Di senja hari, cahaya matahari yang lembut memasuki jendela perpustakaan kampus, menerangi rak-rak buku yang teratur dan meja-meja belajar yang sibuk. Amalia, seorang mahasiswi jurusan sastra, duduk di meja pojok, menghadap jendela dengan pemandangan taman kampus yang hijau. Ia mengeratkan tali tas kanvasnya yang sudah mulai pudar warnanya di bagian bahu, sambil memandang ke luar jendela dengan pikiran yang jauh. Suara gesekan kursi kayu dan bisikan pelajar lainnya di sekitarnya membangun suasana yang nyaman, namun Amalia terlihat cemas, memegang pensil dengan erat dan menggaris bawah kalimat-kalimat penting dalam teks yang ia baca. Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki yang familiar, dan saat ia menoleh, ia melihat seorang pemuda yang dikenalnya, Rasyid, berdiri di ambang pintu perpustakaan, dengan senyum lembut dan mata yang memandang ke arahnya. Amalia merasa jantungnya berdegup kencang, karena Rasyid adalah mantan kekasihnya yang telah lama tidak berbicara dengannya. Rasyid mendekati meja Amalia, dengan langkah yang perlahan, dan bertanya tentang revisi skripsinya yang masih tertunda. Amalia menjelaskan tentang kesulitan yang ia hadapi, dan Rasyid menawarkan bantuan, dengan senyum yang hangat. Mereka berdua kemudian duduk bersama, membahas tentang skripsi dan membagi pengalaman, dengan canggung yang masih terasa, namun dengan kehangatan yang mulai kembali. Saat senja berganti menjadi malam, Amalia dan Rasyid memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kampus, menikmati suasana yang tenang dan udara yang sejuk. Mereka berbicara tentang banyak hal, dari buku yang mereka sukai hingga cita-cita mereka di masa depan. Amalia merasa bahwa ia telah menemukan kembali teman lama, dan mungkin, sesuatu yang lebih dari itu. Namun, saat mereka berjalan, Amalia tidak bisa tidak memikirkan tentang apa yang akan terjadi jika mereka kembali bersama, dan apakah mereka bisa melupakan masa lalu yang masih membekas. Cerita ini masih berlanjut...
💡 Pesan Moral:
Keberanian mengungkapkan perasaan seringkali lebih penting daripada kesempurnaan sebuah karya.
Keberanian mengungkapkan perasaan seringkali lebih penting daripada kesempurnaan sebuah karya.
