Arya mengatur rambutnya yang terurai ke belakang, menunjukkan wajahnya yang oval dengan hidung mancung. Ia memakai kacamata bingkai hitam yang sesuai dengan wajahnya, memberikan kesan yang cerdas. Saat itu, ia duduk di perpustakaan kampus, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang terasa keras. Ia membuka laptopnya, menampilkan layar yang terang benderang di ruangan yang mulai gelap. Arya memulai pengetikan revisi skripsinya, mengetik dengan jari-jari yang terampil. Suasana perpustakaan yang sunyi membuatnya merasa nyaman, namun tiba-tiba ia mendengar suara kursi yang bergeser. Ia menoleh ke samping, melihat seorang pria yang duduk di sebelahnya. Pria itu memakai jaket kulit coklat yang sudah mulai memudar, memberikan kesan yang kuat. Arya merasa terkejut, karena pria itu ternyata adalah mantan kekasihnya, yang telah berpisah selama beberapa tahun. Mereka berdua saling menatap, namun tidak ada yang berani berbicara. Suasana menjadi canggung, dengan hanya suara keyboard yang terdengar. Arya mencoba untuk fokus pada pekerjaannya, namun ia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa pria itu masih memperhatikannya. Setelah beberapa lama, pria itu finally berbicara, memecahkan kesunyian yang terasa berat. 'Arya, apa kabar?' ia bertanya, dengan suara yang lembut. Arya merasa terkejut, namun ia berusaha untuk tetap tenang. 'Baik, thanks,' ia menjawab, dengan suara yang pelan. Mereka berdua kemudian terlibat dalam percakapan yang panjang, membahas tentang masa lalu dan masa kini. Arya merasa bahwa pria itu masih memiliki perasaan yang sama, namun ia tidak yakin apakah ia masih memiliki perasaan yang sama. Saat percakapan, Arya menyadari bahwa ia masih memiliki perasaan yang kuat terhadap pria itu, namun ia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Ia memutuskan untuk menunggu waktu yang tepat, untuk mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. Saat itu, perpustakaan sudah mulai tutup, dan Arya harus meninggalkan tempat itu. Ia berdiri, mengumpulkan barang-barangnya, dan berjalan keluar perpustakaan. Pria itu juga berdiri, mengikuti Arya keluar perpustakaan. Mereka berdua kemudian berjalan bersama, menuju ke parkiran kampus. Di parkiran, mereka berhenti sejenak, dan pria itu memandang Arya dengan mata yang dalam. 'Arya, aku masih memiliki perasaan yang sama,' ia berkata, dengan suara yang lembut. Arya merasa terkejut, namun ia juga merasa bahagia. Ia menyadari bahwa pria itu masih memiliki perasaan yang sama, dan ia juga masih memiliki perasaan yang sama. Mereka berdua kemudian berbagi kecupan, di bawah langit senja yang terang. Arya merasa bahwa ia telah menemukan kembali cintanya yang sebenarnya, dan ia bersyukur atas kesempatan kedua yang ia dapatkan.
💡 Pesan Moral:
Keberanian mengungkapkan perasaan seringkali lebih penting daripada kesempurnaan sebuah karya.
Keberanian mengungkapkan perasaan seringkali lebih penting daripada kesempurnaan sebuah karya.
