Matahari telah memulai perjalanannya menuju ufuk barat, meninggalkan jejak merah keemasan di langit. Kael, seorang mahasiswa jurusan sastra, berjalan menyusuri koridor kampus yang sunyi, dengan tas kanvasnya yang sudah mulai pudar warnanya di bagian bahu. Ia memikirkan skripsinya yang belum selesai, dan betapa banyak revisi yang masih harus dilakukan. Setiap langkahnya mengeluarkan suara yang berbeda, tergantung pada jenis lantai yang diinjak. Suara itu seperti mencerminkan ritme jantungnya, yang berdegup dengan keras karena pikiran tentang skripsinya. Kael berhenti di depan jendela perpustakaan, memandangi suasana kampus yang mulai gelap. Lampu-lampu jalan mulai menyala, menciptakan kontras yang kuat antara cahaya dan kegelapan. Ia merasa seperti berada di dalam sebuah lukisan, dengan warna-warna yang begitu hidup. Saat itulah, ia melihat seorang wanita berambut panjang berjalan menuju perpustakaan, dengan sebuah buku tebal di tangannya. Kael tidak bisa tidak memperhatikan cara wanita itu berjalan, dengan langkah-langkah yang percaya diri dan mata yang tetap memandang ke depan. Ia merasa seperti telah melihatnya sebelumnya, tetapi tidak bisa mengingat di mana. Wanita itu berhenti di depannya, memandanginya dengan mata yang tajam. 'Halo,' ujarnya, dengan suara yang lembut. Kael merasa terkejut, tetapi berusaha untuk tidak menunjukkannya. 'Halo,' jawabnya, dengan suara yang sedikit bergetar. Mereka berdua berdiri di sana, memandangi satu sama lain, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Suasana menjadi semakin canggung, hingga akhirnya wanita itu memecahkan keheningan. 'Namaku Aria,' ujarnya, dengan senyum yang lebar. Kael merasa seperti telah menemukan sesuatu yang sangat berharga, tetapi tidak bisa mengatakannya. 'Namaku Kael,' jawabnya, dengan suara yang sedikit lebih stabil. Mereka berdua berjabat tangan, dengan sentuhan yang hangat. Dan dalam saat itu, Kael merasa seperti telah menemukan sebuah koneksi yang sangat kuat, dengan seseorang yang tidak ia kenal sebelumnya. Saat itu, Kael tidak tahu bahwa pertemuan itu akan membawanya pada sebuah petualangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Mereka berdua berdiri di sana, dengan senyum yang samar, tanpa kata-kata yang terucap. Suasana di sekitar mereka terasa sunyi, kecuali suara daun-daun yang bergoyang lembut diterpa angin senja. Kael merasa seperti sedang mengalami sesuatu yang sangat istimewa, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Ia bisa merasakan detak jantungnya yang berdebar, dan tangan yang masih terasa hangat dari jabatan tangan orang asing itu.
Orang asing itu, yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Lila, memandang Kael dengan mata yang dalam. 'Aku suka tempat ini,' katanya, dengan suara yang lembut. 'Tempat ini membuatku merasa tenang.' Kael mengangguk, masih dengan senyum yang sama. Ia juga suka tempat ini, tempat yang membuatnya merasa seperti ada di dunia lain.
Mereka berdua mulai berjalan, tanpa tujuan yang jelas, hanya mengikuti langkah kaki mereka. Kael merasa seperti sedang mengalami sesuatu yang sangat alami, sesuatu yang membuatnya merasa hidup. Ia bisa merasakan udara yang segar, dan sinar matahari yang masih menghangatkan kulitnya. Mereka berhenti di sebuah bangku, dan duduk bersama, dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
Lila memandang Kael, dengan mata yang penasaran. 'Apa yang kamu lakukan di sini?' tanyanya. Kael menggelengkan kepala, masih dengan senyum yang sama. 'Aku tidak tahu,' jawabnya. 'Aku hanya berjalan, dan aku menemukanmu.' Lila tersenyum, dan Kael bisa melihat kilatan kebahagiaan di matanya.
Mereka berdua duduk di sana, dalam kesunyian, hanya dengan suara daun-daun yang bergoyang lembut. Kael merasa seperti sedang mengalami sesuatu yang sangat dalam, sesuatu yang membuatnya merasa terhubung dengan orang lain. Ia bisa merasakan kehangatan dari tangan Lila, yang masih terasa hangat dari jabatan tangan mereka.
Dan dalam saat itu, Kael menyadari bahwa hidup tidak selalu tentang tujuan, atau tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Hidup tentang momen-momen kecil, seperti pertemuan dengan seseorang yang tidak kita kenal sebelumnya. Hidup tentang koneksi yang kita buat, dan tentang kehangatan yang kita bagikan dengan orang lain.
Saat matahari mulai terbenam, Kael dan Lila berdiri, dan berjalan bersama, tanpa kata-kata yang terucap. Mereka berdua tahu bahwa mereka akan bertemu lagi, bahwa koneksi yang mereka buat akan terus bertahan. Dan dalam saat itu, Kael merasa seperti sedang mengalami sesuatu yang sangat indah, sesuatu yang membuatnya merasa hidup.
Mereka berdua berdiri di sana, dengan senyum yang samar, tanpa kata-kata yang terucap. Suasana di sekitar mereka terasa sunyi, kecuali suara daun-daun yang bergoyang lembut diterpa angin senja. Kael merasa seperti sedang mengalami sesuatu yang sangat istimewa, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Ia bisa merasakan detak jantungnya yang berdebar, dan tangan yang masih terasa hangat dari jabatan tangan orang asing itu.
Orang asing itu, yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Lila, memandang Kael dengan mata yang dalam. 'Aku suka tempat ini,' katanya, dengan suara yang lembut. 'Tempat ini membuatku merasa tenang.' Kael mengangguk, masih dengan senyum yang sama. Ia juga suka tempat ini, tempat yang membuatnya merasa seperti ada di dunia lain.
Mereka berdua mulai berjalan, tanpa tujuan yang jelas, hanya mengikuti langkah kaki mereka. Kael merasa seperti sedang mengalami sesuatu yang sangat alami, sesuatu yang membuatnya merasa hidup. Ia bisa merasakan udara yang segar, dan sinar matahari yang masih menghangatkan kulitnya. Mereka berhenti di sebuah bangku, dan duduk bersama, dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
Lila memandang Kael, dengan mata yang penasaran. 'Apa yang kamu lakukan di sini?' tanyanya. Kael menggelengkan kepala, masih dengan senyum yang sama. 'Aku tidak tahu,' jawabnya. 'Aku hanya berjalan, dan aku menemukanmu.' Lila tersenyum, dan Kael bisa melihat kilatan kebahagiaan di matanya.
Mereka berdua duduk di sana, dalam kesunyian, hanya dengan suara daun-daun yang bergoyang lembut. Kael merasa seperti sedang mengalami sesuatu yang sangat dalam, sesuatu yang membuatnya merasa terhubung dengan orang lain. Ia bisa merasakan kehangatan dari tangan Lila, yang masih terasa hangat dari jabatan tangan mereka.
Dan dalam saat itu, Kael menyadari bahwa hidup tidak selalu tentang tujuan, atau tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Hidup tentang momen-momen kecil, seperti pertemuan dengan seseorang yang tidak kita kenal sebelumnya. Hidup tentang koneksi yang kita buat, dan tentang kehangatan yang kita bagikan dengan orang lain.
Saat matahari mulai terbenam, Kael dan Lila berdiri, dan berjalan bersama, tanpa kata-kata yang terucap. Mereka berdua tahu bahwa mereka akan bertemu lagi, bahwa koneksi yang mereka buat akan terus bertahan. Dan dalam saat itu, Kael merasa seperti sedang mengalami sesuatu yang sangat indah, sesuatu yang membuatnya merasa hidup.
💡 Pesan Moral:
Hidup tentang momen-momen kecil, dan tentang koneksi yang kita buat dengan orang lain.
Hidup tentang momen-momen kecil, dan tentang koneksi yang kita buat dengan orang lain.
