Matahari baru saja muncul di atas kampus, menyinari bangunan-bangunan yang masih terlihat sepi. Aku, Riven, duduk sendirian di bangku taman kampus, menikmati secangkir kopi panas yang baru saja kubeli dari warung kopi di seberang jalan. Aroma kopi yang kuat memenuhi hidungku, membuatku merasa lebih bersemangat untuk menghadapi hari ini.
Aku memakai kacamata hitam untuk melindungi mataku dari sinar matahari yang mulai terlalu terang. Rambutku yang berantakan aku tahan dengan jepit rambut yang kusimpan di saku celana. Aku memandang ke sekitar, melihat beberapa mahasiswa yang lain mulai beraktivitas. Beberapa di antaranya berlari untuk tidak terlambat kuliah, sementara yang lain duduk bersama teman-teman mereka, berbagi cerita tentang malam sebelumnya.
Kupikirkan tentang skripsiku yang masih belum selesai. Aku telah menghabiskan berjam-jam untuk menulis dan merevisi, tapi masih ada beberapa bagian yang perlu diperbaiki. Aku merasa frustrasi, karena aku tahu bahwa aku harus menyelesaikannya sebelum deadline yang telah ditentukan.
Tiba-tiba, aku mendengar suara seseorang yang memanggil namaku. Aku menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang gadis dengan rambut panjang dan cantik, berjalan menuju ke arahku. Ia memakai kemeja putih dengan celana jeans yang pas di tubuhnya. Ia memiliki senyum yang indah dan mata yang berkilau.
'Hey, Riven,' katanya, saat ia mendekat. 'Apa kabar?' Aku terkejut oleh kedatangannya, karena aku tidak menyangka bahwa aku akan bertemu dengannya di pagi hari seperti ini.
'Aku baik-baik saja,' jawabku, mencoba untuk terlihat tenang. 'Bagaimana denganmu?' Ia duduk di sebelahku, dan kita berdua mulai berbicara tentang hal-hal yang tidak terlalu penting. Tapi, ada sesuatu yang berbeda tentang percakapan kita kali ini. Ada sesuatu yang membuatku merasa bahwa ini bukan hanya percakapan biasa.
Kita berdua terus berbicara, sampai aku menyadari bahwa aku telah lupa tentang skripsiku dan tentang deadline yang telah ditentukan. Aku merasa bahwa aku telah menemukan sesuatu yang lebih penting daripada itu semua. Tapi, aku tidak tahu apa itu, dan aku tidak tahu bagaimana cara menghadapinya.
Kita terus berbicara, dan aku menyadari bahwa waktu telah berlalu begitu cepat. Matahari telah naik tinggi di langit, dan bayangan pohon-pohon di kampus telah memanjang. Aku merasa bahwa aku telah meninggalkan skripsiku untuk waktu yang lama, tapi aku tidak bisa membantu diriku sendiri. Aku terus berbicara dengan dia, dan setiap kata yang keluar dari bibirnya membuatku merasa bahwa aku telah menemukan sesuatu yang sangat berharga.
Dia berbicara tentang mimpinya, tentang apa yang dia inginkan dari hidup, dan tentang apa yang dia takutkan. Aku mendengarkan dengan saksama, dan aku merasa bahwa aku telah menemukan seseorang yang benar-benar memahami diriku. Aku merasa bahwa aku telah menemukan seorang teman, seorang sahabat, yang bisa aku percaya.
Kita terus berbicara, sampai aku menyadari bahwa aku telah merasa lapar. Aku melihat ke sekitar, dan aku melihat bahwa warung kopi telah tutup. Aku merasa kecewa, tapi dia tersenyum dan mengajak aku pergi ke rumahnya. Aku merasa ragu-ragu, tapi aku tidak bisa membantu diriku sendiri. Aku mengikuti dia, dan kita berjalan bersama menuju rumahnya.
Di rumahnya, dia membuatkan aku sarapan, dan kita terus berbicara. Aku merasa bahwa aku telah menemukan sesuatu yang sangat spesial, sesuatu yang bisa aku panggil sebagai persahabatan. Aku merasa bahwa aku telah menemukan seseorang yang benar-benar memahami diriku, dan aku merasa bahwa aku telah menemukan seorang teman yang bisa aku percaya.
Saat itu, aku menyadari bahwa skripsiku tidak lagi menjadi prioritas utama. Aku merasa bahwa aku telah menemukan sesuatu yang lebih penting daripada itu, sesuatu yang bisa aku panggil sebagai kebahagiaan. Aku merasa bahwa aku telah menemukan sesuatu yang bisa aku bawa ke mana-mana, sesuatu yang bisa aku simpan di hati.
Sekarang, aku duduk di sini, menulis cerita tentang persahabatan yang baru saja aku temukan. Aku merasa bahwa aku telah menemukan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang bisa aku panggil sebagai anugerah. Aku merasa bahwa aku telah menemukan seseorang yang benar-benar memahami diriku, dan aku merasa bahwa aku telah menemukan seorang teman yang bisa aku percaya. Dan saat itu, aku menyadari bahwa kopi pagi di kampus itu tidak hanya sekedar kopi, tapi sebuah awal dari persahabatan yang indah.
Aku memakai kacamata hitam untuk melindungi mataku dari sinar matahari yang mulai terlalu terang. Rambutku yang berantakan aku tahan dengan jepit rambut yang kusimpan di saku celana. Aku memandang ke sekitar, melihat beberapa mahasiswa yang lain mulai beraktivitas. Beberapa di antaranya berlari untuk tidak terlambat kuliah, sementara yang lain duduk bersama teman-teman mereka, berbagi cerita tentang malam sebelumnya.
Kupikirkan tentang skripsiku yang masih belum selesai. Aku telah menghabiskan berjam-jam untuk menulis dan merevisi, tapi masih ada beberapa bagian yang perlu diperbaiki. Aku merasa frustrasi, karena aku tahu bahwa aku harus menyelesaikannya sebelum deadline yang telah ditentukan.
Tiba-tiba, aku mendengar suara seseorang yang memanggil namaku. Aku menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang gadis dengan rambut panjang dan cantik, berjalan menuju ke arahku. Ia memakai kemeja putih dengan celana jeans yang pas di tubuhnya. Ia memiliki senyum yang indah dan mata yang berkilau.
'Hey, Riven,' katanya, saat ia mendekat. 'Apa kabar?' Aku terkejut oleh kedatangannya, karena aku tidak menyangka bahwa aku akan bertemu dengannya di pagi hari seperti ini.
'Aku baik-baik saja,' jawabku, mencoba untuk terlihat tenang. 'Bagaimana denganmu?' Ia duduk di sebelahku, dan kita berdua mulai berbicara tentang hal-hal yang tidak terlalu penting. Tapi, ada sesuatu yang berbeda tentang percakapan kita kali ini. Ada sesuatu yang membuatku merasa bahwa ini bukan hanya percakapan biasa.
Kita berdua terus berbicara, sampai aku menyadari bahwa aku telah lupa tentang skripsiku dan tentang deadline yang telah ditentukan. Aku merasa bahwa aku telah menemukan sesuatu yang lebih penting daripada itu semua. Tapi, aku tidak tahu apa itu, dan aku tidak tahu bagaimana cara menghadapinya.
Kita terus berbicara, dan aku menyadari bahwa waktu telah berlalu begitu cepat. Matahari telah naik tinggi di langit, dan bayangan pohon-pohon di kampus telah memanjang. Aku merasa bahwa aku telah meninggalkan skripsiku untuk waktu yang lama, tapi aku tidak bisa membantu diriku sendiri. Aku terus berbicara dengan dia, dan setiap kata yang keluar dari bibirnya membuatku merasa bahwa aku telah menemukan sesuatu yang sangat berharga.
Dia berbicara tentang mimpinya, tentang apa yang dia inginkan dari hidup, dan tentang apa yang dia takutkan. Aku mendengarkan dengan saksama, dan aku merasa bahwa aku telah menemukan seseorang yang benar-benar memahami diriku. Aku merasa bahwa aku telah menemukan seorang teman, seorang sahabat, yang bisa aku percaya.
Kita terus berbicara, sampai aku menyadari bahwa aku telah merasa lapar. Aku melihat ke sekitar, dan aku melihat bahwa warung kopi telah tutup. Aku merasa kecewa, tapi dia tersenyum dan mengajak aku pergi ke rumahnya. Aku merasa ragu-ragu, tapi aku tidak bisa membantu diriku sendiri. Aku mengikuti dia, dan kita berjalan bersama menuju rumahnya.
Di rumahnya, dia membuatkan aku sarapan, dan kita terus berbicara. Aku merasa bahwa aku telah menemukan sesuatu yang sangat spesial, sesuatu yang bisa aku panggil sebagai persahabatan. Aku merasa bahwa aku telah menemukan seseorang yang benar-benar memahami diriku, dan aku merasa bahwa aku telah menemukan seorang teman yang bisa aku percaya.
Saat itu, aku menyadari bahwa skripsiku tidak lagi menjadi prioritas utama. Aku merasa bahwa aku telah menemukan sesuatu yang lebih penting daripada itu, sesuatu yang bisa aku panggil sebagai kebahagiaan. Aku merasa bahwa aku telah menemukan sesuatu yang bisa aku bawa ke mana-mana, sesuatu yang bisa aku simpan di hati.
Sekarang, aku duduk di sini, menulis cerita tentang persahabatan yang baru saja aku temukan. Aku merasa bahwa aku telah menemukan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang bisa aku panggil sebagai anugerah. Aku merasa bahwa aku telah menemukan seseorang yang benar-benar memahami diriku, dan aku merasa bahwa aku telah menemukan seorang teman yang bisa aku percaya. Dan saat itu, aku menyadari bahwa kopi pagi di kampus itu tidak hanya sekedar kopi, tapi sebuah awal dari persahabatan yang indah.
💡 Pesan Moral:
Persahabatan adalah anugerah yang sangat berharga, dan kita harus selalu menghargai dan merawatnya.
Persahabatan adalah anugerah yang sangat berharga, dan kita harus selalu menghargai dan merawatnya.
