Hari itu, senja mulai membasuh kampus dengan cahaya emasnya, membawa kesan hangat dan nyaman. Aku, yang bernama Kaida, sedang duduk di perpustakaan, mencoba menyelesaikan tugas kuliah yang sudah mendekati deadline. Perpustakaan kampus kami memiliki arsitektur yang unik, dengan dinding-dinding yang terdiri dari batu alam dan kayu, serta jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya alami memasuki ruangan. Suasana di dalamnya selalu tenang dan nyaman, membuatku merasa seperti berada di rumah.
Aku memilih tempat duduk di pojok perpustakaan, dekat dengan jendela besar yang menghadap ke taman kampus. Dari sana, aku bisa melihat pohon-pohon yang sedang bergoyang diterpa angin, serta bunga-bunga yang sedang mekar, menambah keindahan pemandangan. Sementara itu, aku mencoba fokus pada tugas kuliahku, tetapi pikiranku terus saja tertarik pada pemandangan di luar. Aku memandang keluar jendela, melihat para mahasiswa yang sedang berjalan-jalan di taman, beberapa di antaranya berpacaran, yang lainnya bersama teman-teman mereka.
Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki di belakangku. Aku menoleh dan melihat seorang pria yang berjalan menuju ke arahku. Ia memiliki rambut hitam yang terlihat rapi, serta mata coklat yang tajam. Ia mengenakan kemeja putih dan celana jeans, membuatnya terlihat seperti seorang mahasiswa yang rapi dan tampan. Ia berhenti di depan mejaku dan memandangku dengan senyum yang manis.
'Halo,' katanya, 'boleh aku duduk di sini?' Aku menggelengkan kepala, merasa sedikit terkejut dengan tiba-tiba. 'Tentu,' jawabku, mencoba terlihat santai. Ia duduk di sebelahku, dan kami berdua terdiam sejenak, menikmati kesunyian perpustakaan. Lalu, ia memulai percakapan, bertanya tentang tugas kuliahku dan apa yang sedang aku kerjakan. Aku menjelaskan tentang tugas kuliahku, dan ia mendengarkan dengan saksama, membuatku merasa seperti aku sedang berbicara dengan seorang teman lama.
Kami berdua terus berbicara, membahas tentang berbagai hal, dari kuliah hingga hobi. Aku merasa sangat nyaman berbicara dengannya, seperti aku telah mengenalnya selama bertahun-tahun. Senja mulai berlalu, dan perpustakaan mulai sepi. Kami berdua memutuskan untuk keluar dari perpustakaan dan berjalan-jalan di taman kampus. Udara di luar sangat segar, dan bintang-bintang mulai muncul di langit. Kami berdua berjalan berdampingan, menikmati kesunyian malam dan keindahan alam di sekitar kami.
Aku tidak menyadari bahwa aku telah menghabiskan waktu berjam-jam berbicara dengannya, hingga aku menyadari bahwa hari sudah larut malam. Aku memandang ke arah jam tanganku, dan terkejut menyadari bahwa sudah pukul sebelas malam. 'Aku harus pulang,' kataku, merasa sedikit bersalah. Ia mengangguk, dan kami berdua berjalan menuju parkiran kampus. Di sana, kami berdua berpatisipasi, dan aku merasa sedikit sedih karena harus berpisah dengannya.
'Sampai jumpa lagi,' katanya, dengan senyum yang manis. Aku mengangguk, merasa seperti aku telah menemukan seorang teman yang sangat spesial. Aku pulang ke kosan, merasa bahagia dan puas, karena telah menghabiskan waktu yang sangat berharga bersama seseorang yang baru aku kenal.
Aku memasuki kosan dengan perasaan yang ringan, tetapi pikiranku masih terasa berat karena aku tidak bisa berhenti memikirkan tentang gadis yang baru aku kenal itu. Aku berjalan menuju kamar, melempar tas ke tempat tidur, dan duduk di dekat jendela. Aku memandang keluar jendela, menatap senja yang menyinari kota, dan aku merasa seperti ada sesuatu yang berbeda dalam hidupku. Aku tidak bisa menjelaskannya, tetapi aku merasa seperti aku telah menemukan seorang teman yang sangat spesial, seseorang yang dapat memahami aku dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Hari-hari berikutnya, aku dan gadis itu, yang bernama Luna, sering bertemu di perpustakaan kampus. Kami berdua akan duduk bersama, membaca buku, dan berbicara tentang hal-hal yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Aku merasa seperti aku telah menemukan seorang teman yang sangat dekat, seseorang yang dapat memahami aku dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, dan aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaan ini.
Suatu hari, saat kami berdua sedang duduk di perpustakaan, Luna bertanya kepadaku tentang mimpi dan tujuanku. Aku terkejut, karena tidak pernah ada orang yang bertanya kepadaku tentang hal ini sebelumnya. Aku berpikir sejenak, dan kemudian aku menjawab bahwa aku ingin menjadi seorang penulis, seseorang yang dapat membuat cerita yang dapat menginspirasi orang lain. Luna mendengarkan dengan sabar, dan kemudian ia mengatakan bahwa ia juga memiliki mimpi yang sama. Aku merasa seperti aku telah menemukan seorang teman yang sangat spesial, seseorang yang dapat memahami aku dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Kami berdua terus bertemu, dan kami berdua terus berbicara tentang hal-hal yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Aku merasa seperti aku telah menemukan seorang teman yang sangat dekat, seseorang yang dapat memahami aku dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, dan aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaan ini. Tetapi aku tahu satu hal, bahwa aku telah menemukan seorang teman yang sangat spesial, seseorang yang dapat membuat aku merasa seperti aku tidak sendirian di dunia ini.
Saat senja mulai menyinari kota, aku dan Luna duduk bersama di tangga perpustakaan, menatap ke langit yang berwarna merah. Aku merasa seperti aku telah menemukan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang tidak dapat aku bayangkan sebelumnya. Aku menatap Luna, dan aku melihat senyum yang manis di wajahnya. Aku merasa seperti aku telah menemukan seorang teman yang sangat spesial, seseorang yang dapat membuat aku merasa seperti aku tidak sendirian di dunia ini. Dan dalam saat itu, aku tahu bahwa aku telah menemukan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang akan membuat aku merasa bahagia selamanya.
Aku memilih tempat duduk di pojok perpustakaan, dekat dengan jendela besar yang menghadap ke taman kampus. Dari sana, aku bisa melihat pohon-pohon yang sedang bergoyang diterpa angin, serta bunga-bunga yang sedang mekar, menambah keindahan pemandangan. Sementara itu, aku mencoba fokus pada tugas kuliahku, tetapi pikiranku terus saja tertarik pada pemandangan di luar. Aku memandang keluar jendela, melihat para mahasiswa yang sedang berjalan-jalan di taman, beberapa di antaranya berpacaran, yang lainnya bersama teman-teman mereka.
Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki di belakangku. Aku menoleh dan melihat seorang pria yang berjalan menuju ke arahku. Ia memiliki rambut hitam yang terlihat rapi, serta mata coklat yang tajam. Ia mengenakan kemeja putih dan celana jeans, membuatnya terlihat seperti seorang mahasiswa yang rapi dan tampan. Ia berhenti di depan mejaku dan memandangku dengan senyum yang manis.
'Halo,' katanya, 'boleh aku duduk di sini?' Aku menggelengkan kepala, merasa sedikit terkejut dengan tiba-tiba. 'Tentu,' jawabku, mencoba terlihat santai. Ia duduk di sebelahku, dan kami berdua terdiam sejenak, menikmati kesunyian perpustakaan. Lalu, ia memulai percakapan, bertanya tentang tugas kuliahku dan apa yang sedang aku kerjakan. Aku menjelaskan tentang tugas kuliahku, dan ia mendengarkan dengan saksama, membuatku merasa seperti aku sedang berbicara dengan seorang teman lama.
Kami berdua terus berbicara, membahas tentang berbagai hal, dari kuliah hingga hobi. Aku merasa sangat nyaman berbicara dengannya, seperti aku telah mengenalnya selama bertahun-tahun. Senja mulai berlalu, dan perpustakaan mulai sepi. Kami berdua memutuskan untuk keluar dari perpustakaan dan berjalan-jalan di taman kampus. Udara di luar sangat segar, dan bintang-bintang mulai muncul di langit. Kami berdua berjalan berdampingan, menikmati kesunyian malam dan keindahan alam di sekitar kami.
Aku tidak menyadari bahwa aku telah menghabiskan waktu berjam-jam berbicara dengannya, hingga aku menyadari bahwa hari sudah larut malam. Aku memandang ke arah jam tanganku, dan terkejut menyadari bahwa sudah pukul sebelas malam. 'Aku harus pulang,' kataku, merasa sedikit bersalah. Ia mengangguk, dan kami berdua berjalan menuju parkiran kampus. Di sana, kami berdua berpatisipasi, dan aku merasa sedikit sedih karena harus berpisah dengannya.
'Sampai jumpa lagi,' katanya, dengan senyum yang manis. Aku mengangguk, merasa seperti aku telah menemukan seorang teman yang sangat spesial. Aku pulang ke kosan, merasa bahagia dan puas, karena telah menghabiskan waktu yang sangat berharga bersama seseorang yang baru aku kenal.
Aku memasuki kosan dengan perasaan yang ringan, tetapi pikiranku masih terasa berat karena aku tidak bisa berhenti memikirkan tentang gadis yang baru aku kenal itu. Aku berjalan menuju kamar, melempar tas ke tempat tidur, dan duduk di dekat jendela. Aku memandang keluar jendela, menatap senja yang menyinari kota, dan aku merasa seperti ada sesuatu yang berbeda dalam hidupku. Aku tidak bisa menjelaskannya, tetapi aku merasa seperti aku telah menemukan seorang teman yang sangat spesial, seseorang yang dapat memahami aku dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Hari-hari berikutnya, aku dan gadis itu, yang bernama Luna, sering bertemu di perpustakaan kampus. Kami berdua akan duduk bersama, membaca buku, dan berbicara tentang hal-hal yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Aku merasa seperti aku telah menemukan seorang teman yang sangat dekat, seseorang yang dapat memahami aku dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, dan aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaan ini.
Suatu hari, saat kami berdua sedang duduk di perpustakaan, Luna bertanya kepadaku tentang mimpi dan tujuanku. Aku terkejut, karena tidak pernah ada orang yang bertanya kepadaku tentang hal ini sebelumnya. Aku berpikir sejenak, dan kemudian aku menjawab bahwa aku ingin menjadi seorang penulis, seseorang yang dapat membuat cerita yang dapat menginspirasi orang lain. Luna mendengarkan dengan sabar, dan kemudian ia mengatakan bahwa ia juga memiliki mimpi yang sama. Aku merasa seperti aku telah menemukan seorang teman yang sangat spesial, seseorang yang dapat memahami aku dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Kami berdua terus bertemu, dan kami berdua terus berbicara tentang hal-hal yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Aku merasa seperti aku telah menemukan seorang teman yang sangat dekat, seseorang yang dapat memahami aku dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, dan aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaan ini. Tetapi aku tahu satu hal, bahwa aku telah menemukan seorang teman yang sangat spesial, seseorang yang dapat membuat aku merasa seperti aku tidak sendirian di dunia ini.
Saat senja mulai menyinari kota, aku dan Luna duduk bersama di tangga perpustakaan, menatap ke langit yang berwarna merah. Aku merasa seperti aku telah menemukan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang tidak dapat aku bayangkan sebelumnya. Aku menatap Luna, dan aku melihat senyum yang manis di wajahnya. Aku merasa seperti aku telah menemukan seorang teman yang sangat spesial, seseorang yang dapat membuat aku merasa seperti aku tidak sendirian di dunia ini. Dan dalam saat itu, aku tahu bahwa aku telah menemukan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang akan membuat aku merasa bahagia selamanya.
💡 Pesan Moral:
Persahabatan dan cinta dapat membuat kita merasa tidak sendirian di dunia ini, dan dapat membawa kebahagiaan dan makna dalam hidup kita.
Persahabatan dan cinta dapat membuat kita merasa tidak sendirian di dunia ini, dan dapat membawa kebahagiaan dan makna dalam hidup kita.
