Senja di Antara Lembaran Skripsi

Senja di Antara Lembaran Skripsi
Di sebuah kampus yang tenang, di antara lembaran skripsi yang tak berujung, ada seorang mahasiswa bernama Elian. Ia duduk di perpustakaan, menghadap meja kayu yang sudah mulai retak, dengan tumpukan buku dan kertas yang menyerupai gunung. Elian memakai kacamata hitam yang agak kotor, dengan rambut yang acak-acakan karena kurang tidur. Ia meminum kopi saset yang sudah dingin, tetapi masih bisa menghangatkan tubuhnya yang lelah. Di sebelahnya, ada seorang mahasiswi cantik bernama Lirika, yang sedang mengetik skripsinya dengan cepat dan tangguh. Lirika memakai baju putih yang sederhana, dengan rambut yang diikat ke belakang, menampilkan wajah yang cantik dan fokus. Elian tidak bisa tidak memandang Lirika, ia merasa tertarik dengan ketenangan dan konsentrasi Lirika. Ia berpikir, bagaimana seseorang bisa tetap tenang dan fokus di tengah-tengah kekacauan skripsi? Lirika secara tidak sengaja menatap Elian, dan mereka bertatapan untuk beberapa detik. Elian merasa malu dan menunduk, tetapi Lirika hanya tersenyum dan kembali mengetik. Beberapa jam kemudian, Elian dan Lirika sama-sama selesai menulis skripsi mereka, dan mereka berdua keluar perpustakaan dengan perasaan lega. Di luar, mereka berbicara tentang skripsi dan kehidupan mahasiswa, dan Elian merasa seperti menemukan seseorang yang mengerti dia. Mereka berjalan berdampingan, menikmati senja yang indah, dan Elian merasa seperti menemukan sesuatu yang spesial. Namun, Elian masih ragu-ragu untuk mengungkapkan perasaannya, ia takut akan penolakan dan kehilangan persahabatan yang baru dibangun. Ia memutuskan untuk menunggu waktu yang tepat, dan berharap bahwa suatu hari nanti, ia bisa mengungkapkan perasaannya dengan jujur dan tulus.

Hari-hari berlalu, dan Elian serta temannya, yang bernama Raya, semakin dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, baik itu di perpustakaan, kafe, atau hanya berjalan-jalan di sekitar kampus. Elian merasa seperti telah menemukan sahabat sejati, seseorang yang mengerti dan mendukungnya dalam semua hal. Namun, perasaan cinta yang terus berkembang di hatinya membuatnya merasa bingung dan takut. Ia takut bahwa jika ia mengungkapkan perasaannya, persahabatan mereka akan hancur. Raya, di sisi lain, tampaknya tidak menyadari perasaan Elian. Ia terus berinteraksi dengan Elian seperti biasa, tanpa menunjukkan tanda-tanda bahwa ia merasakan hal yang sama. Elian berusaha untuk menyembunyikan perasaannya, tetapi semakin lama semakin sulit. Ia mulai merasa seperti hidup dalam dua dunia yang berbeda - satu di mana ia bisa berbagi segalanya dengan Raya, dan lainnya di mana ia harus menyembunyikan perasaan terdalamnya. Suatu hari, ketika mereka sedang berjalan di taman kampus, Raya bertanya kepada Elian tentang rencana masa depannya setelah lulus. Elian terkejut karena pertanyaan itu membuatnya menyadari bahwa waktu mereka bersama di kampus tidak akan bertahan selamanya. Ia mulai merasa sedih dan kehilangan, tetapi berusaha untuk menyembunyikan perasaan itu. Raya, yang memperhatikan perubahan ekspresi Elian, bertanya apa yang salah. Elian, yang merasa tidak bisa menyembunyikan perasaannya lagi, memutuskan untuk membuka hatinya. Ia mengambil napas dalam-dalam dan mulai menceritakan tentang perasaannya, tentang bagaimana ia merasa telah menemukan seseorang yang spesial, tetapi takut untuk kehilangan persahabatan mereka. Raya mendengarkan dengan sabar, dan untuk pertama kalinya, Elian melihat tanda-tanda bahwa Raya mungkin merasakan hal yang sama. Raya mengambil tangan Elian, dan dengan suara yang lembut, ia mengatakan bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama. Mereka berdua tersenyum, dan untuk pertama kalinya, mereka berbagi ciuman yang tulus dan penuh makna. Senja yang indah di balik mereka menjadi saksi bisu momen spesial itu, momen di mana dua sahabat menemukan cinta yang sejati. Semua keraguan dan ketakutan Elian hilang, digantikan oleh perasaan bahagia dan lega. Ia menyadari bahwa kejujuran dan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya telah membuka pintu bagi sesuatu yang lebih indah dan bermakna. Mereka berdua berjalan bersama, tangan-tangan mereka tergenggam, menikmati senja yang indah, dan berharap bahwa cinta mereka akan terus tumbuh dan berkembang.

Keesokan harinya, Elian dan Raya duduk bersama di perpustakaan, menyelesaikan skripsi mereka. Mereka berbagi senyum dan ciuman singkat, dan Elian merasa seperti telah menemukan kebahagiaan sejati. Ia menyadari bahwa skripsi, yang awalnya tampak seperti beban, kini telah menjadi bagian dari perjalanan cinta mereka. Elian dan Raya menyelesaikan skripsi mereka dengan penuh semangat, dan mereka berdua lulus dengan nilai yang memuaskan. Mereka berjalan bersama, menikmati senja yang indah, dan berharap bahwa cinta mereka akan terus tumbuh dan berkembang.


💡 Pesan Moral:
Kejujuran dan keberanian untuk mengungkapkan perasaan dapat membuka pintu bagi sesuatu yang lebih indah dan bermakna, dan cinta yang sejati dapat ditemukan dalam momen-momen yang tidak terduga.

Blog Pemikir Cerdas sebagai media untuk berbagi informasi dan tutorial simple untuk dunia IT.

Comments

Masukan sahabat sangat berarti untuk perbaikan kedepannya.
EmoticonEmoticon