Malam itu, langit di atas kampus terlihat begitu indah dengan taburan bintang-bintang yang berkelap-kelip seperti berlian di atas biru gelap. Di tengah keheningan malam, ada seorang mahasiswa bernama Kaito yang duduk di atas dinding kampus, menatap ke arah langit dengan ekspresi yang dalam. Ia mengenakan sweater abu-abu yang tipis dan celana jeans yang agak luntur, dengan rambut hitam yang sedikit acak-acakan karena angin malam. Kaito memegang sebuah buku tebal di tangannya, tetapi ia tidak membacanya. Sebaliknya, ia membiarkan angin malam menghembuskan halaman-halamannya, seperti ia sedang mencari sesuatu yang tidak terdapat di dalam buku itu. Di dekatnya, ada seorang mahasiswi bernama Lirien yang duduk di atas dinding yang sama, menonton Kaito dengan mata yang penuh dengan kepedulian. Lirien mengenakan jaket kulit hitam dan celana corduroy yang berwarna coklat, dengan rambut coklat yang jatuh di bahu. Ia melihat Kaito dengan ekspresi yang khawatir, karena ia tahu bahwa Kaito sedang melalui masa-masa yang sulit. Kaito dan Lirien bertemu secara tidak sengaja di perpustakaan kampus beberapa bulan yang lalu, dan sejak itu mereka menjadi teman dekat. Mereka sering membahas tentang kehidupan, filsafat, dan impian mereka. Namun, malam itu, Kaito terlihat begitu sunyi dan dalam, seperti ia sedang menghadapi suatu masalah yang besar. Lirien mencoba untuk mendekatinya, tetapi Kaito tidak menyadari kehadirannya. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, seperti ia sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang tidak terjawab. Lirien memutuskan untuk menunggu Kaito, menontonnya dari jarak yang aman, sampai ia siap untuk berbicara. Dan malam itu, langit di atas kampus terus berkelap-kelip, seperti mengawasi Kaito dan Lirien, menunggu mereka untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang tidak terjawab.
💡 Pesan Moral:
Keberanian mengungkapkan perasaan seringkali lebih penting daripada kesempurnaan sebuah karya.
Keberanian mengungkapkan perasaan seringkali lebih penting daripada kesempurnaan sebuah karya.
