Malam itu, langit kampus terlihat begitu biru dengan bintang-bintang yang bersinar lembut. Aurora, seorang mahasiswi jurusan sastra, duduk sendirian di bangku taman kampus, memandang ke arah perpustakaan yang baru saja ditutup. Ia memegang sebuah buku tua yang barusan dipinjam, 'The Great Gatsby' karya F. Scott Fitzgerald, dengan sampul kulit yang sudah memudar. Aurora menghela napas, menikmati aroma kertas tua yang keluar dari buku itu. Saat ia membuka buku dan memulai membaca, sinar lampu taman mengenai halaman pertama, membuat kata-kata di dalamnya tampak seperti bersinar.
Aurora begitu terpesona dengan cerita tentang cinta dan kesepian yang dialami oleh Jay Gatsby. Ia merasa seperti sedang berjalan di sepanjang pantai Long Island, menikmati keindahan malam yang sunyi. Namun, ketika ia membaca tentang kesedihan dan kehilangan, ia tidak bisa tidak berpikir tentang kehidupannya sendiri. Ia memikirkan tentang bagaimana ia berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya, tentang bagaimana ia berusaha untuk membuat orang tuanya bangga.
Ketika Aurora sedang terbenam dalam pikirannya, ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Ia menoleh dan melihat seorang pemuda yang sedang mendekatinya. Pemuda itu memiliki rambut hitam yang acak-acakan dan mata coklat yang tajam. Ia mengenakan kemeja putih yang sedikit terbuka, menampilkan leher yang kuat. Aurora merasa sedikit terganggu, tetapi juga penasaran.
'Permisi,' kata pemuda itu, 'boleh aku duduk di sini?' Aurora mengangguk, dan pemuda itu duduk di sampingnya. Mereka berdua diam selama beberapa saat, menikmati keheningan malam. Lalu, pemuda itu memperkenalkan dirinya sebagai Elijah, seorang mahasiswa jurusan filsafat.
Mereka berdua mulai berbicara tentang buku, tentang filsafat, dan tentang kehidupan. Aurora merasa seperti telah menemukan seseorang yang benar-benar mengerti dirinya. Elijah juga terlihat begitu nyaman berbicara dengan Aurora, seperti telah menemukan teman lama.
Ketika malam semakin larut, Aurora dan Elijah memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kampus. Mereka berdua berjalan dengan perlahan, menikmati keindahan malam yang sunyi. Mereka berbicara tentang segala hal, dari musik hingga film, dari sastra hingga filsafat.
Aurora merasa seperti telah menemukan seseorang yang benar-benar spesial. Ia merasa seperti telah menemukan teman yang sejati, yang dapat memahami dirinya dengan baik.
Namun, ketika mereka berdua sedang berjalan, Aurora tidak bisa tidak berpikir tentang bagaimana ia harus kembali ke kehidupannya yang nyata. Ia harus kembali ke kehidupan yang penuh dengan tugas dan tanggung jawab. Ia harus kembali ke kehidupan yang tidak selalu seperti yang diinginkannya.
Aurora dan Elijah akhirnya berpisah, dengan janji untuk bertemu kembali esok hari. Aurora kembali ke kosannya, merasa sedikit lega dan sedikit sedih. Ia merasa lega karena telah menemukan seseorang yang spesial, tetapi juga merasa sedih karena harus kembali ke kehidupannya yang nyata.
Ketika Aurora tidur, ia tidak bisa tidak berpikir tentang Elijah dan tentang bagaimana ia harus menghadapi kehidupannya yang nyata. Ia merasa seperti sedang berada di antara dua dunia, dunia yang nyata dan dunia yang diinginkannya.
Aurora terbangun keesokan paginya dengan perasaan campur aduk. Ia merasa gembira karena akan bertemu Elijah lagi, tetapi juga merasa cemas tentang bagaimana ia harus menghadapi kehidupannya yang nyata. Ia memutuskan untuk menghabiskan pagi hari dengan membaca buku di taman, berharap udara segar dan pemandangan alam bisa membantu membersihkan pikirannya. Ketika ia membaca, ia tidak bisa tidak memikirkan Elijah dan bagaimana ia membuatnya merasa. Ia merasa seperti telah menemukan seseorang yang benar-benar mengerti dirinya. Setelah beberapa jam membaca, Aurora memutuskan untuk pergi ke kafe tempat ia janjian dengan Elijah. Ia tiba lebih awal dan memutuskan untuk menunggu Elijah di dalam kafe. Ketika Elijah tiba, ia terlihat lebih tampan dari yang Aurora ingat. Mereka berdua duduk dan mulai berbincang tentang kehidupan mereka. Aurora merasa sangat nyaman berbicara dengan Elijah, seperti mereka telah mengenal satu sama lain selama bertahun-tahun. Mereka berbincang tentang impian mereka, tentang kekhawatiran mereka, dan tentang apa yang mereka inginkan dari kehidupan. Setelah beberapa jam berbincang, Elijah mengajak Aurora untuk berjalan-jalan di sekitar kota. Mereka berjalan-jalan, menikmati pemandangan kota, dan terus berbincang. Aurora merasa seperti telah menemukan teman sejati, seseorang yang benar-benar memahami dirinya. Ketika matahari mulai terbenam, Elijah mengajak Aurora untuk duduk di atas bukit yang menghadap ke kota. Mereka duduk bersama, menikmati pemandangan senja, dan berbincang tentang kehidupan. Aurora merasa sangat bahagia, seperti ia telah menemukan apa yang ia cari selama ini. Elijah mengambil tangan Aurora dan memandangnya dengan mata yang penuh kasih sayang. 'Aurora, aku merasa seperti aku telah menemukan seseorang yang spesial,' kata Elijah. 'Aku juga merasa seperti itu,' jawab Aurora. Mereka berdua tersenyum, dan Aurora merasa seperti ia telah menemukan cinta sejatinya.
Pada akhirnya, Aurora menyadari bahwa kehidupan yang nyata tidak harus membosankan. Dengan Elijah di sampingnya, ia merasa seperti ia telah menemukan kehidupan yang sesungguhnya. Ia menyadari bahwa cinta dan persahabatan bisa membuat kehidupan menjadi lebih berwarna dan lebih bermakna. Ia juga menyadari bahwa kehidupan yang nyata bisa menjadi indah jika kita memiliki orang-orang yang tepat di samping kita.
Aurora dan Elijah hidup bahagia bersama, menikmati kehidupan yang penuh warna dan makna. Mereka berdua tahu bahwa kehidupan tidak selalu mudah, tetapi dengan cinta dan persahabatan, mereka bisa menghadapi apa pun yang datang dalam hidup mereka.
Aurora begitu terpesona dengan cerita tentang cinta dan kesepian yang dialami oleh Jay Gatsby. Ia merasa seperti sedang berjalan di sepanjang pantai Long Island, menikmati keindahan malam yang sunyi. Namun, ketika ia membaca tentang kesedihan dan kehilangan, ia tidak bisa tidak berpikir tentang kehidupannya sendiri. Ia memikirkan tentang bagaimana ia berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya, tentang bagaimana ia berusaha untuk membuat orang tuanya bangga.
Ketika Aurora sedang terbenam dalam pikirannya, ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Ia menoleh dan melihat seorang pemuda yang sedang mendekatinya. Pemuda itu memiliki rambut hitam yang acak-acakan dan mata coklat yang tajam. Ia mengenakan kemeja putih yang sedikit terbuka, menampilkan leher yang kuat. Aurora merasa sedikit terganggu, tetapi juga penasaran.
'Permisi,' kata pemuda itu, 'boleh aku duduk di sini?' Aurora mengangguk, dan pemuda itu duduk di sampingnya. Mereka berdua diam selama beberapa saat, menikmati keheningan malam. Lalu, pemuda itu memperkenalkan dirinya sebagai Elijah, seorang mahasiswa jurusan filsafat.
Mereka berdua mulai berbicara tentang buku, tentang filsafat, dan tentang kehidupan. Aurora merasa seperti telah menemukan seseorang yang benar-benar mengerti dirinya. Elijah juga terlihat begitu nyaman berbicara dengan Aurora, seperti telah menemukan teman lama.
Ketika malam semakin larut, Aurora dan Elijah memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kampus. Mereka berdua berjalan dengan perlahan, menikmati keindahan malam yang sunyi. Mereka berbicara tentang segala hal, dari musik hingga film, dari sastra hingga filsafat.
Aurora merasa seperti telah menemukan seseorang yang benar-benar spesial. Ia merasa seperti telah menemukan teman yang sejati, yang dapat memahami dirinya dengan baik.
Namun, ketika mereka berdua sedang berjalan, Aurora tidak bisa tidak berpikir tentang bagaimana ia harus kembali ke kehidupannya yang nyata. Ia harus kembali ke kehidupan yang penuh dengan tugas dan tanggung jawab. Ia harus kembali ke kehidupan yang tidak selalu seperti yang diinginkannya.
Aurora dan Elijah akhirnya berpisah, dengan janji untuk bertemu kembali esok hari. Aurora kembali ke kosannya, merasa sedikit lega dan sedikit sedih. Ia merasa lega karena telah menemukan seseorang yang spesial, tetapi juga merasa sedih karena harus kembali ke kehidupannya yang nyata.
Ketika Aurora tidur, ia tidak bisa tidak berpikir tentang Elijah dan tentang bagaimana ia harus menghadapi kehidupannya yang nyata. Ia merasa seperti sedang berada di antara dua dunia, dunia yang nyata dan dunia yang diinginkannya.
Aurora terbangun keesokan paginya dengan perasaan campur aduk. Ia merasa gembira karena akan bertemu Elijah lagi, tetapi juga merasa cemas tentang bagaimana ia harus menghadapi kehidupannya yang nyata. Ia memutuskan untuk menghabiskan pagi hari dengan membaca buku di taman, berharap udara segar dan pemandangan alam bisa membantu membersihkan pikirannya. Ketika ia membaca, ia tidak bisa tidak memikirkan Elijah dan bagaimana ia membuatnya merasa. Ia merasa seperti telah menemukan seseorang yang benar-benar mengerti dirinya. Setelah beberapa jam membaca, Aurora memutuskan untuk pergi ke kafe tempat ia janjian dengan Elijah. Ia tiba lebih awal dan memutuskan untuk menunggu Elijah di dalam kafe. Ketika Elijah tiba, ia terlihat lebih tampan dari yang Aurora ingat. Mereka berdua duduk dan mulai berbincang tentang kehidupan mereka. Aurora merasa sangat nyaman berbicara dengan Elijah, seperti mereka telah mengenal satu sama lain selama bertahun-tahun. Mereka berbincang tentang impian mereka, tentang kekhawatiran mereka, dan tentang apa yang mereka inginkan dari kehidupan. Setelah beberapa jam berbincang, Elijah mengajak Aurora untuk berjalan-jalan di sekitar kota. Mereka berjalan-jalan, menikmati pemandangan kota, dan terus berbincang. Aurora merasa seperti telah menemukan teman sejati, seseorang yang benar-benar memahami dirinya. Ketika matahari mulai terbenam, Elijah mengajak Aurora untuk duduk di atas bukit yang menghadap ke kota. Mereka duduk bersama, menikmati pemandangan senja, dan berbincang tentang kehidupan. Aurora merasa sangat bahagia, seperti ia telah menemukan apa yang ia cari selama ini. Elijah mengambil tangan Aurora dan memandangnya dengan mata yang penuh kasih sayang. 'Aurora, aku merasa seperti aku telah menemukan seseorang yang spesial,' kata Elijah. 'Aku juga merasa seperti itu,' jawab Aurora. Mereka berdua tersenyum, dan Aurora merasa seperti ia telah menemukan cinta sejatinya.
Pada akhirnya, Aurora menyadari bahwa kehidupan yang nyata tidak harus membosankan. Dengan Elijah di sampingnya, ia merasa seperti ia telah menemukan kehidupan yang sesungguhnya. Ia menyadari bahwa cinta dan persahabatan bisa membuat kehidupan menjadi lebih berwarna dan lebih bermakna. Ia juga menyadari bahwa kehidupan yang nyata bisa menjadi indah jika kita memiliki orang-orang yang tepat di samping kita.
Aurora dan Elijah hidup bahagia bersama, menikmati kehidupan yang penuh warna dan makna. Mereka berdua tahu bahwa kehidupan tidak selalu mudah, tetapi dengan cinta dan persahabatan, mereka bisa menghadapi apa pun yang datang dalam hidup mereka.
💡 Pesan Moral:
Cinta dan persahabatan bisa membuat kehidupan menjadi lebih berwarna dan lebih bermakna, dan dengan orang-orang yang tepat di samping kita, kehidupan yang nyata bisa menjadi indah.
Cinta dan persahabatan bisa membuat kehidupan menjadi lebih berwarna dan lebih bermakna, dan dengan orang-orang yang tepat di samping kita, kehidupan yang nyata bisa menjadi indah.
