Malam itu, langit di atas kampus terlihat biru tua dengan bintang-bintang yang bersinar lemah. Aurélien, seorang mahasiswa seni rupa, duduk sendirian di bawah lampu sorot yang terletak di sudut kampus. Ia memakai kemeja putih yang dilipat di pergelangan tangan, dan celana jeans yang terlihat kusam. Rambutnya yang keriting dan hitam terlihat berantakan, dan matanya yang coklat tua terlihat lelah. Aurélien memandang ke arah jalan yang berliku-liku di tengah kampus, sementara lampu sorot di atasnya memancarkan cahaya yang terang dan hangat. Ia merasa sedih dan sendirinya, karena baru saja putus dengan pacarnya, Léa. Aurélien dan Léa telah berkencan selama tiga tahun, dan putusnya mereka membuat Aurélien merasa kehilangan. Ia memikirkan kenangan-kenangan mereka bersama, dan bagaimana Léa selalu membuatnya tertawa. Aurélien juga memikirkan bagaimana Léa selalu mendukungnya dalam mencapai impiannya sebagai seniman. Ia merasa bahwa hidupnya sekarang terasa kosong dan tidak berwarna. Saat itu, Aurélien mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Ia berpaling dan melihat seorang gadis cantik dengan rambut panjang yang berwarna merah burgundy. Gadis itu memakai kardigan merah muda dan celana kulot hitam, serta sepatu boots yang terlihat elegan. Aurélien tidak bisa tidak memperhatikan gadis itu, karena ia terlihat sangat cantik dan menarik. Gadis itu mendekati Aurélien dan bertanya apakah ia baik-baik saja. Aurélien menjawab bahwa ia sedang sedih karena putus dengan pacarnya. Gadis itu mendengarkan dengan sabar dan kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Elwira. Elwira adalah seorang mahasiswa sastra yang sangat suka membaca dan menulis puisi. Ia juga sangat suka berbicara tentang hidup dan cinta. Aurélien merasa bahwa Elwira sangat menarik dan berbeda dari gadis-gadis lain yang pernah ia temui. Ia berdua kemudian berbicara tentang hidup, cinta, dan impian mereka. Aurélien merasa bahwa ia telah menemukan seorang teman yang sangat baik, dan mungkin juga seorang cinta yang baru. Malam itu, Aurélien dan Elwira berbicara sampai larut malam, di bawah lampu sorot yang terang dan hangat. Mereka berdua merasa bahwa hidup mereka sekarang terasa lebih berwarna dan lebih menarik, karena mereka telah menemukan satu sama lain.
Malam itu, mereka terus berbicara tanpa henti, membagikan cerita dan impian mereka. Aurélien terkejut ketika Elwira mengungkapkan bahwa ia memiliki passion dalam menulis puisi dan cerita pendek. Ia sendiri memiliki minat yang sama, dan mereka berdua kemudian membahas tentang karya-karya sastra favorit mereka. Waktu terus berjalan, dan lampu sorot di atas mereka tampak semakin terang, seolah-olah ingin menerangi jalan mereka ke depan.
Aurélien merasa bahwa ia telah menemukan seseorang yang benar-benar mengerti dan mendengarkannya. Elwira juga merasakan hal yang sama, dan mereka berdua mulai merasa nyaman dan dekat satu sama lain. Mereka berbicara tentang masa lalu mereka, tentang kesedihan dan kegembiraan yang pernah mereka alami. Aurélien membuka diri tentang kehilangan orang tuanya saat ia masih kecil, dan Elwira mendengarkannya dengan penuh perhatian dan empati.
Ketika malam mulai larut, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kampus. Udara malam yang sejuk dan bintang-bintang yang twinkle di atas mereka membuat suasana menjadi sangat romantis. Mereka berdua berjalan berdampingan, tanpa perlu banyak berbicara, karena mereka sudah merasa nyaman dengan kehadiran satu sama lain.
Aurélien kemudian menyadari bahwa ia telah jatuh cinta dengan Elwira. Ia merasa bahwa ia telah menemukan seseorang yang sangat spesial, yang dapat mengerti dan menerima dirinya apa adanya. Ia berharap bahwa perasaannya dapat berbalas, dan bahwa mereka dapat memulai sebuah hubungan yang serius.
Malam itu, mereka berdua akhirnya berpisah, tetapi dengan janji untuk bertemu kembali keesokan harinya. Aurélien pulang ke asramanya dengan perasaan yang sangat bahagia, merasa bahwa ia telah menemukan sesuatu yang sangat berharga. Ia tidak dapat menunggu untuk bertemu Elwira lagi, dan untuk melihat apa yang akan terjadi di masa depan mereka.
Aurélien dan Elwira kemudian menjadi pasangan kekasih, dan mereka menghabiskan waktu mereka bersama, berbicara, berbagi cerita, dan menikmati kehidupan. Mereka belajar dari satu sama lain, dan mereka tumbuh menjadi orang-orang yang lebih baik. Aurélien menyadari bahwa cinta sejati memang ada, dan bahwa ia telah menemukannya dengan Elwira.
Pada akhirnya, Aurélien menyadari bahwa malam di bawah lampu sorot kampus itu telah menjadi momen yang sangat penting dalam hidupnya. Ia telah menemukan cinta, persahabatan, dan sebuah hubungan yang sangat berharga. Ia berharap bahwa mereka dapat terus menjalani kehidupan bersama, dan bahwa cinta mereka dapat terus tumbuh dan berkembang.
Malam itu, mereka terus berbicara tanpa henti, membagikan cerita dan impian mereka. Aurélien terkejut ketika Elwira mengungkapkan bahwa ia memiliki passion dalam menulis puisi dan cerita pendek. Ia sendiri memiliki minat yang sama, dan mereka berdua kemudian membahas tentang karya-karya sastra favorit mereka. Waktu terus berjalan, dan lampu sorot di atas mereka tampak semakin terang, seolah-olah ingin menerangi jalan mereka ke depan.
Aurélien merasa bahwa ia telah menemukan seseorang yang benar-benar mengerti dan mendengarkannya. Elwira juga merasakan hal yang sama, dan mereka berdua mulai merasa nyaman dan dekat satu sama lain. Mereka berbicara tentang masa lalu mereka, tentang kesedihan dan kegembiraan yang pernah mereka alami. Aurélien membuka diri tentang kehilangan orang tuanya saat ia masih kecil, dan Elwira mendengarkannya dengan penuh perhatian dan empati.
Ketika malam mulai larut, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kampus. Udara malam yang sejuk dan bintang-bintang yang twinkle di atas mereka membuat suasana menjadi sangat romantis. Mereka berdua berjalan berdampingan, tanpa perlu banyak berbicara, karena mereka sudah merasa nyaman dengan kehadiran satu sama lain.
Aurélien kemudian menyadari bahwa ia telah jatuh cinta dengan Elwira. Ia merasa bahwa ia telah menemukan seseorang yang sangat spesial, yang dapat mengerti dan menerima dirinya apa adanya. Ia berharap bahwa perasaannya dapat berbalas, dan bahwa mereka dapat memulai sebuah hubungan yang serius.
Malam itu, mereka berdua akhirnya berpisah, tetapi dengan janji untuk bertemu kembali keesokan harinya. Aurélien pulang ke asramanya dengan perasaan yang sangat bahagia, merasa bahwa ia telah menemukan sesuatu yang sangat berharga. Ia tidak dapat menunggu untuk bertemu Elwira lagi, dan untuk melihat apa yang akan terjadi di masa depan mereka.
Aurélien dan Elwira kemudian menjadi pasangan kekasih, dan mereka menghabiskan waktu mereka bersama, berbicara, berbagi cerita, dan menikmati kehidupan. Mereka belajar dari satu sama lain, dan mereka tumbuh menjadi orang-orang yang lebih baik. Aurélien menyadari bahwa cinta sejati memang ada, dan bahwa ia telah menemukannya dengan Elwira.
Pada akhirnya, Aurélien menyadari bahwa malam di bawah lampu sorot kampus itu telah menjadi momen yang sangat penting dalam hidupnya. Ia telah menemukan cinta, persahabatan, dan sebuah hubungan yang sangat berharga. Ia berharap bahwa mereka dapat terus menjalani kehidupan bersama, dan bahwa cinta mereka dapat terus tumbuh dan berkembang.
💡 Pesan Moral:
Cinta sejati memang ada, dan dapat ditemukan pada momen-momen yang tidak terduga. Penting untuk terbuka dan jujur dalam sebuah hubungan, karena itu dapat membawa kita pada kebahagiaan yang sebenarnya.
Cinta sejati memang ada, dan dapat ditemukan pada momen-momen yang tidak terduga. Penting untuk terbuka dan jujur dalam sebuah hubungan, karena itu dapat membawa kita pada kebahagiaan yang sebenarnya.
