Di sebuah kampus yang terletak di pusat kota, terdapat sebuah tangga yang terbuat dari kayu tua. Tangga itu telah menjadi saksi bisu bagi banyak mahasiswa yang telah berlalu-lalang di kampus tersebut. Pada suatu hari, saat senja mulai membasuh kampus dengan cahaya keemasannya, seorang mahasiswa bernama Eryndor Thorne duduk di tangga itu, memandang langsung ke arah barat. Ia memakai kacamata hitam yang sedikit tergelincir di hidungnya, dan rambutnya yang berwarna coklat keemasan tergerai oleh angin lembut. Eryndor sedang memikirkan skripsinya yang belum selesai, dan bagaimana ia harus menyelesaikannya sebelum deadline. Sementara itu, seorang mahasiswi bernama Aria Wystan sedang berjalan menuju perpustakaan, membawa tas kanvas yang sudah mulai pudar warnanya di bagian bahu. Ia memakai baju putih yang sederhana, dan rambutnya yang berwarna hitam terikat dengan kencang. Aria melihat Eryndor duduk di tangga, dan ia merasa penasaran dengan mahasiswa yang sedang memandang ke arah barat itu. Ia memutuskan untuk mendekati Eryndor, dan bertanya apa yang sedang ia lakukan di sana. Eryndor terkejut dengan kehadiran Aria, dan ia memandangnya dengan sedikit terkejut. Namun, ia kemudian menjelaskan bahwa ia sedang memikirkan skripsinya, dan bagaimana ia harus menyelesaikannya sebelum deadline. Aria mendengarkan dengan sabar, dan ia memberikan beberapa saran yang berguna bagi Eryndor. Mereka berdua kemudian berbicara lebih lama, dan Eryndor merasa bahwa ia telah menemukan seorang teman yang baru. Saat senja mulai membasuh kampus dengan cahaya keemasannya, Eryndor dan Aria berdiri dari tangga, dan mereka berjalan bersama menuju perpustakaan. Mereka berdua merasa bahwa mereka telah menemukan sesuatu yang spesial, dan mereka berharap bahwa pertemuan mereka itu bukanlah kebetulan belaka.
Pada hari-hari berikutnya, Eryndor dan Aria sering bertemu di perpustakaan, membahas skripsi dan berbagi cerita tentang kehidupan mereka. Mereka berdua merasa bahwa mereka telah menemukan seorang teman yang sejati, dan mereka berharap bahwa persahabatan mereka itu akan bertahan lama. Namun, Eryndor tidak menyadari bahwa ia telah jatuh cinta dengan Aria, dan ia tidak tahu bagaimana ia harus mengungkapkan perasaannya itu. Ia merasa bahwa ia harus menunggu waktu yang tepat, dan ia berharap bahwa Aria akan merasakan hal yang sama.
Sementara itu, Aria juga merasa bahwa ia telah jatuh cinta dengan Eryndor, dan ia tidak tahu bagaimana ia harus mengungkapkan perasaannya itu. Ia merasa bahwa ia harus menunggu waktu yang tepat, dan ia berharap bahwa Eryndor akan merasakan hal yang sama. Mereka berdua berada dalam keadaan yang sama, namun mereka tidak menyadari bahwa mereka telah jatuh cinta dengan orang yang sama.
Hari-hari berlalu, dan Eryndor serta Aria terus bertemu di tangga kampus, berbagi cerita dan tawa. Mereka semakin dekat, namun masih belum menyadari perasaan masing-masing. Suatu hari, saat mereka duduk berdampingan di tangga, Eryndor secara tidak sengaja menyentuh tangan Aria. Sentuhan itu membuat Aria merasa seperti ada aliran listrik yang mengalir di tubuhnya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menyembunyikan perasaannya. Eryndor, di sisi lain, merasakan hal yang sama, namun ia tidak tahu bagaimana mengartikannya.
Malam itu, Aria tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan sentuhan Eryndor dan bagaimana itu membuatnya merasa. Ia bertanya-tanya apakah Eryndor juga merasakan hal yang sama. Sementara itu, Eryndor juga terjaga, memikirkan tentang Aria dan sentuhan yang tidak disengaja. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda tentang Aria, namun ia tidak tahu apa itu.
Keesokan harinya, mereka berdua bertemu lagi di tangga kampus. Mereka berbagi cerita dan tawa, namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Mereka berdua semakin menyadari perasaan masing-masing, namun masih belum tahu bagaimana mengungkapkannya. Saat mereka berpisah, Eryndor meminta Aria untuk bertemu lagi keesokan harinya. Aria setuju, dan mereka berdua berpisah dengan perasaan yang tidak pasti.
Hari berikutnya, Eryndor dan Aria bertemu lagi di tangga kampus. Mereka duduk berdampingan, dan Eryndor memulai percakapan tentang perasaan mereka. Aria mendengarkan dengan hati yang berdebar, dan Eryndor mengungkapkan perasaannya. Aria merasa lega dan bahagia, dan ia mengungkapkan perasaannya juga. Mereka berdua berpelukan, dan untuk pertama kalinya, mereka merasakan kebahagiaan yang sebenarnya.
Saat senja mulai turun, mereka berdua duduk berdampingan, menikmati kebahagiaan mereka. Mereka tahu bahwa mereka masih memiliki banyak hal untuk dilalui, namun mereka siap menghadapinya bersama.
Pada hari-hari berikutnya, Eryndor dan Aria sering bertemu di perpustakaan, membahas skripsi dan berbagi cerita tentang kehidupan mereka. Mereka berdua merasa bahwa mereka telah menemukan seorang teman yang sejati, dan mereka berharap bahwa persahabatan mereka itu akan bertahan lama. Namun, Eryndor tidak menyadari bahwa ia telah jatuh cinta dengan Aria, dan ia tidak tahu bagaimana ia harus mengungkapkan perasaannya itu. Ia merasa bahwa ia harus menunggu waktu yang tepat, dan ia berharap bahwa Aria akan merasakan hal yang sama.
Sementara itu, Aria juga merasa bahwa ia telah jatuh cinta dengan Eryndor, dan ia tidak tahu bagaimana ia harus mengungkapkan perasaannya itu. Ia merasa bahwa ia harus menunggu waktu yang tepat, dan ia berharap bahwa Eryndor akan merasakan hal yang sama. Mereka berdua berada dalam keadaan yang sama, namun mereka tidak menyadari bahwa mereka telah jatuh cinta dengan orang yang sama.
Hari-hari berlalu, dan Eryndor serta Aria terus bertemu di tangga kampus, berbagi cerita dan tawa. Mereka semakin dekat, namun masih belum menyadari perasaan masing-masing. Suatu hari, saat mereka duduk berdampingan di tangga, Eryndor secara tidak sengaja menyentuh tangan Aria. Sentuhan itu membuat Aria merasa seperti ada aliran listrik yang mengalir di tubuhnya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menyembunyikan perasaannya. Eryndor, di sisi lain, merasakan hal yang sama, namun ia tidak tahu bagaimana mengartikannya.
Malam itu, Aria tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan sentuhan Eryndor dan bagaimana itu membuatnya merasa. Ia bertanya-tanya apakah Eryndor juga merasakan hal yang sama. Sementara itu, Eryndor juga terjaga, memikirkan tentang Aria dan sentuhan yang tidak disengaja. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda tentang Aria, namun ia tidak tahu apa itu.
Keesokan harinya, mereka berdua bertemu lagi di tangga kampus. Mereka berbagi cerita dan tawa, namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Mereka berdua semakin menyadari perasaan masing-masing, namun masih belum tahu bagaimana mengungkapkannya. Saat mereka berpisah, Eryndor meminta Aria untuk bertemu lagi keesokan harinya. Aria setuju, dan mereka berdua berpisah dengan perasaan yang tidak pasti.
Hari berikutnya, Eryndor dan Aria bertemu lagi di tangga kampus. Mereka duduk berdampingan, dan Eryndor memulai percakapan tentang perasaan mereka. Aria mendengarkan dengan hati yang berdebar, dan Eryndor mengungkapkan perasaannya. Aria merasa lega dan bahagia, dan ia mengungkapkan perasaannya juga. Mereka berdua berpelukan, dan untuk pertama kalinya, mereka merasakan kebahagiaan yang sebenarnya.
Saat senja mulai turun, mereka berdua duduk berdampingan, menikmati kebahagiaan mereka. Mereka tahu bahwa mereka masih memiliki banyak hal untuk dilalui, namun mereka siap menghadapinya bersama.
💡 Pesan Moral:
Cinta membutuhkan keberanian untuk mengungkapkan perasaan dan mempercayai bahwa orang lain juga merasakan hal yang sama.
Cinta membutuhkan keberanian untuk mengungkapkan perasaan dan mempercayai bahwa orang lain juga merasakan hal yang sama.
