Senja di Antara Dinding Kampus

Senja di Antara Dinding Kampus
Matahari senja memancar melalui jendela kaca gedung perkuliahan, menciptakan bayangan panjang di atas lantai kayu yang telah usang. Aria, seorang mahasiswa jurusan sastra, duduk sendirian di bangku paling belakang, menghadap ke arah jendela. Ia memegang sebuah buku tebal berjudul 'Sejarah Sastra Dunia' dan membacanya dengan santai, seolah-olah mencari inspirasi dari halaman-halamannya. Di sampingnya, sebuah tas kanvas berwarna coklat muda tergeletak, dengan tali yang sudah mulai pudar di bagian bahu.

Aria memakai kacamata hitam dengan bingkai yang tipis, memberikan kesan yang elegan pada wajahnya. Rambutnya yang hitam dan panjang tergerai di atas bahu, menutupi sebagian wajahnya yang pucat. Ia mengenakan kaus putih dengan lengan panjang, yang sedikit terlipat di bagian pergelangan tangan. Sepasang sepatu boots hitam yang terlihat baru, menghiasi kaki panjangnya.

Tiba-tiba, pintu kelas terbuka, dan seorang pria tampan dengan rambut gelap dan mata yang biru muncul. Ia memakai jaket kulit hitam yang terlihat sangat trendy, dengan kaus putih di dalamnya. Celana jeans yang ketat dan sepatu boots coklat, melengkapi penampilannya yang sangat stylish. Aria tidak bisa tidak memperhatikan pria tersebut, yang berjalan dengan percaya diri menuju ke arahnya.

'Hey, aku Kael,' kata pria tersebut, dengan senyum yang lebar. 'Aku baru saja pindah ke kelas ini, dan aku tidak tahu siapa-siapa di sini.' Aria terkejut, tetapi ia tidak bisa tidak merasa tertarik dengan Kael. 'Aku Aria,' ia menjawab, dengan suara yang lembut. 'Selamat datang di kelas kita.'

Kael duduk di sebelah Aria, dan mereka berdua mulai berbicara tentang berbagai hal, dari sastra hingga musik. Aria merasa sangat nyaman dengan kehadiran Kael, dan ia tidak bisa tidak merasa bahwa ada sesuatu yang spesial tentang pria tersebut. Namun, ia juga tidak tahu bahwa Kael memiliki rahasia yang bisa mengubah segalanya.

Matahari senja semakin rendah, dan cahaya di dalam kelas menjadi semakin redup. Aria dan Kael terus berbicara, tidak menyadari bahwa waktu telah berlalu dengan cepat. Hingga akhirnya, mereka berdua menyadari bahwa kelas telah selesai, dan mereka harus segera meninggalkan ruangan.

'Sorry, aku harus pergi sekarang,' kata Kael, dengan senyum yang lebar. 'Tapi aku ingin bertemu denganmu lagi, Aria. Mungkin kita bisa bertemu di perpustakaan besok?' Aria merasa gembira, dan ia tidak bisa tidak merasa bahwa ada sesuatu yang spesial tentang Kael. 'Aku akan sangat senang,' ia menjawab, dengan suara yang lembut.

Aria dan Kael berpisah, dan Aria tidak bisa tidak merasa bahwa ada sesuatu yang baru dan menarik di dalam hidupnya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi ia yakin bahwa ia akan menemukan sesuatu yang sangat spesial dengan Kael. Dan dengan itu, Aria meninggalkan kelas, dengan hati yang penuh harapan dan semangat.

Aria berjalan keluar dari kelas, dengan langkah yang ringan dan hati yang penuh harapan. Ia tidak bisa tidak memikirkan senyum Kael dan cara ia membuatnya merasa spesial. Saat ia berjalan di koridor kampus, ia merasa seperti sedang berada di awan, dengan kaki yang tidak menyentuh tanah. Ia merasa bebas dan bahagia, seperti tidak ada yang bisa menghentikannya.

Hari-hari berikutnya, Aria dan Kael semakin dekat. Mereka sering bertemu di perpustakaan, berdiskusi tentang berbagai topik, dan berbagi cerita tentang hidup mereka. Aria merasa seperti telah menemukan sahabat sejati, seseorang yang bisa mengerti dan mendukungnya. Ia juga merasa seperti telah menemukan sesuatu yang lebih, sesuatu yang bisa membuatnya merasa spesial.

Suatu hari, saat mereka sedang duduk di taman kampus, Kael tiba-tiba mengambil tangan Aria. Ia merasa seperti terkejut, tapi juga merasa seperti itu adalah sesuatu yang alami. Ia tidak bisa tidak merasa bahwa ada sesuatu yang spesial tentang sentuhan Kael, sesuatu yang membuatnya merasa seperti sedang berada di rumah. 'Aku suka kamu, Aria,' Kael berkata, dengan suara yang lembut. 'Aku suka cara kamu membuatku merasa, aku suka cara kamu membuatku tertawa, dan aku suka cara kamu membuatku merasa spesial.'

Aria merasa seperti terkejut, tapi juga merasa seperti itu adalah sesuatu yang telah lama ia tunggu. Ia merasa seperti telah menemukan sesuatu yang sangat spesial, sesuatu yang bisa membuatnya merasa bahagia selamanya. 'Aku juga suka kamu, Kael,' ia berkata, dengan suara yang lembut. 'Aku suka cara kamu membuatku merasa, aku suka cara kamu membuatku tertawa, dan aku suka cara kamu membuatku merasa spesial.'

Mereka berdua duduk di taman kampus, dengan tangan yang masih tergenggam, dan hati yang penuh bahagia. Mereka merasa seperti telah menemukan sesuatu yang sangat spesial, sesuatu yang bisa membuat mereka merasa bahagia selamanya. Dan dengan itu, mereka berdua menyadari bahwa cinta bisa datang dari tempat yang tidak terduga, dan bahwa cinta bisa membuat hidup menjadi lebih indah.

Aria dan Kael akhirnya menyadari bahwa mereka telah menemukan cinta sejati, cinta yang bisa membuat mereka merasa bahagia dan spesial. Mereka merasa seperti telah menemukan rumah, rumah yang bisa membuat mereka merasa aman dan nyaman. Dan dengan itu, mereka berdua memutuskan untuk memulai hidup baru, hidup yang penuh cinta dan bahagia.

Tahun-tahun berikutnya, Aria dan Kael hidup bahagia bersama. Mereka menghadapi banyak tantangan, tapi mereka selalu bisa mengatasi semua itu bersama. Mereka merasa seperti telah menemukan sesuatu yang sangat spesial, sesuatu yang bisa membuat mereka merasa bahagia selamanya. Dan dengan itu, mereka berdua menyadari bahwa cinta sejati bisa membuat hidup menjadi lebih indah, dan bahwa cinta sejati bisa membuat hidup menjadi lebih bermakna.


💡 Pesan Moral:
Cinta sejati bisa membuat hidup menjadi lebih indah, dan cinta sejati bisa membuat hidup menjadi lebih bermakna. Cinta sejati bisa datang dari tempat yang tidak terduga, dan cinta sejati bisa membuat kita merasa bahagia dan spesial.

Blog Pemikir Cerdas sebagai media untuk berbagi informasi dan tutorial simple untuk dunia IT.

Comments

Masukan sahabat sangat berarti untuk perbaikan kedepannya.
EmoticonEmoticon