Di sebuah kampus seni yang terletak di pinggir kota, ada seorang mahasiswa bernama Kaidën yang sedang mengejar deadline untuk mengumpulkan tugas akhirnya. Kaidën duduk di bangku panjang yang terletak di bawah pohon beringin, sambil memandang ke arah danau buatan yang terletak di tengah kampus. Ia mengeratkan tali tas kanvasnya yang sudah mulai pudar warnanya di bagian bahu, dan memulai untuk menggambar sketsa tugas akhirnya. Suara-suara burung dan deru angin yang lembut membuatnya merasa santai, namun ia tidak bisa menghilangkan perasaan cemas yang menghantui pikirannya. Ia telah menghabiskan berbulan-bulan untuk mengerjakan tugas akhirnya, tetapi ia masih merasa bahwa ada sesuatu yang kurang. Kaidën memandang ke arah Gedung Seni, yang terletak di seberang danau, dan ia melihat seorang gadis cantik yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Gadis itu memiliki rambut panjang yang berwarna coklat, dan matanya yang berwarna biru membuat Kaidën merasa terpesona. Ia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa gadis itu adalah seseorang yang spesial, dan ia merasa ingin mengenalnya lebih dekat. Ketika gadis itu mendekati, Kaidën menyapanya dengan senyum yang lebar, dan gadis itu membalasnya dengan senyum yang sama. Mereka berdua duduk di bangku panjang, dan mulai berbincang tentang tugas akhir mereka. Kaidën merasa bahwa ia telah menemukan seseorang yang memiliki minat yang sama dengan dirinya, dan ia merasa bahagia. Namun, ia tidak bisa menghilangkan perasaan cemas yang masih menghantui pikirannya, karena ia masih memiliki deadline yang harus dipenuhi. Kaidën dan gadis itu, yang bernama Lyrik, terus berbincang dan berbagi pengalaman mereka, dan Kaidën merasa bahwa ia telah menemukan teman yang sejati. Mereka berdua memutuskan untuk bekerja sama untuk menyelesaikan tugas akhir mereka, dan Kaidën merasa bahwa ia telah menemukan seseorang yang bisa membantunya mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Ketika senja mulai turun, Kaidën dan Lyrik memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kampus, dan mereka berdua menikmati keindahan alam yang terletak di sekitar mereka. Mereka berbincang tentang harapan dan impian mereka, dan Kaidën merasa bahwa ia telah menemukan seseorang yang memiliki visi yang sama dengan dirinya. Kaidën dan Lyrik terus berjalan-jalan, dan mereka berdua menemukan bahwa mereka memiliki banyak kesamaan. Mereka berdua menyadari bahwa mereka memiliki perasaan yang sama, dan mereka berdua memutuskan untuk mengungkapkan perasaan mereka. Kaidën merasa bahagia, karena ia telah menemukan seseorang yang bisa memahami dirinya. Namun, ia masih memiliki deadline yang harus dipenuhi, dan ia tidak bisa menghilangkan perasaan cemas yang masih menghantui pikirannya. Kaidën dan Lyrik memutuskan untuk terus bekerja sama, dan mereka berdua berjanji untuk saling membantu. Mereka berdua yakin bahwa mereka bisa menyelesaikan tugas akhir mereka, dan mereka berdua merasa bahagia karena telah menemukan teman yang sejati. Kaidën masih memiliki perjuangan yang harus dihadapi, tetapi ia merasa bahwa ia tidak sendirian, karena ia memiliki Lyrik di sampingnya. Ia masih memiliki deadline yang harus dipenuhi, tetapi ia merasa bahwa ia bisa menghadapinya, karena ia memiliki seseorang yang percaya padanya. Ia masih memiliki kesulitan yang harus diatasi, tetapi ia merasa bahwa ia bisa mengatasiinya, karena ia memiliki Lyrik yang bisa membantunya. Kaidën dan Lyrik terus berjuang, dan mereka berdua yakin bahwa mereka bisa menyelesaikan tugas akhir mereka. Mereka berdua merasa bahagia, karena mereka telah menemukan teman yang sejati, dan mereka berdua yakin bahwa mereka bisa menghadapi apa pun yang datang di depan mereka. status: sambung
Hari-hari berlalu, dan Kaidën serta Lyrik terus berjuang untuk menyelesaikan tugas akhir mereka. Mereka berdua menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan, mencari referensi dan mengolah data. Kaidën yang awalnya merasa kesulitan, kini mulai menemukan ritme dan kepercayaan diri. Ia mulai menyadari bahwa ia memiliki kemampuan yang lebih dari yang ia pikirkan sebelumnya. Lyrik juga terus memberikan dukungan dan motivasi, sehingga Kaidën merasa lebih nyaman dan percaya diri. Suatu hari, saat mereka sedang istirahat di taman kampus, Lyrik tiba-tiba mengeluarkan sebuah buku kecil dari tasnya. Ia membuka buku itu dan menunjukkan halaman yang telah diisi dengan coretan-coretan dan gambar. Kaidën terkejut ketika melihat bahwa itu adalah buku harian Lyrik, dan ia merasa terhormat karena Lyrik mempercayainya untuk melihatnya. Lyrik menjelaskan bahwa buku itu adalah tempat ia menyimpan pikiran dan perasaannya, dan bahwa ia ingin Kaidën menjadi bagian dari itu. Kaidën merasa terharu dan berterima kasih atas kepercayaan Lyrik, dan ia mulai merasa bahwa ia telah menemukan sahabat sejati. Mereka berdua kemudian kembali ke perpustakaan, dengan semangat dan motivasi yang baru. Beberapa minggu berlalu, dan tugas akhir mereka akhirnya selesai. Mereka berdua merasa bangga dan lega, karena mereka telah berhasil menyelesaikan sesuatu yang mereka pikirkan mustahil. Saat mereka sedang bersiap-siap untuk presentasi, Kaidën mendapat kabar bahwa ayahnya telah sembuh dari penyakitnya. Ia merasa sangat gembira dan berterima kasih, karena ia percaya bahwa doa dan usaha Lyrik telah membantu ayahnya sembuh. Mereka berdua kemudian melakukan presentasi dengan penuh percaya diri, dan mereka mendapatkan nilai yang sangat baik. Setelah presentasi, mereka berdua duduk di taman kampus, menikmati senja yang indah. Kaidën memandang Lyrik dengan mata yang berterima kasih, dan Lyrik tersenyum dengan hangat. Mereka berdua tahu bahwa mereka telah menemukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu persahabatan sejati. Dan mereka berdua yakin bahwa mereka akan selalu ada untuk satu sama lain, tidak peduli apa pun yang terjadi di masa depan.
Pada saat itu, Kaidën menyadari bahwa ia telah belajar bahwa persahabatan dan kepercayaan dapat membantu seseorang menghadapi kesulitan dan mencapai tujuan. Ia juga menyadari bahwa ia tidak sendirian, karena ia memiliki Lyrik yang selalu ada untuknya. Dan dengan itu, Kaidën merasa bahwa ia telah menemukan arti sebenarnya dari persahabatan.
Hari-hari berlalu, dan Kaidën serta Lyrik terus berjuang untuk menyelesaikan tugas akhir mereka. Mereka berdua menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan, mencari referensi dan mengolah data. Kaidën yang awalnya merasa kesulitan, kini mulai menemukan ritme dan kepercayaan diri. Ia mulai menyadari bahwa ia memiliki kemampuan yang lebih dari yang ia pikirkan sebelumnya. Lyrik juga terus memberikan dukungan dan motivasi, sehingga Kaidën merasa lebih nyaman dan percaya diri. Suatu hari, saat mereka sedang istirahat di taman kampus, Lyrik tiba-tiba mengeluarkan sebuah buku kecil dari tasnya. Ia membuka buku itu dan menunjukkan halaman yang telah diisi dengan coretan-coretan dan gambar. Kaidën terkejut ketika melihat bahwa itu adalah buku harian Lyrik, dan ia merasa terhormat karena Lyrik mempercayainya untuk melihatnya. Lyrik menjelaskan bahwa buku itu adalah tempat ia menyimpan pikiran dan perasaannya, dan bahwa ia ingin Kaidën menjadi bagian dari itu. Kaidën merasa terharu dan berterima kasih atas kepercayaan Lyrik, dan ia mulai merasa bahwa ia telah menemukan sahabat sejati. Mereka berdua kemudian kembali ke perpustakaan, dengan semangat dan motivasi yang baru. Beberapa minggu berlalu, dan tugas akhir mereka akhirnya selesai. Mereka berdua merasa bangga dan lega, karena mereka telah berhasil menyelesaikan sesuatu yang mereka pikirkan mustahil. Saat mereka sedang bersiap-siap untuk presentasi, Kaidën mendapat kabar bahwa ayahnya telah sembuh dari penyakitnya. Ia merasa sangat gembira dan berterima kasih, karena ia percaya bahwa doa dan usaha Lyrik telah membantu ayahnya sembuh. Mereka berdua kemudian melakukan presentasi dengan penuh percaya diri, dan mereka mendapatkan nilai yang sangat baik. Setelah presentasi, mereka berdua duduk di taman kampus, menikmati senja yang indah. Kaidën memandang Lyrik dengan mata yang berterima kasih, dan Lyrik tersenyum dengan hangat. Mereka berdua tahu bahwa mereka telah menemukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu persahabatan sejati. Dan mereka berdua yakin bahwa mereka akan selalu ada untuk satu sama lain, tidak peduli apa pun yang terjadi di masa depan.
Pada saat itu, Kaidën menyadari bahwa ia telah belajar bahwa persahabatan dan kepercayaan dapat membantu seseorang menghadapi kesulitan dan mencapai tujuan. Ia juga menyadari bahwa ia tidak sendirian, karena ia memiliki Lyrik yang selalu ada untuknya. Dan dengan itu, Kaidën merasa bahwa ia telah menemukan arti sebenarnya dari persahabatan.
💡 Pesan Moral:
Persahabatan sejati dapat membantu seseorang menghadapi kesulitan dan mencapai tujuan, karena dengan kepercayaan dan dukungan, kita dapat melakukan hal-hal yang mustahil.
Persahabatan sejati dapat membantu seseorang menghadapi kesulitan dan mencapai tujuan, karena dengan kepercayaan dan dukungan, kita dapat melakukan hal-hal yang mustahil.
