Senja di Antara Lembaran Skripsi

Senja di Antara Lembaran Skripsi
Hari itu, matahari terbenam di balik Gedung Pusat Kampus, mewarnai langit dengan nuansa merah keemasan. Aurélia, seorang mahasiswi jurusan Sastra, duduk di bangku taman kampus, menghadap ke arah matahari terbenam. Ia memegang secangkir kopi hitam yang baru saja dibeli dari warung di dekat kampus, aroma kopi yang kuat memenuhi hidungnya. Aurélia memandang ke bawah, melihat lembaran skripsi yang berselerak di atas pangkuannya. Ia sedang mencoba menyelesaikan revisi skripsi, tapi pikirannya terus melanglang buana.

Aurélia mengingat kenangan-kenangan indah bersama kekasihnya, Ezekiel, yang juga seorang mahasiswa di kampus yang sama. Mereka bertemu di perpustakaan kampus, dan sejak itu, mereka tidak pernah terpisahkan. Ezekiel sangat mendukung Aurélia dalam menyelesaikan skripsinya, dan Aurélia sangat berterima kasih atas kehadiran Ezekiel dalam hidupnya.

Tiba-tiba, Aurélia mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Ia menoleh, dan melihat Ezekiel berdiri di belakangnya, dengan senyum manis di wajahnya. 'Apa kabar, Lia?' tanya Ezekiel, menggunakan nama panggilan Aurélia. Aurélia tersenyum, dan menjawab, 'Baik, Zeke. Sedang mencoba menyelesaikan skripsi.' Ezekiel mendekati Aurélia, dan duduk di sampingnya. 'Butuh bantuan?' tanya Ezekiel. Aurélia menggelengkan kepala, 'Tidak, aku bisa.' Ezekiel tersenyum, dan memandang ke arah matahari terbenam. 'Aku suka melihatmu saat seperti ini, Lia. Kamu terlihat sangat cantik.' Aurélia merona, dan memandang ke bawah. 'Terima kasih, Zeke.'

Mereka berdua duduk diam untuk beberapa saat, menikmati keindahan alam dan kebersamaan mereka. Aurélia merasa sangat bahagia, dan berterima kasih atas kehadiran Ezekiel dalam hidupnya. Ia tahu bahwa menyelesaikan skripsi tidak akan mudah, tapi dengan Ezekiel di sampingnya, ia merasa lebih percaya diri.

Setelah beberapa saat, Ezekiel berdiri, dan membantu Aurélia mengumpulkan lembaran skripsinya. 'Aku harus pergi, Lia. Aku memiliki janji dengan teman-teman.' Aurélia mengangguk, 'Baik, Zeke. Aku akan terus mengerjakan skripsi.' Ezekiel tersenyum, dan mencium kening Aurélia. 'Aku percaya kamu, Lia. Kamu bisa melakukannya.'

Aurélia tersenyum, dan memandang ke arah Ezekiel yang berjalan menjauh. Ia merasa sangat bahagia, dan berterima kasih atas kehadiran Ezekiel dalam hidupnya. Ia tahu bahwa menyelesaikan skripsi tidak akan mudah, tapi dengan Ezekiel di sampingnya, ia merasa lebih percaya diri.

Aurélia memandang ke arah jendela, menikmati senja yang mulai membasuh kota. Ia merasa sebuah ketenangan yang dalam, seperti jika semua masalahnya telah terpecahkan. Namun, kenyataannya, skripsinya masih jauh dari selesai. Ia menghela napas, mengambil laptop dan memulai pekerjaannya lagi. Kata-kata Ezekiel masih terngiang di telinganya, 'Aku percaya kamu, Lia. Kamu bisa melakukannya.' Ia tersenyum, merasa sebuah motivasi yang kuat untuk menyelesaikan skripsinya.

Hari-hari berikutnya, Aurélia bekerja keras, membenamkan diri dalam penelitian dan penulisan. Ia menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan, mencari referensi dan mempelajari data. Ezekiel selalu ada di sampingnya, memberikan dukungan dan motivasi. Mereka sering berdiskusi tentang topik skripsi Aurélia, dan Ezekiel selalu memberikan saran yang berguna.

Suatu hari, ketika Aurélia sedang mengerjakan bab terakhir skripsinya, ia merasa sebuah kebuntuan. Ia tidak tahu bagaimana cara menyimpulkan hasil penelitiannya, dan merasa sangat frustrasi. Ezekiel melihatnya, dan langsung memahami bahwa Aurélia sedang mengalami kesulitan. Ia duduk di sebelah Aurélia, dan bertanya, 'Apa yang salah, Lia? Kamu terlihat sangat kesal.' Aurélia menjelaskan masalahnya, dan Ezekiel mendengarkan dengan sabar. Setelah itu, ia memberikan beberapa saran yang sangat berguna, dan Aurélia merasa sebuah kelegaan.

Dengan bantuan Ezekiel, Aurélia akhirnya dapat menyelesaikan skripsinya. Ia merasa sangat bangga dan lega, karena telah menyelesaikan sebuah pekerjaan yang sangat berat. Ezekiel juga sangat bangga dengan Aurélia, dan ia menunjukkan kebanggaannya dengan cara yang sangat manis. Ia membawa Aurélia ke sebuah restoran yang indah, dan mereka makan malam bersama, menikmati hasil kerja keras Aurélia.

Saat mereka makan malam, Aurélia tidak bisa tidak merasa sangat berterima kasih kepada Ezekiel. Ia tahu bahwa tanpa Ezekiel, ia tidak akan bisa menyelesaikan skripsinya. Ia memandang ke arah Ezekiel, dan melihat sebuah cinta yang dalam di matanya. Ia tahu bahwa Ezekiel tidak hanya menyayanginya, tetapi juga sangat mendukungnya dalam semua aspek kehidupan. Aurélia merasa sebuah kebahagiaan yang dalam, dan ia tahu bahwa ia telah menemukan seseorang yang sangat spesial dalam hidupnya.

Aurélia menyelesaikan skripsinya, dan ia lulus dengan sangat baik. Ia dan Ezekiel masih bersama, dan mereka terus mendukung satu sama lain dalam semua aspek kehidupan. Aurélia tahu bahwa ia telah menemukan sebuah cinta yang sejati, dan ia sangat berterima kasih kepada Ezekiel atas semua yang telah ia lakukan untuknya. Ia tahu bahwa cinta dan dukungan adalah kunci untuk menyelesaikan semua masalah dalam hidup, dan ia sangat beruntung telah menemukan seseorang yang bisa memberikan kedua hal tersebut.


💡 Pesan Moral:
Cinta dan dukungan adalah kunci untuk menyelesaikan semua masalah dalam hidup, dan memiliki seseorang yang bisa memberikan kedua hal tersebut adalah sebuah anugerah yang sangat berharga.

Blog Pemikir Cerdas sebagai media untuk berbagi informasi dan tutorial simple untuk dunia IT.

Comments

Masukan sahabat sangat berarti untuk perbaikan kedepannya.
EmoticonEmoticon