Senja di Antara Lembaran Tugas

Senja di Antara Lembaran Tugas
Di sebuah kampus yang terletak di pinggir kota, ada seorang mahasiswa bernama Zayn yang sedang berjuang menyelesaikan tugas akhirnya. Ia duduk di perpustakaan, dikelilingi oleh buku-buku tebal dan kertas-kertas yang bertumpuk. Zayn memegang pensilnya dengan erat, mencoba menggambar sebuah diagram yang kompleks. Saat itu, ia merasakan kehadiran seseorang di sebelahnya. Ia menoleh ke kiri dan melihat seorang gadis cantik dengan rambut panjang dan mata biru. Gadis itu memperkenalkan dirinya sebagai Lylah, seorang mahasiswa jurusan desain. Mereka berdua mulai berbicara tentang tugas mereka dan akhirnya menemukan bahwa mereka memiliki minat yang sama dalam bidang desain. Zayn merasa tertarik dengan Lylah, tetapi ia tidak berani mengungkapkan perasaannya. Ia khawatir bahwa Lylah tidak akan merasakan hal yang sama. Sementara itu, Lylah juga merasakan sesuatu yang aneh saat berada di dekat Zayn. Ia tidak bisa menjelaskan apa itu, tetapi ia merasa nyaman saat berada di dekatnya.

Hari-hari berlalu, Zayn dan Lylah terus bertemu di perpustakaan, membahas tentang tugas mereka dan berbagi pengetahuan. Zayn merasa bahwa ia telah menemukan teman yang baik, tetapi ia masih tidak berani mengungkapkan perasaannya. Ia khawatir bahwa Lylah akan menolaknya dan mereka tidak akan berteman lagi. Sementara itu, Lylah mulai menyadari bahwa ia memiliki perasaan yang lebih dari sekadar persahabatan terhadap Zayn. Ia tidak bisa menjelaskan apa itu, tetapi ia merasa bahwa ia ingin selalu berada di dekat Zayn.

Suatu hari, Zayn dan Lylah memutuskan untuk pergi ke kafe di luar kampus untuk membahas tentang tugas mereka. Mereka duduk di meja kecil, minum kopi dan berbicara tentang desain. Zayn merasa bahwa ia telah menemukan kesempatan yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya, tetapi ia masih tidak berani. Ia khawatir bahwa Lylah akan menolaknya dan mereka tidak akan berteman lagi. Sementara itu, Lylah mulai menyadari bahwa Zayn memiliki perasaan yang lebih dari sekadar persahabatan terhadapnya. Ia tidak bisa menjelaskan apa itu, tetapi ia merasa bahwa ia ingin selalu berada di dekat Zayn.

Zayn dan Lylah terus bertemu dan berbicara tentang tugas mereka, tetapi mereka tidak berani mengungkapkan perasaan mereka. Mereka khawatir bahwa perasaan mereka tidak akan berbalas dan mereka tidak akan berteman lagi. Sementara itu, mereka terus merasakan sesuatu yang aneh saat berada di dekat satu sama lain. Mereka tidak bisa menjelaskan apa itu, tetapi mereka merasa bahwa mereka memiliki sesuatu yang spesial.

Hari-hari berlalu, dan Zayn serta Lylah terus bertemu untuk mengerjakan tugas mereka. Mereka mulai merasa lebih nyaman satu sama lain, tetapi masih ada ketakutan yang menyelimuti mereka untuk mengungkapkan perasaan mereka. Suatu hari, saat mereka sedang belajar di perpustakaan, Zayn secara tidak sengaja menyenggol tangan Lylah. Sentuhan itu membuat mereka berdua terdiam sejenak, dan mereka saling memandang dengan tatapan yang dalam. Lylah merasa jantungnya berdetak lebih cepat, dan Zayn merasa seperti ada sesuatu yang mengalir di dalam tubuhnya. Mereka tidak bisa menjelaskan apa itu, tetapi mereka tahu bahwa sesuatu telah berubah.

Mereka mulai menghabiskan lebih banyak waktu bersama, tidak hanya untuk mengerjakan tugas, tetapi juga untuk berjalan-jalan di sekitar kampus dan berbicara tentang hal-hal yang tidak terkait dengan pelajaran. Zayn mulai membuka diri tentang impian dan kekhawatirannya, dan Lylah juga melakukan hal yang sama. Mereka menemukan bahwa mereka memiliki banyak kesamaan dan bahwa mereka bisa saling mengerti dengan baik.

Suatu hari, saat mereka sedang duduk di atas bukit yang menghadap ke sunset, Zayn memandang Lylah dengan tatapan yang berbeda. Lylah merasa bahwa Zayn ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia tidak bisa mengungkapkannya. Zayn mengambil napas dalam-dalam dan bertanya, 'Lylah, apa yang kamu rasakan tentang kami?' Lylah terkejut, tetapi ia juga merasa lega bahwa Zayn telah mengungkapkan perasaannya. Ia menjawab, 'Aku merasa bahwa kita memiliki sesuatu yang spesial, Zayn.'

Zayn tersenyum, dan Lylah juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua memandang matahari terbenam yang berada di depan mereka, dan mereka tahu bahwa hidup mereka akan berubah dari saat itu. Mereka tidak lagi khawatir tentang apa yang orang lain pikir, tetapi mereka fokus pada perasaan mereka sendiri.

Saat matahari terbenam, Zayn dan Lylah berbagi ciuman pertama mereka, di bawah langit yang berwarna merah keemasan. Mereka tahu bahwa mereka telah menemukan sesuatu yang spesial, dan mereka akan melakukan semua yang mereka bisa untuk menjaganya.


💡 Pesan Moral:
Jangan takut untuk mengungkapkan perasaan Anda, karena itu bisa membawa kebahagiaan yang sebenarnya. Hubungan yang tulus dan terbuka dapat memperkuat ikatan antara dua orang.

Blog Pemikir Cerdas sebagai media untuk berbagi informasi dan tutorial simple untuk dunia IT.

Comments

Masukan sahabat sangat berarti untuk perbaikan kedepannya.
EmoticonEmoticon