Senja di Antara Dinding Perpustakaan

Senja di Antara Dinding Perpustakaan
Perpustakaan universitas selalu menjadi tempat favorit bagi Elian, tempat di mana dia bisa menemukan ketenangan dan fokus untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Pada suatu sore, saat matahari mulai terbenam, Elian duduk di meja kayu yang sudah aus di pojok perpustakaan, dikelilingi oleh rak-rak buku yang menjulang tinggi. Ia mengeratkan tali tas kanvasnya yang sudah mulai pudar warnanya di bagian bahu, kemudian mulai membuka laptopnya. Suara kursi kayu yang berderit saat ia menariknya lebih dekat ke meja menjadi salah satu suara yang paling familiar baginya di tempat ini. Elian memulai pekerjaannya, membaca dan menulis dengan fokus, sampai tiba-tiba ia merasa ada yang mengganggu perhatiannya. Ia menoleh ke samping dan melihat seorang gadis berambut panjang dengan kacamata yang sedang membaca buku di meja sebelahnya. Gadis itu, yang kemudian Elian ketahui bernama Aria, memiliki senyum yang manis dan mata yang cerah, membuat Elian merasa penasaran. Aria tidak menyadari bahwa Elian sedang memperhatikannya, terlalu asyik membaca buku yang sedang dibacanya. Elian kembali fokus pada pekerjaannya, tetapi sesekali ia tidak bisa menahan diri untuk melirik Aria, yang membuatnya merasa sedikit gugup. Beberapa jam kemudian, perpustakaan mulai sepi, dan Elian serta Aria menjadi dua orang terakhir yang masih bertahan. Aria menutup bukunya dan mengambil tasnya, kemudian berdiri dan berjalan menuju Elian. 'Maaf, apakah saya bisa meminjam pulpen Anda?' tanyanya dengan senyum manis. Elian terkejut, tetapi segera mengembalikan senyum Aria dan menyerahkan pulpen yang diminta. 'Tentu, silakan,' jawabnya, merasa sedikit grogi. Aria mengambil pulpen dan berterima kasih, kemudian kembali ke meja untuk mengambil beberapa barangnya. Elian memperhatikan Aria yang sedang mengumpulkan barang-barangnya, dan merasa penasaran tentang gadis ini. 'Maaf, saya Elian,' kata Elian, mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Aria memandangnya dengan mata yang cerah, kemudian mengambil tangannya. 'Aria, senang berkenalan,' jawabnya dengan senyum. Mereka berdua berbicara sebentar, membahas tentang buku dan tugas, sampai akhirnya Aria harus pergi karena sudah larut malam. Elian menonton Aria pergi, merasa sedikit kehilangan. Ia kembali duduk dan membuka laptopnya, tetapi pikirannya masih tertinggal pada Aria. Ia tidak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya tentang gadis itu, dan apa yang mungkin terjadi jika mereka bertemu lagi. Perpustakaan yang tadinya sunyi kini terasa sepi, dan Elian hanya bisa menunggu saat di mana dia bisa bertemu Aria lagi.

Elian membiarkan pikirannya melayang, membayangkan senyum Aria dan cara ia tersenyum saat membahas buku favoritnya. Ia tidak bisa membantu tetapi merasa ada ikatan yang dalam antara mereka, suatu ikatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Perpustakaan yang sunyi kini terasa seperti sebuah kapsul waktu, membekukan momen di mana mereka bertemu dan berbagi cerita. Elian mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengembalikan fokusnya pada tugas yang harus diselesaikannya, tetapi kata-kata di layar laptopnya menjadi kabur, digantikan oleh gambaran Aria yang duduk di seberangnya, membaca buku dengan wajah yang serius namun manis.

Hari-hari berlalu, dan Elian menemukan dirinya sering mengunjungi perpustakaan, berharap bisa bertemu Aria lagi. Mereka akhirnya bertemu di sebuah sudut perpustakaan, di mana mereka membahas tentang sastra dan kehidupan. Elian merasa seperti telah menemukan seorang teman sejati, seseorang yang mengerti dan menghargai kesukaannya akan buku. Aria juga tampaknya menikmati percakapan mereka, karena ia sering tertawa dan mengangguk saat Elian berbicara tentang teori sastra atau karakter favoritnya.

Saat senja mulai menjelang, warna jingga memasuki jendela perpustakaan, menciptakan suasana yang hangat dan nyaman. Elian dan Aria duduk bersama, membaca buku mereka masing-masing, tetapi sesekali mereka akan menoleh dan bertukar senyum. Itu adalah momen-momen kecil yang membuat Elian merasa hidupnya telah berubah, bahwa ada seseorang di luar sana yang peduli dan mengerti.

Malam itu, saat perpustakaan harus tutup, Elian dan Aria berjalan bersama keluar dari gedung, menuju ke sebuah kafe kecil di dekatnya. Mereka duduk di teras, menikmati udara malam yang sejuk dan debur ombak di kejauhan. Elian merasa seperti telah menemukan tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri, tanpa takut dihakimi atau dinekan. Aria mendengarkan saat ia berbicara tentang mimpi dan kekhawatirannya, memberikan kata-kata pengantar yang bijak dan mendukung.

Saat malam semakin larut, Elian menyadari bahwa ia telah menemukan sebuah persahabatan yang dalam dan berarti. Ia tidak lagi merasa sendirian, karena ada Aria di sampingnya, siap untuk mendengarkan dan membantu. Dan saat mereka berpisah, Elian merasa seperti telah menemukan seorang sahabat sejati, seseorang yang akan selalu ada untuknya, apa pun yang terjadi.


💡 Pesan Moral:
Persahabatan bisa ditemukan dalam momen-momen kecil dan tidak terduga, dan itu bisa menjadi sumber kekuatan dan dukungan dalam kehidupan.

Blog Pemikir Cerdas sebagai media untuk berbagi informasi dan tutorial simple untuk dunia IT.

Comments

Masukan sahabat sangat berarti untuk perbaikan kedepannya.
EmoticonEmoticon