguk pelan-pelan. 'Aku juga menyukaimu, Farrel,' katanya, suaranya hampir tidak terdengar.
Farrel merasa hatinya melompat dengan gembira, dan ia merasa semua yang ia lakukan sebelumnya tidak sia-sia. Ia merasa bahwa ia telah menemukan seseorang yang benar-benar mengerti dan menerima perasaannya. Mereka berdua duduk terdiam untuk beberapa saat, menikmati pemandangan senja yang indah, dan merasakan kebahagiaan yang tidak terhingga.
Dalam senja yang indah di balcony kampus, Farrel dan Nadira menemukan cinta yang sebenarnya, dan mereka berdua merasa bahwa mereka telah menemukan tujuan hidup mereka. Mereka berdua merasa bahwa cinta adalah jawaban atas semua pertanyaan hidup, dan mereka berdua siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi di masa depan.
Ia memikirkan tentang bagaimana caranya membuat ruang-ruang tersebut lebih nyaman dan fungsional, sehingga dapat meningkatkan kualitas belajar dan interaksi antar mahasiswa. Sementara itu, ia juga memikirkan tentang seseorang, yaitu Nadira, teman sekelasnya yang juga sedang mengerjakan skripsi tentang topik yang sama. Farrel dan Nadira sering bertemu untuk berdiskusi dan berbagi ide, namun Farrel belum pernah berani mengungkapkan perasaannya kepada Nadira.
Ketika Farrel sedang terpaku dalam pikirannya, ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Ia menoleh, dan melihat Nadira berdiri di pintu balcony dengan senyum manis di wajahnya. 'Hai, Farrel', kata Nadira, 'aku sedang mencarimu. Aku butuh bantuanmu untuk mengerjakan skripsi ini.' Farrel tersenyum, dan mengajak Nadira duduk di sebelahnya. Mereka berdua kemudian terlibat dalam diskusi yang seru dan mendalam tentang desain interior, dan Farrel merasa sangat nyaman dan bahagia berada di dekat Nadira.
Namun, Farrel masih belum berani mengungkapkan perasaannya kepada Nadira. Ia takut bahwa perasaannya tidak akan dibalas, dan hubungan mereka sebagai teman sekelas akan menjadi tidak nyaman. Sementara itu, Nadira juga tampaknya memiliki perasaan yang sama terhadap Farrel, namun ia juga belum berani mengungkapkannya.
Ketika senja mulai berganti menjadi malam, Farrel dan Nadira memutuskan untuk berpisah dan melanjutkan diskusi mereka keesokan hari. Farrel merasa sedih karena harus berpisah dengan Nadira, namun ia juga merasa berharap bahwa suatu hari nanti, ia akan dapat mengungkapkan perasaannya kepada Nadira, dan mungkin saja, perasaan itu akan dibalas.
Saat Farrel kembali ke kamarnya, ia tidak dapat tidur. Ia terus memikirkan tentang Nadira, dan bagaimana caranya ia dapat mengungkapkan perasaannya kepadanya. Ia tahu bahwa ia harus berani, dan tidak boleh takut akan kemungkinan penolakan. Farrel kemudian memutuskan untuk menulis surat kepada Nadira, dan mengungkapkan perasaannya di dalam surat tersebut.
Ia menulis dengan hati yang berdebar-debar, dan mengungkapkan semua perasaannya kepada Nadira. Ia berharap bahwa Nadira akan membaca surat tersebut, dan memahami perasaannya. Farrel kemudian menyimpan surat tersebut di dalam laci meja, dan memutuskan untuk menunggu kesempatan yang tepat untuk memberikannya kepada Nadira.
Status cerita ini masih belum selesai, karena Farrel belum memberikan surat tersebut kepada Nadira, dan belum tahu bagaimana reaksi Nadira terhadap perasaannya.
Hari-hari berlalu, dan Farrel semakin gelisah menunggu kesempatan yang tepat untuk memberikan surat tersebut kepada Nadira. Ia sering melihat Nadira di kampus, tetapi tidak pernah menemukan waktu yang tepat untuk menyampaikan perasaannya. Suatu hari, saat sedang berjalan di koridor kampus, Farrel melihat Nadira duduk sendirian di balcony kampus, menatap ke arah matahari terbenam. Ia merasa ini adalah kesempatan yang tepat, dan dengan hati yang berdebar-debar, ia mendatangi Nadira.
Nadira terkejut saat melihat Farrel berdiri di sampingnya, tetapi kemudian ia tersenyum dan mempersilakan Farrel duduk di sampingnya. Mereka berdua duduk terdiam untuk beberapa saat, menikmati pemandangan senja yang indah. Farrel merasa ini adalah waktu yang tepat, dan ia mengambil surat tersebut dari kantongnya. Dengan tangan yang gemetar, ia menyerahkan surat tersebut kepada Nadira.
Nadira menerima surat tersebut dengan hati-hati, dan memandang Farrel dengan tatapan yang penasaran. Ia membuka surat tersebut, dan mulai membacanya. Farrel menunggu dengan hati yang berdebar-debar, tidak tahu bagaimana reaksi Nadira terhadap perasaannya. Setelah beberapa saat, Nadira selesai membaca surat tersebut, dan ia menatap Farrel dengan mata yang berlinang. 'Farrel, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan,' katanya, suaranya tergagap.
Farrel merasa hatinya hancur, tetapi ia mencoba untuk tetap tenang. 'Aku hanya ingin kamu tahu, Nadira, bahwa aku menyukaimu,' katanya, suaranya tidak stabil. Nadira menatap Farrel dengan mata yang penuh emosi, dan kemudian ia mengangguk pelan-pelan. 'Aku juga menyukaimu, Farrel,' katanya, suaranya hampir tidak terdengar.
Farrel merasa hatinya melompat dengan gembira, dan ia merasa semua yang ia lakukan sebelumnya tidak sia-sia. Ia merasa bahwa ia telah menemukan seseorang yang benar-benar mengerti dan menerima perasaannya. Mereka berdua duduk terdiam untuk beberapa saat, menikmati pemandangan senja yang indah, dan merasakan kebahagiaan yang tidak terhingga.
Dalam senja yang indah di balcony kampus, Farrel dan Nadira menemukan cinta yang sebenarnya, dan mereka berdua merasa bahwa mereka telah menemukan tujuan hidup mereka. Mereka berdua merasa bahwa cinta adalah jawaban atas semua pertanyaan hidup, dan mereka berdua siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi di masa depan.
💡 Pesan Moral:
Cinta adalah jawaban atas semua pertanyaan hidup, dan dengan menyampaikan perasaan kita secara jujur dan terbuka, kita dapat menemukan kebahagiaan yang sebenarnya.
Cinta adalah jawaban atas semua pertanyaan hidup, dan dengan menyampaikan perasaan kita secara jujur dan terbuka, kita dapat menemukan kebahagiaan yang sebenarnya.
