Aurora mengeratkan tali tas kanvasnya yang sudah mulai pudar warnanya di bagian bahu, sambil memandangi langit senja yang terbentang di atas kampus. Ia baru saja selesai menghadapi presentasi skripsi di hadapan dosen dan mahasiswa lain, dan merasa lega karena semua berjalan lancar. Sambil berjalan menuju perpustakaan, ia memikirkan tentang rencana masa depannya, tentang bagaimana ia ingin menjadi seorang desainer grafis terkenal dan memiliki studio sendiri. Ia membayangkan dirinya duduk di sebuah meja kayu tua, menggambar di atas kertas dengan pensil yang tajam, dan menciptakan sesuatu yang indah.
Ketika ia tiba di perpustakaan, ia melihat seorang pemuda yang duduk di meja pojok, membaca buku dengan mata yang tajam. Pemuda itu memiliki rambut hitam yang panjang dan jatuh di atas alis, dan ia memakai kacamata hitam yang membuatnya terlihat sangat keren. Aurora merasa tertarik pada pemuda itu, dan ia memutuskan untuk mendekatinya. 'Halo,' katanya, sambil memperlihatkan senyum yang manis. Pemuda itu menoleh, dan mereka bertatapan untuk beberapa detik sebelum ia membalas senyum Aurora. 'Halo,' katanya, dengan suara yang dalam dan lembut.
Mereka berdua mulai berbicara tentang buku yang sedang mereka baca, dan Aurora menemukan bahwa mereka memiliki banyak kesamaan. Mereka berdua menyukai buku-buku klasik, dan mereka berdua memiliki impian untuk menjadi penulis terkenal. Sambil berbicara, Aurora merasa bahwa ia semakin dekat dengan pemuda itu, dan ia mulai merasakan bahwa ada sesuatu yang spesial antara mereka.
Ketika senja mulai berganti menjadi malam, Aurora dan pemuda itu memutuskan untuk pergi ke kafe yang terletak di dekat kampus. Mereka duduk di meja kecil, dan memesan kopi yang panas. Sambil menunggu kopi mereka, mereka berdua berbicara tentang masa lalu mereka, tentang keluarga mereka, dan tentang impian mereka. Aurora merasa bahwa ia telah menemukan seseorang yang sangat spesial, dan ia mulai merasakan bahwa ia jatuh cinta pada pemuda itu.
Namun, ketika kopi mereka tiba, pemuda itu memperlihatkan wajah yang serius, dan ia mulai berbicara tentang sesuatu yang membuat Aurora merasa tidak nyaman. 'Aku memiliki sebuah rahasia,' katanya, dengan suara yang serius. 'Aku tidak tahu apakah aku harus mengungkapkannya pada kamu, tetapi aku merasa bahwa aku harus mengungkapkannya.' Aurora merasa bahwa ia harus mendengarkan apa yang pemuda itu ingin katakan, dan ia mempersilakan pemuda itu untuk melanjutkan.
'Aku memiliki sebuah penyakit,' katanya, dengan suara yang bergetar. 'Aku tidak tahu berapa lama aku masih bisa hidup, dan aku merasa bahwa aku harus mengungkapkan perasaan aku pada kamu sebelum terlambat.' Aurora merasa bahwa ia telah dikejutkan oleh pengakuan pemuda itu, dan ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ia hanya bisa memandangi wajah pemuda itu, dan merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk membantu pemuda itu.
Aurora merasa bahwa wajah pemuda itu semakin pucat, dan ia bisa melihat kesedihan yang mendalam di dalam matanya. Ia ingin mengatakan sesuatu untuk menghibur pemuda itu, tetapi ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ia hanya bisa memandangi wajah pemuda itu, dan merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk membantu pemuda itu. Pemuda itu kemudian mengambil napas dalam-dalam, dan melanjutkan kata-katanya. 'Aku tahu bahwa aku tidak memiliki banyak waktu lagi,' katanya. 'Aku ingin menggunakan waktu yang aku miliki untuk membuatmu bahagia, Aurora. Aku ingin menjadi orang yang membuatmu tersenyum, membuatmu merasa dicintai.' Aurora merasa bahwa ia telah dikejutkan oleh pengakuan pemuda itu, dan ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ia hanya bisa memandangi wajah pemuda itu, dan merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk membantu pemuda itu. Ia kemudian mengambil napas dalam-dalam, dan memutuskan untuk mengatakan sesuatu. 'Aku juga memiliki perasaan yang sama,' katanya. 'Aku ingin menjadi orang yang membuatmu bahagia, membuatmu merasa dicintai.' Pemuda itu kemudian tersenyum, dan Aurora bisa melihat kesenangan yang mendalam di dalam matanya. Ia merasa bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dan ia ingin menggunakan waktu yang ia miliki untuk membuat pemuda itu bahagia. Mereka kemudian menghabiskan waktu bersama, melakukan hal-hal yang mereka sukai, dan membuat kenangan yang indah. Pemuda itu kemudian menjadi semakin lemah, tetapi ia tidak pernah berhenti tersenyum. Ia tahu bahwa ia telah menemukan cinta sejatinya, dan ia ingin menggunakan waktu yang ia miliki untuk membuat Aurora bahagia. Pada akhirnya, pemuda itu meninggal dunia, tetapi ia meninggalkan kenangan yang indah bagi Aurora. Ia merasa bahwa ia telah kehilangan orang yang ia cintai, tetapi ia juga merasa bahwa ia telah menemukan cinta sejatinya. Ia kemudian mengambil napas dalam-dalam, dan memutuskan untuk terus hidup, menggunakan kenangan yang ia miliki untuk membuatnya bahagia. Ia tahu bahwa ia tidak akan pernah melupakan pemuda itu, tetapi ia juga tahu bahwa ia harus terus hidup, untuk membuat pemuda itu bangga.
Pada hari pemakaman pemuda itu, Aurora berdiri di depan kuburnya, dan mengucapkan kata-kata terakhirnya. 'Aku akan selalu mengingatmu,' katanya. 'Aku akan selalu mencintaimu, dan aku akan selalu membuatmu bangga.' Ia kemudian menangis, tetapi ia tidak pernah berhenti tersenyum. Ia tahu bahwa ia telah menemukan cinta sejatinya, dan ia ingin menggunakan kenangan yang ia miliki untuk membuatnya bahagia.
Ketika ia tiba di perpustakaan, ia melihat seorang pemuda yang duduk di meja pojok, membaca buku dengan mata yang tajam. Pemuda itu memiliki rambut hitam yang panjang dan jatuh di atas alis, dan ia memakai kacamata hitam yang membuatnya terlihat sangat keren. Aurora merasa tertarik pada pemuda itu, dan ia memutuskan untuk mendekatinya. 'Halo,' katanya, sambil memperlihatkan senyum yang manis. Pemuda itu menoleh, dan mereka bertatapan untuk beberapa detik sebelum ia membalas senyum Aurora. 'Halo,' katanya, dengan suara yang dalam dan lembut.
Mereka berdua mulai berbicara tentang buku yang sedang mereka baca, dan Aurora menemukan bahwa mereka memiliki banyak kesamaan. Mereka berdua menyukai buku-buku klasik, dan mereka berdua memiliki impian untuk menjadi penulis terkenal. Sambil berbicara, Aurora merasa bahwa ia semakin dekat dengan pemuda itu, dan ia mulai merasakan bahwa ada sesuatu yang spesial antara mereka.
Ketika senja mulai berganti menjadi malam, Aurora dan pemuda itu memutuskan untuk pergi ke kafe yang terletak di dekat kampus. Mereka duduk di meja kecil, dan memesan kopi yang panas. Sambil menunggu kopi mereka, mereka berdua berbicara tentang masa lalu mereka, tentang keluarga mereka, dan tentang impian mereka. Aurora merasa bahwa ia telah menemukan seseorang yang sangat spesial, dan ia mulai merasakan bahwa ia jatuh cinta pada pemuda itu.
Namun, ketika kopi mereka tiba, pemuda itu memperlihatkan wajah yang serius, dan ia mulai berbicara tentang sesuatu yang membuat Aurora merasa tidak nyaman. 'Aku memiliki sebuah rahasia,' katanya, dengan suara yang serius. 'Aku tidak tahu apakah aku harus mengungkapkannya pada kamu, tetapi aku merasa bahwa aku harus mengungkapkannya.' Aurora merasa bahwa ia harus mendengarkan apa yang pemuda itu ingin katakan, dan ia mempersilakan pemuda itu untuk melanjutkan.
'Aku memiliki sebuah penyakit,' katanya, dengan suara yang bergetar. 'Aku tidak tahu berapa lama aku masih bisa hidup, dan aku merasa bahwa aku harus mengungkapkan perasaan aku pada kamu sebelum terlambat.' Aurora merasa bahwa ia telah dikejutkan oleh pengakuan pemuda itu, dan ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ia hanya bisa memandangi wajah pemuda itu, dan merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk membantu pemuda itu.
Aurora merasa bahwa wajah pemuda itu semakin pucat, dan ia bisa melihat kesedihan yang mendalam di dalam matanya. Ia ingin mengatakan sesuatu untuk menghibur pemuda itu, tetapi ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ia hanya bisa memandangi wajah pemuda itu, dan merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk membantu pemuda itu. Pemuda itu kemudian mengambil napas dalam-dalam, dan melanjutkan kata-katanya. 'Aku tahu bahwa aku tidak memiliki banyak waktu lagi,' katanya. 'Aku ingin menggunakan waktu yang aku miliki untuk membuatmu bahagia, Aurora. Aku ingin menjadi orang yang membuatmu tersenyum, membuatmu merasa dicintai.' Aurora merasa bahwa ia telah dikejutkan oleh pengakuan pemuda itu, dan ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ia hanya bisa memandangi wajah pemuda itu, dan merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk membantu pemuda itu. Ia kemudian mengambil napas dalam-dalam, dan memutuskan untuk mengatakan sesuatu. 'Aku juga memiliki perasaan yang sama,' katanya. 'Aku ingin menjadi orang yang membuatmu bahagia, membuatmu merasa dicintai.' Pemuda itu kemudian tersenyum, dan Aurora bisa melihat kesenangan yang mendalam di dalam matanya. Ia merasa bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dan ia ingin menggunakan waktu yang ia miliki untuk membuat pemuda itu bahagia. Mereka kemudian menghabiskan waktu bersama, melakukan hal-hal yang mereka sukai, dan membuat kenangan yang indah. Pemuda itu kemudian menjadi semakin lemah, tetapi ia tidak pernah berhenti tersenyum. Ia tahu bahwa ia telah menemukan cinta sejatinya, dan ia ingin menggunakan waktu yang ia miliki untuk membuat Aurora bahagia. Pada akhirnya, pemuda itu meninggal dunia, tetapi ia meninggalkan kenangan yang indah bagi Aurora. Ia merasa bahwa ia telah kehilangan orang yang ia cintai, tetapi ia juga merasa bahwa ia telah menemukan cinta sejatinya. Ia kemudian mengambil napas dalam-dalam, dan memutuskan untuk terus hidup, menggunakan kenangan yang ia miliki untuk membuatnya bahagia. Ia tahu bahwa ia tidak akan pernah melupakan pemuda itu, tetapi ia juga tahu bahwa ia harus terus hidup, untuk membuat pemuda itu bangga.
Pada hari pemakaman pemuda itu, Aurora berdiri di depan kuburnya, dan mengucapkan kata-kata terakhirnya. 'Aku akan selalu mengingatmu,' katanya. 'Aku akan selalu mencintaimu, dan aku akan selalu membuatmu bangga.' Ia kemudian menangis, tetapi ia tidak pernah berhenti tersenyum. Ia tahu bahwa ia telah menemukan cinta sejatinya, dan ia ingin menggunakan kenangan yang ia miliki untuk membuatnya bahagia.
💡 Pesan Moral:
Cinta sejatinya dapat ditemukan dalam situasi yang sulit, dan kenangan yang indah dapat membuat kita bahagia meskipun kita telah kehilangan orang yang kita cintai.
Cinta sejatinya dapat ditemukan dalam situasi yang sulit, dan kenangan yang indah dapat membuat kita bahagia meskipun kita telah kehilangan orang yang kita cintai.
