Senja di Antara Lembaran Skripsi

Senja di Antara Lembaran Skripsi
Aurora mengeratkan tali tas kanvasnya yang sudah mulai pudar warnanya di bagian bahu, sambil memandang senja yang membasuh kampus dengan warna merah keemasan. Ia berjalan menuju perpustakaan, tempat yang sudah menjadi seperti rumah keduanya selama beberapa bulan terakhir. Suara kursi kayu yang berderak dan aroma kopi saset yang memenuhi udara membuatnya merasa nyaman. Aurora duduk di meja yang sudah menjadi favoritnya, dan mulai membuka laptopnya untuk mengerjakan skripsi yang sudah terlambat beberapa minggu. Ia merasa frustrasi karena tidak bisa menemukan inspirasi yang tepat untuk menyelesaikan bab terakhir. Sementara itu, di sebelahnya, ada seorang mahasiswa yang sedang membaca buku dengan sangat serius. Aurora tidak bisa tidak memperhatikan cowok tersebut, yang memiliki rambut hitam yang tebal dan mata coklat yang dalam. Ia merasa penasaran, dan secara tidak sengaja, mereka bertemu pandang. Cowok tersebut tersenyum, dan Aurora merasa hatinya berdegup kencang. Mereka berdua mulai berbicara, dan Aurora mengetahui bahwa namanya adalah Kaidën. Mereka berdua memiliki kesamaan minat, yaitu sastra dan filsafat. Mereka berbicara tentang buku-buku yang sudah mereka baca, dan Aurora merasa sangat nyaman berbicara dengan Kaidën. Waktu terasa berlalu sangat cepat, dan sebelum mereka menyadari, perpustakaan sudah tutup. Kaidën mengajak Aurora untuk berjalan-jalan di sekitar kampus, dan mereka berdua menikmati senja yang masih membasuh kampus dengan warna merah keemasan. Mereka berbicara tentang banyak hal, dari impian masa depan hingga kesulitan yang mereka hadapi selama kuliah. Aurora merasa sangat terhubung dengan Kaidën, dan ia tidak bisa tidak merasa bahwa ia sudah menemukan seseorang yang spesial. Namun, ia juga merasa takut, karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Ia hanya tahu bahwa ia ingin menikmati waktu yang ia memiliki dengan Kaidën, dan melihat kemana hubungan mereka akan berakhir. Sementara itu, skripsi Aurora masih belum selesai, dan ia tahu bahwa ia harus segera menyelesaikannya. Ia merasa frustrasi, karena ia tidak tahu bagaimana ia bisa menyelesaikan skripsi yang sudah terlambat, sambil juga menikmati waktu dengan Kaidën. Ia hanya tahu bahwa ia harus terus berusaha, dan berharap bahwa ia bisa menemukan jalan yang tepat untuk menyelesaikan skripsi dan menikmati hubungan yang baru dengan Kaidën.

Aurora memandang lembaran skripsinya yang masih Kosong, dengan rasa putus asa yang semakin dalam. Ia merasa seperti terjebak dalam labirin yang tidak ada ujungnya, tidak tahu harus bergerak ke mana untuk menemukan jalan keluar. Kaidën, yang seharusnya menjadi sumber inspirasi dan kebahagiaan, malah membuatnya semakin bingung. Ia tidak tahu bagaimana cara menyeimbangkan antara cinta dan tanggung jawab akademisnya. Ketika Kaidën menghubunginya dan mengajaknya untuk bertemu, Aurora merasa ragu. Sebagian dari dirinya ingin melupakan skripsi dan menikmati waktu bersama Kaidën, tapi sebagian lainnya khawatir bahwa ia akan semakin tertinggal dan gagal menyelesaikan skripsinya. Ia memutuskan untuk menerima ajakan Kaidën, dengan harapan bahwa bertemu dengannya akan memberinya inspirasi dan motivasi untuk menyelesaikan skripsinya.

Mereka bertemu di sebuah kafe kecil di dekat kampus, dan Aurora langsung terpesona oleh senyum Kaidën. Mereka berbincang tentang hal-hal yang tidak penting, seperti film favorit mereka dan makanan yang mereka sukai. Aurora merasa seperti ia bisa melupakan semua masalahnya dan hanya menikmati saat-saat bersama Kaidën. Tapi ketika Kaidën bertanya tentang skripsinya, Aurora kembali merasa frustrasi. Ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan perasaannya yang campur aduk, dan ia Khawatir bahwa Kaidën akan merasa bosan dan tidak mengerti.

Kaidën, bagaimanapun, tidak seperti yang Aurora bayangkan. Ia mendengarkan dengan sabar dan memberikan dukungan yang Aurora butuhkan. Ia mengingatkan Aurora bahwa skripsi bukanlah satu-satunya hal yang penting dalam hidup, dan bahwa ia memiliki waktu dan kemampuan untuk menyelesaikannya. Ia juga menawarkan untuk membantu Aurora dengan skripsinya, dan Aurora merasa seperti ia telah menemukan teman sejati. Dengan bantuan Kaidën, Aurora mulai merasa lebih percaya diri dan lebih fokus pada skripsinya. Ia menyadari bahwa ia tidak sendirian, dan bahwa ia memiliki seseorang yang peduli dan mau membantunya.

Beberapa minggu kemudian, Aurora akhirnya menyelesaikan skripsinya. Ia merasa lega dan bangga dengan dirinya sendiri, karena ia telah berhasil menyelesaikan sesuatu yang tampaknya mustahil. Kaidën hadir di sampingnya, memeluknya dan mengucapkan selamat. Aurora tahu bahwa ia tidak bisa melakukan semua itu tanpa bantuan Kaidën, dan ia merasa bersyukur untuk memiliki orang seperti itu dalam hidupnya. Mereka berdua memandang matahari terbenam, yang memberikan warna senja yang indah pada langit. Aurora tahu bahwa ia telah menemukan sesuatu yang lebih berharga dari skripsi atau gelar akademis - ia telah menemukan cinta dan persahabatan yang sejati.

Dalam senja yang hangat itu, Aurora merasa seperti ia telah menemukan tempatnya di dunia. Ia tahu bahwa ia masih memiliki banyak hal yang harus dilakukan, tapi ia tidak lagi merasa takut atau sendirian. Ia memiliki Kaidën, dan ia memiliki dirinya sendiri. Ia tahu bahwa ia bisa menghadapi apa pun yang datang, selama ia memiliki cinta dan dukungan dari orang-orang yang ia cintai.


💡 Pesan Moral:
Cinta dan persahabatan dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi untuk menghadapi tantangan hidup, dan memiliki orang yang peduli dan mau membantu dapat membuat perbedaan besar dalam mencapai tujuan

Blog Pemikir Cerdas sebagai media untuk berbagi informasi dan tutorial simple untuk dunia IT.

Comments

Masukan sahabat sangat berarti untuk perbaikan kedepannya.
EmoticonEmoticon