Malam di Atas Rooftop Kampus

Malam di Atas Rooftop Kampus
Malam itu, langit di atas kampus terlihat sangat indah. Bintang-bintang berkelap-kelip seperti berlian yang tersebar di atas awan tipis. Saya, Kaitlin, berdiri di atas rooftop gedung perpustakaan, menikmati suasana malam yang tenang dan damai. Saya memakai kardigan abu-abu yang sudah mulai luntur di bagian lengan, dan celana jeans yang sudah tua. Rambut saya yang panjang dan lurus terikat dengan karet gelang yang sudah mulai longgar. Saya memandang ke bawah, melihat lampu-lampu kampus yang masih menyala, meskipun sudah larut malam. Suara-suara mahasiswa yang masih belajar di perpustakaan terdengar samar-samar, seperti suara latar yang menenangkan.

Saya berpaling ke kanan, melihat seorang mahasiswa yang duduk di bangku, menatap ke arah saya. Ia memakai kacamata hitam yang membuat wajahnya terlihat lebih gelap. Rambutnya yang pendek dan keriting terlihat seperti telah dibuat dengan gaya yang sangat rapi. Ia memakai jaket kulit hitam yang membuatnya terlihat sangat keren. Saya merasa sedikit terganggu dengan kehadirannya, tetapi saya tidak ingin menunjukkan perasaan itu. Saya hanya memandang ke arah lain, berpura-pura tidak melihatnya.

Beberapa menit kemudian, saya mendengar suara langkah kaki yang mendekati. Saya berpaling ke kiri, melihat mahasiswa itu berjalan mendekati saya. Ia memakai sepatu boots yang membuat langkahnya terdengar sangat jelas. Saya merasa sedikit gugup, tetapi saya tidak ingin menunjukkan perasaan itu. Saya hanya memandang ke arahnya, berpura-pura tidak terganggu.

'Halo,' katanya, dengan suara yang sangat lembut. 'Namaku Kenji. Saya tidak pernah melihatmu di sini sebelumnya.' Saya memandang ke arahnya, melihat wajahnya yang sangat tampan. Saya merasa sedikit terpesona, tetapi saya tidak ingin menunjukkan perasaan itu. Saya hanya tersenyum, berpura-pura tidak terganggu.

'Halo,' kata saya, dengan suara yang sangat lembut. 'Namaku Kaitlin. Saya hanya ingin menikmati suasana malam yang tenang.' Kenji tersenyum, dan saya melihat senyumnya yang sangat manis. Saya merasa sedikit terpesona, tetapi saya tidak ingin menunjukkan perasaan itu. Saya hanya memandang ke arah lain, berpura-pura tidak melihatnya.

Kami berdua berdiri di atas rooftop, menikmati suasana malam yang tenang dan damai. Saya merasa sedikit nyaman dengan kehadiran Kenji, meskipun saya tidak ingin menunjukkan perasaan itu. Saya hanya memandang ke arah lain, berpura-pura tidak melihatnya. Tapi, saya tidak bisa tidak memandang ke arahnya, melihat wajahnya yang sangat tampan. Saya merasa sedikit terpesona, dan saya tidak bisa tidak merasa bahwa ini adalah awal dari sebuah cerita yang sangat menarik.


💡 Pesan Moral:
Keberanian mengungkapkan perasaan seringkali lebih penting daripada kesempurnaan sebuah karya.

Blog Pemikir Cerdas sebagai media untuk berbagi informasi dan tutorial simple untuk dunia IT.

Comments

Masukan sahabat sangat berarti untuk perbaikan kedepannya.
EmoticonEmoticon