Malam di Kafe Kampus yang Hangat

Malam di Kafe Kampus yang Hangat
Kampus Universitas Merdeka yang terletak di pinggir kota memiliki kafe yang terkenal di kalangan mahasiswa. Kafe ini bernama 'Hangout', tempat yang nyaman untuk belajar, nongkrong, dan menikmati secangkir kopi. Pada suatu malam, saat hujan turun dengan deras, aku memutuskan untuk mengunjungi kafe tersebut. Aku mengenakan jaket kulit hitam yang sudah agak luntur di bagian siku, serta membawa tas ransel abu-abu yang sudah terlihat pudar. Setelah melewati pintu kaca yang selalu terbuka, aku disambut dengan aroma kopi yang harum dan suara gemuruh mesin espresso. Aku memilih tempat duduk di pojok, dekat jendela yang menghadap ke taman kampus. Sore itu, matahari belum terbenam, tetapi cahaya dari lampu taman sudah menyinari dedaunan yang rimbun. Aku memesan secangkir kopi hitam dan mulai membuka laptop untuk mengerjakan tugas. Tiba-tiba, aku mendengar suara seseorang yang duduk di sebelahku, 'Maaf, apakah saya bisa duduk di sini?' Aku menoleh dan melihat seorang gadis cantik dengan rambut pendek berwarna coklat dan mata hijau yang cerah. Ia mengenakan kemeja putih dengan motif bunga kecil dan celana jeans yang pas di tubuhnya. Aku tersenyum dan mengangguk, 'Silakan.' Ia duduk dan mulai membuka buku catatannya, 'Saya Kiana, mahasiswa jurusan Sastra.' Aku menjawab, 'Saya Riven, mahasiswa jurusan Teknik.' Kami berdua mulai berbincang tentang kuliah, hobi, dan impian. Waktu terus berjalan, dan hujan di luar mulai reda. Aku merasa nyaman berbincang dengan Kiana, dan aku tidak menyadari bahwa sudah berapa lama kami berdua bertemu. Saat aku melihat jam tangan, ternyata sudah pukul 9 malam. Aku merasa kasihan karena telah menghabiskan waktu Kiana, 'Maaf, saya harus pergi sekarang.' Kiana tersenyum dan mengatakan, 'Saya juga harus pergi.' Kami berdua berdiri dan berjalan keluar kafe bersama. Di luar, hujan sudah berhenti, dan langit mulai terang. Aku merasa ada sesuatu yang spesial antara kami berdua, tetapi aku tidak bisa mengungkapkannya. Aku hanya bisa tersenyum dan mengucapkan selamat malam. Kianapun tersenyum dan berbalik pergi. Aku melihatnya pergi, merasa bahwa malam itu adalah awal dari sesuatu yang spesial.


💡 Pesan Moral:
Keberanian mengungkapkan perasaan seringkali lebih penting daripada kesempurnaan sebuah karya.

Blog Pemikir Cerdas sebagai media untuk berbagi informasi dan tutorial simple untuk dunia IT.

Comments

Masukan sahabat sangat berarti untuk perbaikan kedepannya.
EmoticonEmoticon