Senja di Balik Dinding Asrama

Senja di Balik Dinding Asrama
Aku duduk di bangku kayu yang sudah lapuk, di teras asrama yang menghadap ke taman kampus. Suara burung kolibri yang berterbangan di antara bunga-bunga yang mekar, menemani kesunyian sore itu. Ia mengeratkan tali tas kanvasnya yang sudah mulai pudar warnanya di bagian bahu, sambil memandang ke arahku dengan mata yang teduh. Kami berdua, mahasiswa tahun ketiga, yang masih berusaha menemukan jati diri di tengah-tengah kesibukan kuliah. Aku memperhatikan cara ia memegang gelas kopi yang masih hangat, dengan jari-jari yang ramping dan telapak tangan yang lembut. Ia meminum kopi itu dengan perlahan, sambil menghirup aroma yang memenuhi udara. Kami berdua duduk berdampingan, tanpa kata-kata yang terucap, hanya suara alam yang mengalun di sekitar kami. Suasana itu begitu nyaman, sehingga aku merasa seperti sedang berada di rumah sendiri. Ia memecahkan keheningan dengan suaranya yang lembut, 'Aku memikirkan tentang skripsi kita, apa yang harus kita lakukan agar bisa lulus tepat waktu?' Aku mengangguk, 'Aku juga memikirkannya, tapi aku masih belum yakin tentang topik yang akan kita ambil.' Ia mengangguk pula, 'Aku tahu, kita harus segera menentukan topik dan membuat proposal, agar kita bisa mulai mengerjakan skripsi kita.' Kami berdua terdiam sejenak, memikirkan tentang masa depan kita, tentang apa yang akan kita lakukan setelah lulus nanti. Ia memandang ke arahku, dengan mata yang teduh, 'Aku percaya kita bisa melakukannya, kita bisa menyelesaikan skripsi kita dan lulus dengan baik.' Aku mengangguk, merasa yakin bahwa kita bisa melakukannya, kita bisa mencapai tujuan kita. Suasana itu begitu nyaman, sehingga aku merasa seperti sedang berada di rumah sendiri, dengan teman yang bisa dipercaya. Tapi, tiba-tiba ia berdiri, 'Aku harus pergi sekarang, aku ada janji dengan teman lain.' Aku mengangguk, 'Baik, aku juga harus pergi, aku ada tugas yang harus diselesaikan.' Ia tersenyum, 'Sampai jumpa lagi, ya.' Aku tersenyum pula, 'Sampai jumpa lagi.' Ia berjalan pergi, meninggalkan aku sendirian di teras asrama. Aku memandang ke arahnya, sambil memikirkan tentang apa yang baru saja terjadi. Aku merasa seperti ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tidak bisa kukatakan. Tapi, aku tahu bahwa aku harus melanjutkan, aku harus menyelesaikan tugas-tugasku, dan mencapai tujuan-tujuanku. Aku mengambil napas dalam-dalam, dan berdiri, meninggalkan teras asrama, dan memulai hari baru.

Aku berjalan menuju kamar aku, sambil memikirkan tentang apa yang baru saja terjadi. Aku merasa seperti ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tidak bisa kukatakan. Tapi, aku tahu bahwa aku harus melanjutkan, aku harus menyelesaikan tugas-tugasku, dan mencapai tujuan-tuguanku. Aku membuka pintu kamar aku, dan masuk ke dalam. Aku melihat sekitar, dan melihat bahwa semua masih seperti biasa. Tempat tidur aku masih rapi, meja aku masih bersih, dan semua barang-barang aku masih di tempatnya. Tapi, aku merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak bisa kulihat. Aku mendengar suara dari luar kamar aku, suara teman-teman aku yang sedang berbicara. Aku merasa seperti ingin bergabung dengan mereka, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku memutuskan untuk duduk di tempat tidur aku, dan memikirkan tentang apa yang baru saja terjadi. Aku merasa seperti ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tidak bisa kukatakan. Tapi, aku tahu bahwa aku harus melanjutkan, aku harus menyelesaikan tugas-tugasku, dan mencapai tujuan-tuguanku.

Aku duduk di tempat tidur aku, dan memikirkan tentang apa yang baru saja terjadi. Aku merasa seperti ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tidak bisa kukatakan. Tapi, aku tahu bahwa aku harus melanjutkan, aku harus menyelesaikan tugas-tugasku, dan mencapai tujuan-tuguanku. Aku memutuskan untuk melakukan sesuatu, untuk mencoba menghilangkan perasaan yang tidak enak ini. Aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan, untuk membaca buku dan mencoba mengalihkan perhatian aku dari apa yang baru saja terjadi. Aku berdiri, dan berjalan menuju perpustakaan. Aku membuka pintu perpustakaan, dan masuk ke dalam. Aku melihat sekitar, dan melihat bahwa perpustakaan ini sangat sunyi. Aku merasa seperti ingin duduk, dan membaca buku. Aku memilih buku yang menarik, dan duduk di meja aku. Aku membaca buku, dan mencoba mengalihkan perhatian aku dari apa yang baru saja terjadi.

Aku membaca buku, dan merasa seperti aku sedang mengalihkan perhatian aku dari apa yang baru saja terjadi. Aku merasa seperti aku sedang melakukan sesuatu yang berguna, sesuatu yang bisa aku lakukan untuk menghilangkan perasaan yang tidak enak ini. Aku membaca buku, dan merasa seperti aku sedang menemukan sesuatu yang baru. Aku merasa seperti aku sedang belajar, dan menemukan sesuatu yang berguna. Aku membaca buku, dan merasa seperti aku sedang melakukan sesuatu yang benar. Aku merasa seperti aku sedang mencapai tujuan-tuguanku, dan menyelesaikan tugas-tugasku. Aku membaca buku, dan merasa seperti aku sedang menemukan jalan keluar dari perasaan yang tidak enak ini. Aku membaca buku, dan merasa seperti aku sedang menemukan sesuatu yang bisa aku lakukan untuk menghilangkan perasaan yang tidak enak ini. Aku membaca buku, dan merasa seperti aku sedang menemukan jalan keluar dari kesedihan aku.

Aku menutup buku, dan merasa seperti aku sedang menemukan jalan keluar dari kesedihan aku. Aku merasa seperti aku sedang melakukan sesuatu yang benar, sesuatu yang bisa aku lakukan untuk menghilangkan perasaan yang tidak enak ini. Aku merasa seperti aku sedang menemukan sesuatu yang baru, sesuatu yang bisa aku lakukan untuk menghilangkan perasaan yang tidak enak ini. Aku merasa seperti aku sedang mencapai tujuan-tuguanku, dan menyelesaikan tugas-tugasku. Aku merasa seperti aku sedang menemukan jalan keluar dari kesedihan aku, dan menemukan sesuatu yang bisa aku lakukan untuk menghilangkan perasaan yang tidak enak ini. Aku merasa seperti aku sedang menemukan sesuatu yang benar, sesuatu yang bisa aku lakukan untuk menghilangkan perasaan yang tidak enak ini. Aku menutup buku, dan merasa seperti aku sedang menemukan jalan keluar dari kesedihan aku, dan menemukan sesuatu yang bisa aku lakukan untuk menghilangkan perasaan yang tidak enak ini.


💡 Pesan Moral:
Kesedihan adalah bagian dari hidup, tapi kita harus terus melanjutkan dan mencari jalan keluar untuk menghilangkan perasaan yang tidak enak ini.

Blog Pemikir Cerdas sebagai media untuk berbagi informasi dan tutorial simple untuk dunia IT.

Comments

Masukan sahabat sangat berarti untuk perbaikan kedepannya.
EmoticonEmoticon