Hari itu, matahari memancarkan cahaya senja yang membasuh kampus dengan hangat. Di tengah suasana yang damai, Akira memanjatkan pandangannya ke tangga gedung perkuliahan, tempat ia pertama kali bertemu dengan Lyrien. Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan yang sedikit tergulung, memperlihatkan pergelangan tangan yang kuat. Rambut hitamnya yang terurai mengalun oleh angin lembut, menambah kesan maskulinnya. Sementara itu, Lyrien berjalan dengan langkah pasti, mengenakan rok hitam yang jatuh di atas lutut, dipadukan dengan blazer putih yang membuatnya terlihat sangat profesional. Mereka bertemu di tengah tangga, di mana Akira berhenti sejenak untuk memperhatikan Lyrien yang sedang menatap ke arahnya. Mereka saling bertatapan dalam diam, sampai Akira memutuskan untuk berbicara. 'Lyrien, apa yang terjadi?', tanyanya dengan suara yang lembut. Lyrien menghela napas, 'Aku hanya merasa sangat lelah dengan semua ini, Akira. Skripsi, pekerjaan, dan semua tekanan yang ada.' Akira mendengarkan dengan sabar, kemudian ia mengambil tangan Lyrien dan memimpinnya ke tempat duduk di samping tangga. Mereka duduk bersama, menikmati senja yang membasuh kampus, dan berbagi cerita tentang perjuangan mereka. Akira menceritakan tentang betapa sulitnya ia menyelesaikan skripsinya, dan Lyrien menceritakan tentang betapa beratnya ia bekerja sambil kuliah. Mereka berdua tertawa dan menangis bersama, merasakan koneksi yang sangat dalam. Saat itu juga, Akira menyadari bahwa ia telah jatuh cinta dengan Lyrien, tetapi ia belum berani mengungkapkannya. Ia hanya bisa menikmati waktu bersama Lyrien, dan berharap bahwa suatu hari nanti, ia akan bisa mengungkapkan perasaannya dengan jujur.
Saat senja itu, Akira dan Lyrien terus berjalan di sekitar kampus, menikmati suasana yang tenang dan damai. Mereka berhenti di sebuah bangku yang terletak di bawah pohon beringin yang rindang, dan duduk bersama, saling berhadapan. Akira tidak bisa tidak memandang Lyrien, yang terlihat sangat cantik dengan senyumnya yang manis dan mata yang berkilau. Ia merasa hatinya berdegup kencang, dan tangan-tangannya terasa lembab. Lyrien, yang juga merasakan ketegangan yang sama, memandang Akira dengan mata yang penuh pertanyaan.
Mereka berdua duduk dalam kesunyian selama beberapa saat, hanya mendengarkan suara burung-burung yang berkicau dan daun-daun yang berguguran. Akira merasa bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya, tetapi ia masih ragu-ragu. Ia takut bahwa Lyrien tidak akan merasakan hal yang sama, dan bahwa persahabatan mereka akan rusak.
Lyrien, yang merasakan ketidaknyamanan Akira, memutuskan untuk memecahkan kesunyian. Ia bertanya kepada Akira tentang rencana studinya setelah lulus, dan Akira menjawab dengan antusias. Mereka berdua kemudian membicarakan tentang impian dan tujuan mereka, dan Akira merasa bahwa ia semakin dekat dengan Lyrien.
Saat malam mulai turun, Akira dan Lyrien memutuskan untuk kembali ke asrama. Mereka berjalan bersama, saling berdampingan, dan Akira merasa bahwa ini adalah saat yang paling bahagia dalam hidupnya. Ia tahu bahwa ia masih belum mengungkapkan perasaannya, tetapi ia merasa bahwa ia telah menemukan seseorang yang sangat spesial.
Saat mereka tiba di asrama, Lyrien berhenti dan memandang Akira dengan mata yang penuh makna. 'Terima kasih telah menjadi teman yang sangat baik, Akira,' katanya. 'Aku sangat senang memiliki kamu di sampingku.' Akira merasa hatinya berdegup kencang, dan ia tahu bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya.
'Aku juga sangat senang memiliki kamu, Lyrien,' jawab Akira, dengan suara yang bergetar. 'Aku mencintaimu, Lyrien.' Lyrien terkejut, tetapi kemudian ia tersenyum dan memeluk Akira. 'Aku juga mencintaimu, Akira,' katanya. Mereka berdua kemudian berbagi ciuman pertama mereka, di bawah bintang-bintang yang berkelap-kelip.
Akira dan Lyrien kemudian memutuskan untuk menjalani hubungan mereka, dan mereka berdua sangat bahagia. Mereka tahu bahwa mereka masih memiliki banyak tantangan yang harus dihadapi, tetapi mereka juga tahu bahwa mereka memiliki satu sama lain.
Saat mereka berdua duduk bersama di bangku yang sama, menikmati senja yang indah, Akira menyadari bahwa cinta sejati memang ada, dan bahwa ia telah menemukannya.
Saat senja itu, Akira dan Lyrien terus berjalan di sekitar kampus, menikmati suasana yang tenang dan damai. Mereka berhenti di sebuah bangku yang terletak di bawah pohon beringin yang rindang, dan duduk bersama, saling berhadapan. Akira tidak bisa tidak memandang Lyrien, yang terlihat sangat cantik dengan senyumnya yang manis dan mata yang berkilau. Ia merasa hatinya berdegup kencang, dan tangan-tangannya terasa lembab. Lyrien, yang juga merasakan ketegangan yang sama, memandang Akira dengan mata yang penuh pertanyaan.
Mereka berdua duduk dalam kesunyian selama beberapa saat, hanya mendengarkan suara burung-burung yang berkicau dan daun-daun yang berguguran. Akira merasa bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya, tetapi ia masih ragu-ragu. Ia takut bahwa Lyrien tidak akan merasakan hal yang sama, dan bahwa persahabatan mereka akan rusak.
Lyrien, yang merasakan ketidaknyamanan Akira, memutuskan untuk memecahkan kesunyian. Ia bertanya kepada Akira tentang rencana studinya setelah lulus, dan Akira menjawab dengan antusias. Mereka berdua kemudian membicarakan tentang impian dan tujuan mereka, dan Akira merasa bahwa ia semakin dekat dengan Lyrien.
Saat malam mulai turun, Akira dan Lyrien memutuskan untuk kembali ke asrama. Mereka berjalan bersama, saling berdampingan, dan Akira merasa bahwa ini adalah saat yang paling bahagia dalam hidupnya. Ia tahu bahwa ia masih belum mengungkapkan perasaannya, tetapi ia merasa bahwa ia telah menemukan seseorang yang sangat spesial.
Saat mereka tiba di asrama, Lyrien berhenti dan memandang Akira dengan mata yang penuh makna. 'Terima kasih telah menjadi teman yang sangat baik, Akira,' katanya. 'Aku sangat senang memiliki kamu di sampingku.' Akira merasa hatinya berdegup kencang, dan ia tahu bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya.
'Aku juga sangat senang memiliki kamu, Lyrien,' jawab Akira, dengan suara yang bergetar. 'Aku mencintaimu, Lyrien.' Lyrien terkejut, tetapi kemudian ia tersenyum dan memeluk Akira. 'Aku juga mencintaimu, Akira,' katanya. Mereka berdua kemudian berbagi ciuman pertama mereka, di bawah bintang-bintang yang berkelap-kelip.
Akira dan Lyrien kemudian memutuskan untuk menjalani hubungan mereka, dan mereka berdua sangat bahagia. Mereka tahu bahwa mereka masih memiliki banyak tantangan yang harus dihadapi, tetapi mereka juga tahu bahwa mereka memiliki satu sama lain.
Saat mereka berdua duduk bersama di bangku yang sama, menikmati senja yang indah, Akira menyadari bahwa cinta sejati memang ada, dan bahwa ia telah menemukannya.
💡 Pesan Moral:
Cinta sejati memang ada, dan bisa ditemukan dalam kesunyian dan keteguhan hati.
Cinta sejati memang ada, dan bisa ditemukan dalam kesunyian dan keteguhan hati.
